Berita penyaluran
Kepedulianmu kebahagian mereka
KABUPATEN PASURUAN, 02 Januari 2026
Pasuruan (02/01) — Abdullah (48), warga Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, berhasil mengembangkan usaha budidaya kepiting menggunakan sistem apartemen akuakultur vertikal. Usaha ini mulai ia tekuni sejak tahun 2020 sebagai upaya memenuhi kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan ekonomi, terutama saat pandemi melanda.
Abdullah sehari-hari bekerja sebagai buruh nelayan dan tinggal di wilayah pesisir pantai. Pada masa pandemi, aktivitas melaut tidak menentu sehingga penghasilannya kerap terhenti. Kondisi tersebut mendorongnya untuk mencari usaha lain yang bisa dijalankan di rumah. Ia kemudian mencoba budidaya kepiting dengan sistem apartemen, metode yang tidak membutuhkan lahan luas dan dapat dilakukan di ruang berukuran sekitar 2,5 x 3 meter.
Pada awal merintis usaha, Abdullah mengaku banyak mengalami kegagalan. Dengan belajar secara otodidak, ia harus menghadapi berbagai kendala teknis yang menyebabkan kerugian hingga modal usahanya sempat habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini sempat membuatnya hampir menyerah.
Namun, pada tahun 2022, Abdullah bersama beberapa warga setempat berinisiatif membentuk kelompok usaha budidaya penggemukan kepiting. Berbekal pengalaman sebelumnya, usaha tersebut mulai menunjukkan hasil yang lebih baik. Selama dua tahun berjalan, jumlah apartemen kepiting yang semula hanya lima unit meningkat menjadi 20 unit. Ketersediaan bahan baku pun relatif mudah karena banyak nelayan di sekitar wilayah pesisir Pasuruan yang menjual kepiting hasil tangkapan.
Sayangnya, pada tahun 2024 kelompok usaha tersebut mengalami musibah. Banjir merusak apartemen kepiting dan lahan budidaya, sehingga usaha berhenti total dan kelompok pun bubar. Dari sepuluh anggota kelompok, hanya Abdullah yang tetap memiliki semangat untuk melanjutkan budidaya kepiting.
Harapan baru muncul pada Juni 2025 ketika Abdullah dipertemukan dengan Lembaga Manajemen Infaq (LMI) melalui Dinas Pertanian. Setelah dilakukan wawancara dan observasi, budidaya penggemukan kepiting sistem apartemen dinilai layak untuk kembali dijalankan. Abdullah memanfaatkan peralatan lama yang rusak akibat banjir dan memperbaikinya secara bertahap.
Dari 20 apartemen yang dioperasikan, tingkat kematian kepiting terbilang rendah. Dari 20 ekor kepiting, hanya tiga ekor yang mati pada awal masa penggemukan. Kepiting yang berhasil dipanen dijual dengan harga Rp150.000 hingga Rp250.000 per kilogram, sementara harga beli dari nelayan berkisar antara Rp50.000 hingga Rp65.000 per kilogram.
Melihat hasil yang cukup menjanjikan dan tingginya permintaan pasar, Abdullah mengajukan bantuan tambahan apartemen melalui fasilitator Dinas Perikanan. LMI kemudian memberikan dukungan sehingga jumlah apartemen bertambah menjadi 40 unit. Serah terima bantuan dilakukan pada 2 Januari 2026.
Kini, Abdullah semakin serius mengelola budidaya kepiting bersama istrinya dengan pengawasan ketat agar kualitas tetap terjaga. Ia berharap usaha ini terus berkembang sehingga mampu mencukupi kebutuhan keluarga dan menjadi sumber penghasilan utama di tengah kondisi nelayan yang semakin tidak menentu akibat faktor cuaca dan hasil tangkapan.
KANTOR PUSAT, 28 February 2026
Bulan ramadan merupakan bulan spesial bagi semua u...
KANTOR PUSAT, 27 February 2026
#BeranijadiBaikAre You Ready?Rasa takut sudah menj...
KANTOR PUSAT, 20 February 2026
Di era serba digital, tantangan terbesar orang tua...
KANTOR PUSAT, 20 February 2026
Olahraga adalah bagian dari gaya hidup sehat yang...