Infak mudah melalui infak.in

Edukasi

Temukan berbagai konten edukatif untuk menambah wawasan Anda

Menjawab Pertanyaan: Apakah Penyebaran Islam di Nusantara Hanya Lewat Kesenian Wayang?

KANTOR PUSAT, 31 Juli 2026

Menjawab Pertanyaan:   Apakah Penyebaran Islam di Nusantara Hanya Lewat Kesenian Wayang?


Sebagian besar orang mungkin mengira bahwa proses masuknya Islam ke Nusantara banyak dibawa melalui berbagai kesenian, seperti lagu dan pementasan wayang. Padahal, penyebaran Islam di Nusantara hadir jauh lebih dalam daripada itu dan tidak melulu pada kesenian praktis saja. Untuk mengetahuinya, mari kita bahas dari periode puncak kejayaan Mataram Islam saat dipimpin oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma.


Nama yang mungkin tidak asing di telinga, tetapi tidak begitu diketahui perannya selain sebagai penguasa. Ya, raja ketiga Mataram yang lahir pada 1593 ini adalah seorang raja yang memiliki banyak gelar kehormatan. Bagaimana tidak, raja yang pada awal pemerintahannya mendapatkan gelar Prabu Pandita Hanyakrakusuma ini berhasil menaklukkan berbagai daerah sebagai upaya penyebarluasan Islam di Nusantara. Mulai dari Madura hingga ke Saudi Arabia turut menyumbangkan gelar kepadanya.


Sebagai seorang raja yang berbudi luhur, Islam di Nusantara tidak hanya diperkenalkan melalui kesenian, tetapi juga akhlak dan aturan. Salah satunya yang dilakukan oleh Sultan Agung dengan membuat karya sastra berisi ajaran dan pedoman akhlak bagi trah Raja Mataram selanjutnya. Sastra yang diberi nama Sastra Gending ini memiliki beberapa konsep ajaran Islam yang nantinya diturunkan kepada trah Raja Mataram. Beberapa di antaranya:


1. Konsep Hanacaraka

Berbeda dengan yang diajarkan di sekolah, konsep hanacaraka ini bukan sekadar konsep aksara biasa. Di sini, terdapat 4 bait utama yang masing-masing memiliki makna mendalam terkait ajaran Islam. Seperti bait pertamanya yang berbunyi Hanacaraka memiliki arti ‘Ada seorang utusan (manusia sebagai khalifah di bumi) yang ditugaskan memberi pujian kepada pencipta semesta alam.’ Lalu, bait keduanya, Datasawala memiliki arti ‘Ada zat penerima pujian dari manusia dan makhluk yang hidup di alam semesta’. Kedua hubungan tersebut kemudian membentuk konsep pada bait ketiga, yaitu Padhajayanya yang berarti ‘Sama-sama tegas prinsipnya’. Setelah itu, ketiga konsep ini ditutup dengan bait keempat, Magabathanga, yang berarti ‘Segala Pujian yang dilantunkan makhluk untuk zat Mahaagung tidak berhenti di lidah, tapi masuk ke dasar hati’.


2. Sangkan Paraning Dumadi

Konsep kedua yang diajarkan adalah Sangkan paraning dumadi. Konsep ini berarti bahwa kita sebagai makhluk ciptaan Allah akan kembali juga kepada Allah. Dari kata sangkan yang berarti ‘asal usul’, paraning yang berarti ‘tujuan’, dan dumadi yang berarti ‘kejadian asal’. Konsep ini sedang mengajarkan kita bahwa kehidupan dunia tidak kekal. Manusia adalah keberadaan yang fana dan kehidupan dunia adalah awalan (alam purwa), Kekekalan hanya akan diapatkan kelak pada akhirnya di alam wusana (setelah kematian). Oleh karena itu, dalam sastra ini berisi juga nasihat-nasihat agar manusia tidak sombong, apalagi merasa berkuasa seolah-olah hidupnya akan kekal selamanya.


3. Mamayu Hayuning Buwana

Setelah kedua ajaran di atas mengajarkan kita untuk rendah hati dan tawaduk kepada Allah, ajaran kali ini berisi tentang perintah agar keberadaan kita di dunia bisa mempercantik keindahan dunia. Dalam ajaran Mamayu Hayuning Buwana, kita sebagai manusia memiliki tugas untuk membuat dunia menjadi lebih indah dengan berbuat kebajikan kepada manusia, alam, dan Tuhan. Salah satu upayanya adalah menahan hawa nafsu yang merusak persaudaraan, pertemanan, dan lingkungan. 



(Sumber: Artikel berjudul “Sultan Agung Hanyakrakusuma” dalam Majalah Zakato Edisi Januari 2020)


Edukasi Per Wilayah

Jenis Edukasi