Infak mudah melalui infak.in

Edukasi

Temukan berbagai konten edukatif untuk menambah wawasan Anda

Pentingnya Mengenalkan Tuhan kepada Anak

KANTOR PUSAT, 22 Juli 2026

Pentingnya Mengenalkan Tuhan kepada Anak

Oleh: Sinta Yudisia

Penulis, Pengamat Budaya Pop Culture, dan Praktisi Parenting



Sebagian besar orang dewasa cenderung berpikir anak yang suka memukul temannya, berbohong, dan sulit diatur adalah anak nakal. Namun, pernakahkan kita, orang dewasa ini, berpikir, apakah benar anak-anak itu nakal? Atau sebenarnya mereka hanya belum tahu mana yang baik dan mana yang benar?


Bagi anak, dunia tidak dipandang sama kompleksnya seperti orang dewasa. Dalam benak mereka, dunia hanyalah tempat bermain dan belajar. Mereka bermain dengan apapun yang ada di sekitarnya. Orang-orangnya, lingkungannya. Di sisi lain, mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan contohkan oleh orang-orang di sekitarnya setiap hari. Oleh karena itu, sebagai orang dewasa, terburu-buru melabeli mereka sebagai “anak nakal” mungkin bisa disisihkan dahulu. Sebab, yang paling penting adalah memastikan mereka memiliki arah agar dapat membedakan yang benar dan yang salah. Dan arah tersebut dapat dimulai dengan memperkenalkan mereka kepada Tuhannya.


Tuhan adalah konsep yang abstrak bagi anak-anak. Mereka yang masih dalam proses mencari pengetahuan dan pengalaman belum terlalu memahami bagaimana memaknai Tuhan dan peran-Nya dalam kehidupan. Maka dari itu, inilah tugas kita sebagai orang dewasa. Namun, bagaimanakah caranya?


Mengenalkan Tuhan bukan sebagai ketakutan, melainkan kelembutan dan Maha Penyayang


Dalam satu riwayat diceritakan, Rasulullah pernah ditegur oleh Allah SWT karena mengingatkan para sahabat yang sedang tertawa menggunakan ancaman neraka yang mengerikan. Allah berfirman, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49)


Dalam firman tersebut, jelas ditunjukkan kepada kita bahwa menggunakan ancaman untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak tidaklah dianjurkan. Sebaliknya, Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memperkenalkan Dia sebagai sosok Yang Mahalembut, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.


Maka dari itu, mulailah mengubah perkataan, “Allah tahu loh, kalau kamu memukul adik. Allah bisa balas dengan lebih keras perilaku kamu yang menyakiti adik,” menjadi “Allah Maha Penyayang, ya. Coba lihat sekeliling kita, kamu punya banyak mainan dan makanan enak. Nanti, kamu juga akan makin banyak dapat rezeki kalau kamu sayang sama adik. Gimana? Mau gak disayang Allah?”


Dengan begitu, anak tidak lagi menganggap Tuhan sebagai ketakutan, melainkan sebagai sosok pengasih yang harus dicontoh dan diteladani agar bisa mencapai kedamaian.


Ajak anak bercerita kisah-kisah berhikmah dan berikan contoh nyatanya


Selain kerap menyinggung Tuhan dalam pembicaraan kebaikan dan kasih sayang, kita juga bisa mengenalkan Tuhan dengan memberikan kisah-kisah inspiratif disertai contoh nyata. Seperti misalnya, orang tua dapat berbagi kisah pengalaman masa lalu yang menggambarkan keberadaan Tuhan ketika mereka menghadapi kesusahan.


“Dulu ketika Bunda miskin, Bunda selalu takut dan malu ke teman-teman. Karena selain susah buat jajan, Bunda dulu bahkan hampir tidak punya baju baru untuk lebaran karena nenek gak punya uang. Tapi, Bunda gak pernah putus asa. Bunda terus berdoa karena Bunda yakin, Allah akan mengabulkan doa-doa Bunda. Apa Kakak tahu apa yang terjadi kemudian? Tiba-tiba saudara Bunda ada yang mengabarkan mau pindah ke luar negeri. Karena pindah, akhirnya baju-baju yang dia punya dibagi-bagikan soalnya gak semua bisa dibawa. Nah, dari situlah, akhirnya Bunda dapat satu pakaian yang emang sudah lamaaa banget Bunda pengen,”


Dari contoh tersebut, kita bisa memancing rasa ingin tahu anak sekaligus menyalakan gairahnya untuk banyak belajar dan banyak bertanya. Jangan lupa juga untuk senantiasa menyisipkan ucapan-ucapan syukur, seperti Alhamdulillah, Maa Syaa Allah, dan Allahu Akbar.


Setelah gairah belajarnya muncul, kita bisa melanjutkan stimulasi perkenalan tersebut dengan memberikan contoh-contoh kebaikan Tuhan yang nyata. Seperti contohnya menstimulasi rasa kagum anak-anak ketika melihat pesawat terbang.



“Wah, hebat ya, Kak, manusia bisa buat pesawat sebesar itu. Mirip sekali, kan, kaya burung yang melayang di udara? Kamu tau gak, sebenernya, pesawat itu diciptakan karena keinginan manusia supaya bisa terbang. Karena itulah, para ilmuwan menciptakan pesawat dengan meniru bentuknya burung. Akhirnya, sekarang kita bisa terbang kaya burung, deh. Nah, itu kan pesawat, sekarang kalo burung, Kakak tau gak siapa yang menciptakan?”


Dari contoh seperti itu, stimulasi pengenalan Tuhan kepada anak akan semakin kuat. Selain itu, kita juga tidak boleh lelah mengulang-ulang pengajaran tentang Tuhan kepada anak. Berkali-kali dan dimodifikasi. Dengan demikian, anak akan semakin paham tentang nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Tidak hanya itu, pengajaran yang terus diulang-ulang juga bisa mengendapkan nilai moral yang baik dalam sanubari anak-anak kita.



Edukasi Per Wilayah

Jenis Edukasi