Edukasi
Temukan berbagai konten edukatif untuk menambah wawasan Anda
KANTOR PUSAT, 31 Agustus 2026
Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi, M.Pd.I.
Pembina Surabaya Hijrah (KAHF)
Islam telah memberikan banyak panduan tentang kehidupan pernikahan, mulai dari rukun nikah hingga cara membangun keluarga yang penuh ketenangan dan kasih sayang. Namun, dalam perjalanan berumah tangga, perbedaan antara suami dan istri hampir tidak bisa dihindari.
Laki-laki dan perempuan memiliki karakter, cara berpikir, perasaan, serta cara menghadapi masalah yang berbeda. Karena itu, yang niscaya dalam pernikahan sebenarnya adalah perbedaan, bukan konflik. Konflik muncul ketika perbedaan tersebut tidak dipahami dan dikelola dengan baik.
Bahkan, doa yang dianjurkan bagi pasangan pengantin, “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair,” mengandung harapan agar keberkahan senantiasa menyertai kehidupan rumah tangga, termasuk ketika pasangan menghadapi situasi sulit.
Beberapa persoalan seperti komunikasi yang buruk, masalah keuangan, perbedaan pola pengasuhan, ego, campur tangan keluarga, hingga perselingkuhan dapat menjadi pemicu konflik. Namun, Islam juga mengajarkan berbagai cara untuk menghadapinya.
Lantas, bagaimana cara mengelola perbedaan dalam rumah tangga?
1. Bersiap menerima perbedaan
Berdasarkan tafsir Surah Al-Baqarah: 32 yang dilakukan oleh Imam Fakhrurazi, “Semakin banyak yang engkau pahami, semakin bijaksanalah engkau dalam bersikap” Laki-laki dan perempuan punya cara yang berbeda, bahkan dalam mencintai. Karenanya, jangan buru-buru menganggap perbedaan sebagai kekurangan pasangan. Kenali karakter dan cara berpikir masing-masing agar perbedaan dapat dipahami dengan lebih bijak.
2. Cerdas melihat masalah
Saat memandang masalah, pahamilah dulu karakter pasanganmu. Terkadang, pasangan lebih butuh didengarkan, bukan langsung diberi solusi. Lalu, lihatlah masalah secara holistic. Caranya, dengan tidak berhenti komunikasi dan proaktif menjadi subjek bukan objek masalah.
Memahami, mengerti, dan melakukan agar adanya masalah terselesaikan dengan dinamis. Menghadapi dengan proses dan proses, seperti menyusun rubik yang setiap sisi harus diputar dengan cerdas agar tercipta keserasian.
3. Bersiap menghadapi tekanan
Setiap keluarga memiliki tantangan. Ketika tekanan datang, berikan ruang bagi pasangan untuk menghadapi masalah dengan caranya masing-masing. Setelah suasana lebih tenang, bicarakan persoalan dan cari jalan keluar bersama.
Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang mencari pasangan yang selalu sama dengan kita, tetapi belajar memahami seseorang yang memiliki banyak perbedaan. Ketika perbedaan dikelola dengan komunikasi, kesabaran, dan mengikuti tuntunan Allah, ia tidak harus berujung menjadi konflik.
KANTOR PUSAT, 31 August 2026
Oleh Ustaz Heru Kusumahadi Pembina Surabaya H...
KANTOR PUSAT, 31 August 2026
Oleh:Ustaz Dr. Ahmad Jalaluddin, Lc., MA. Dos...
KANTOR PUSAT, 31 August 2026
Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi, M.Pd.I.Pembina Suraba...
KANTOR PUSAT, 20 August 2026
Pecinta sejarah, khususnya penikmat sastra Yunani...