Edukasi
Temukan berbagai konten edukatif untuk menambah wawasan Anda
KANTOR PUSAT, 31 Agustus 2026
Oleh Ustaz Heru Kusumahadi
Pembina Surabaya Hijrah (KAHF)
Pada sebuah kajian, ada lontaran pertanyaan, “Kalau ada pilihan, mau sakit fisik atau sakit hati, Bapak, Ibu, pilih mana?”
Para jamaah pun heboh berkomentar. Seperti, “Pilihannya kok tidak enak semua?” atau “Ya kalau gitu, gak pilih dua-duanya,” Sekilas, mungkin pertanyaan tadi memang tidak memberikan pilihan yang menyenangkan. Namun, perlu diketahui bahwa setiap ketidaknyamanan kehidupan, Allah SWT. masih tetap mengaruniakan kesempatan baik di dalamnya dalam bentuk petunjuk. Baru setelahnya, tinggal kita mau atau tidak mengambil petunjuk itu. Sebagaimana kisah Nabi Adam as. yang termaktub dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 36–38.
Dalam surah tersebut, diterangkan bahwa Nabi Adam as. pernah melakukan kekhilafan dengan melanggar perintah, yaitu mendekati sekaligus memetik buah dari pohon yang dilarang oleh Allah SWT. Karena pelanggarannya sangat berat, Allah SWT. pun memberikan konsekuensi dengan menurunkan Nabi Adam as. dari surga.
Saat dikeluarkan dari surga, Nabi Adam as. menerima banyak cobaan dari Allah SWT., mulai dari dipisahkan dari Hawa hingga mendapati kesulitan hidup dalam berkeluarga. Namun, sekalipun Nabi Adam as. hidup dalam kondisi yang tidak nyaman beratus-ratus tahun lamanya, ia tetap bertahan dengan terus berikhtiar mengikuti petunjuk Allah SWT. Dan dari perilaku tersebut, kemudian kita bersama mendapatkan wasilah dua janji Allah SWT. Pertama, Fala khaufun yang berarti ‘jangan takut, jangan khawatir, dan jangan cemas’. Kedua, Wala hum yahzanun yang berarti ‘jangan gundah, jangan lara, ataupun jangan merana’ (Q.S. Al-Baqarah: 38). Kedua wasilah tersebut membahas tentang tenang dan senang. Di mana, diksi tenang disebutkan lebih dulu daripada senang. Kenapa demikian?
Mari mempelajarinya dengan sebuah analogi.
Saat kita sedang berbelanja, lalu menjumpai kalimat promosi, yang paling sering terpampang adalah tulisan DP 0%, angsuran ringan, dan proses cepat. Tentu, iklan ini sangat memikat dan membuat orang senang karena mudah mendapatkan barang yang diinginkan. Namun, apakah benar setelah mendapatkan kesenangan tersebut kita akan tenang?
Jawaban kebanyakannya adalah tidak. Dalam kehidupan, hal-hal yang diawali dengan senang tidak pernah bisa dipastikan menghasilkan ketenangan hidup. Sebab, secara konseptual, senang dan tenang adalah dua hal yang berbeda, tetapi bisa saling memengaruhi berdasarkan urutannya.
Saat kesenangan didahulukan, kita akan kesulitan mendapatkan ketenangan. Sebab, kesenangan cenderung pada perasaan sesaat yang mudah hilang. Berbeda ketika kita mendahulukan ketenangan. Contohnya, saat kita melaksanakan aturan Islam.
Sering kita hadapi, menjalankan syariat Islam terasa berat, membosankan, dan menyita waktu. Namun, sesaat setelah kita melakukannya, kita akan tenang, lebih mudah tertawa, bahagia, girang, dan bersuka ria. Bagaimana bisa demikian?
Hal ini tidak lain karena secara tidak sadar kita sedang meminta ketenangan sekaligus kesenangan dari Pencipta kita, yaitu Allah SWT. Sebagaimana pula yang termaktub dalam Al-Qur’an: “Allah lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah...” (QS. Al Fath (48:4).
Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa ketenangan adalah hal utama yang harus kita ikhtiarkan untuk mencapai kesenangan. Sebab, dari ketenanganlah kita bisa melihat keindahan dan keberkahan. Wallahu a’alam.
KANTOR PUSAT, 31 August 2026
Oleh Ustaz Heru Kusumahadi Pembina Surabaya H...
KANTOR PUSAT, 31 August 2026
Oleh:Ustaz Dr. Ahmad Jalaluddin, Lc., MA. Dos...
KANTOR PUSAT, 31 August 2026
Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi, M.Pd.I.Pembina Suraba...
KANTOR PUSAT, 20 August 2026
Pecinta sejarah, khususnya penikmat sastra Yunani...