Infak mudah melalui infak.in

Berita penyaluran

Kepedulianmu kebahagian mereka

Sekolah Tempat Belajar, Rumah Tempat Bertumbuh

KANTOR PUSAT, 24 September 2026

Sekolah Tempat Belajar, Rumah Tempat Bertumbuh


Oleh: Citra Widuri

Direktur Pelaksana Laznas LMI


Seorang manusia dinilai kompeten jika memiliki tiga dimensi, yaitu keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Namun, dari ketiga dimensi ini, dimensi terakhir seringkali disisihkan, padahal menjadi penentu kompetensi seseorang.


Misalnya, kompetensi memasak. Kalau yang diinginkan makanan lezat saja, tentu banyak koki memakai bumbu instan berbasis MSG yang rasanya enak di mulut, tetapi tidak sehat di badan. Akan tetapi, karena akhlak, seorang koki akan menahan pemakaian micin tersebut dan menggantinya dengan bahan sehat lainnya.


Itulah contoh pentingnya akhlak dalam kompetensi. Dan hal ini tidak cukup dipahami oleh guru, tetapi juga orang tua. Dimensi skill dan knowledge saja tidak cukup tanpa akhlak yang baik. Terlihat pintar tapi kurang akhlak akan lebih berbahaya daripada biasa-biasa saja dengan akhlak yang baik.


Oleh karena itu, pendidikan akhlak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga peran besar kedua orang tua, keluarga, di rumah. Sebab, di sekolah, anak-anak belajar dan menuntut ilmu. Sementara itu, di rumah, anak-anak bertumbuh, mempraktikkan ilmu yang mereka dapatkan di sekolah dan membawa bekal akhlak dari rumah.


Dalam Islam. pendidikan akhlak adalah proses sebenarnya dari akil baligh atau pendewasaan pada anak-anak. Di sisi lain, proses pertumbuhan menuju kedewasaan ini mutlak menjadi tugas orang tua, bukan sekolah. Sebab, dalam proses ini ada pertumbuhan kedewasaan yang membutuhkan peran ayah. Sementara pertumbuhan fisik membutuhkan peran ibu dalam menyiapkan makanan sehat.


Dengan demikian, belajar pengasuhan justru menjadi PR utama bagi seorang ayah. Sebab, jelas dalam Al-Qur’an bahwa 14 dari 17 ayat tentang pendidikan anak semua dilakukan oleh laki-laki. Salah satu di antaranya dalam Q.S. As-Shaffat (37): 102,


“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar,”


Dari ayat di atas, sejatinya kita mengetahui bahwa komunikasi merupakan salah satu kunci dalam membangun hubungan keluarga yang sehat dan harmonis. Utamanya jika komunikasi tersebut dilakukan antara ayah dan orang tua. Ayat tadi mengajarkan tentang bagaimana Nabi Ibrahim as. selalu terbuka kepada anaknya, Nabi Ismail as. Sekalipun yang diceritakan adalah rencana pengorbanan putranya, Nabi Ibrahim as. tidak mencoba menyembunyikan apalagi berbohong. Hasilnya, Nabi Ibrahim as. justru dapat melihat kesempurnaan akhlak dari putranya. Nabi Ismail as. memperlihatkan kepada ayahnya tentang bagaimana ia menyikapi suatu keadaan dengan keteguhan imannya.



Berita Perwilayah

Jenis berita