Infak mudah melalui infak.in

Edukasi

Temukan berbagai konten edukatif untuk menambah wawasan Anda

Siti Manggopoh, Singa Betina Minangkabau yang Membuktikan Kemerdekaan adalah Hak Semua Anak Bangsa

KANTOR PUSAT, 11 Agustus 2026

Siti Manggopoh, Singa Betina Minangkabau yang Membuktikan Kemerdekaan adalah Hak Semua Anak Bangsa

Bagi sebagian besar orang, pahlawan kemerdekaan perempuan yang dikenal mungkin hanyalah sebatas R.A. Kartini dan Cut Nyak Dien. Namun, tahukah kamu bahwa pahlawan kemerdekaan perempuan jauh lebih banyak dari itu? Salah satunya adalah sosok perempuan hebat dari tanah Sumatra yang dijuluki “Singa Betina dari Minangkabau”, Siti Manggopoh.

Nama Siti Manggopoh mulai dikenal sejak partisipasinya yang penuh berani atas Perang Manggopoh pada 1908. Berasal dari Nagari Manggopoh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, beliau adalah tokoh penting dalam perlawanan masyarakat Minangkabau terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pada periode tersebut, salah satu semangat yang beliau bawa adalah semangat perlawanan terhadap kebijakan belasting, yaitu pajak yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda dan dianggap sangat membebani masyarakat. Perlawanan tersebut kemudian dikenal sebagai Perang Manggopoh dan menjadi salah satu bentuk perjuangan rakyat Minangkabau melawan penjajahan.

Di sisi lain, jika dilihat dari latar belakang keluarganya, Siti Manggopoh adalah seorang perempuan yang tumbuh di lingkungan masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai adat, keberanian, dan tanggung jawab terhadap komunitas. Oleh karena itu, tidak heran di masa pemerintah kolonial Belanda, keberaniannya dalam membela masyarakat dalam memperjuangkan keadilan begitu besar.


Perjuangan Siti Manggopoh dalam Perspektif Islam


Dalam perspektif Islam, keberanian membela kebenaran dan melindungi masyarakat merupakan akhlak yang mulia. Sementara itu, jika dilihat dari perspektif kesetaraan yang netral, Siti Manggopoh menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki kemampuan memimpin, mengambil keputusan, dan berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat. Bukannya bertentangan, nilai-nilai tersebut justru mengajarkan nilai Islam penting berupa tanggung jawab, keberanian, dan pengabdian kepada sesama. 

Dalam nuansa Agustusan, kisah ini bukan sekadar mengajarkan, melainkan juga memotivasi sesama, khususnya generasi muda untuk berani melawan ketidakadilan, menumbuhkan kepedulian, dan rela berkorban demi kemaslahatan bersama. Semangat yang diwariskan oleh Siti Manggopoh kepada kita. Beliau mengajarkan bahwa cinta kepada bangsa diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Hari ini, perjuangan itu dapat kita lanjutkan dengan memperkuat persatuan, menebar manfaat, membela kaum yang lemah, dan menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya warisan para pahlawan, tetapi amanah yang harus terus dijaga oleh setiap generasi bangsa.



(Sumber: UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta – *Siti Manggopoh, Sang Singa Betina dari Minangkabau*. Diakses Juli 2026. (Perpusnas), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) – Informasi mengenai sejarah dan literasi kebangsaan. (Perpusnas), dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Direktorat Jenderal Kebudayaan – Referensi sejarah perjuangan tokoh bangsa)


Edukasi Per Wilayah

Jenis Edukasi