Infak mudah melalui infak.in

Berita penyaluran

Kepedulianmu kebahagian mereka

Cara Menyikapi Kasih Sayang Allah dengan Mindfulness

KANTOR PUSAT, 23 September 2026

Cara Menyikapi Kasih Sayang Allah dengan Mindfulness


Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia banyak menerima kabar kurang menyenangkan. Mulai dari kabar bencana, korupsi, hingga berbagai persoalan sosial, budaya, dan ekonomi lainnya. Kondisi tersebut tentu sangat memengaruhi masyarakat menjadi lebih sensitif. Sensitif atas kritik, pendapat, dan masukan yang menyinggung keadaan saat ini, salah satunya yang ramai adalah tentang mindfulness.


Sebenarnya, kalau kita telaah secara etimologi, mindfulness adalah frasa hasil penggabungan kata mind yang berarti ‘pikiran’ dan full yang berarti ‘penuh’. Maka, mindfulness dapat dimaknai sebagai sikap kesadaran penuh dalam menghadapi situasi yang terjadi. Kesadaran ini tentu punya banyak makna dan aksi. Salah satunya kesadaran dalam menyikapi berbagai kabar dan situasi saat ini sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT.


Banyak dari kita yang salah mengira bahwa cobaan adalah bentuk hukuman. Padahal, dalam salah satu hadits telah disebutkan bahwa cobaan pun merupakan bentuk kasih sayang. 


“Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia justru akan memberikan ujian dan cobaan kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Baihaqi)


Dari hadits tersebut, ada pelajaran berharga tentang menyikapi kasih sayang Allah yang berbentuk cobaan. Caranya adalah dengan mengidentifikasi dulu bentuk cobaan yang menimpa kita. 


Menurut Ustaz Ahmad (dalam Zakato Januari, 2018: 12), ada dua kondisi yang menentukan bentuk kasih sayang Allah SWT. kepada kita. Kondisi pertama adalah kondisi yang paling kritis. Kondisi ini bisa muncul ketika kita secara sadar ataupun tidak melakukan pelanggaran yang sangat berat. Maka, bentuk kasih sayang Allah SWT. bukanlah menegur, melainkan membiarkannya. Tidak memberikan hukum di dunia, tidak menegur, apalagi memeringatkannya. Namun, tiba-tiba Allah SWT. akan membinasakan dan menghancurkan tanpa sempat memberi ia kesempatan untuk bertaubat.


Sementara itu, kondisi kedua adalah kondisi pelanggaran yang tidak terlalu besar dampaknya. Jika kondisi ini terjadi, Allah SWT. akan langsung memberikan peringatan. Bentuknya beragam, bisa dalam bentuk cubitan kecil masalah maupun ujian-ujian lainnya. Meskipun tampak berat awalnya, kondisi ini justru lebih baik daripada kondisi pertama. Sebab, dari ujian-ujian ini kita bisa lebih cepat sadar, muhasabah, dan akhirnya bertaubat kepada Allah SWT. 


Inilah mindfulness yang dibutuhkan oleh umat Islam. Kesadaran untuk selalu membaca tanda-tanda kasih sayang yang Allah berikan. Jika sekarang kita merasa sedih dan berat dengan berbagai ujian dan kabar buruk, percayalah bahwa itu cara Allah memberikan kasih sayangnya kepada kita. Dengan mengingatkan dan memberikan ruang untuk kita bertaubat. 


Semoga kita semua akan selalu siap dengan setiap konsekuensi muhasabah (evaluasi/introspeksi) dan risiko ishlah (perbaikan diri) atas kesalahan, seberat apapun risikonya. Serta, janganlah “menunggu” sampai Allah Sendiri “turun tangan” untuk menegur keteledoran-keteledoran kita.



(Sumber: artikel "Ketika Allah Masih Menyayangi Kita" karya Ust. Ahmad Mudzhoffar Jufri, Lc., MA., Dewan Pengawas Syariah Laznas LMI dalam Majalah Zakato Januari 2018)

Berita Perwilayah

Jenis berita