Edukasi
Temukan berbagai konten edukatif untuk menambah wawasan Anda
KANTOR PUSAT, 19 Januari 2026
Saat ini, usia tidak lagi dapat dijadikan patokan utama tingkat kematangan seseorang. Dahulu, memasuki masa SMA dan kuliah sudah dianggap sebagai tanda kedewasaan, terlebih ketika seseorang mulai memasuki dunia kerja. Namun, kondisi tersebut kini tidak selalu relevan. Banyak dijumpai perilaku remaja hingga orang dewasa yang masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan, jauh dari konsep otonomi (autonomy) dalam pengambilan sikap dan keputusan. Tidak menutup kemungkinan, mahasiswa pun masih belum menunjukkan kedewasaan emosional dan lebih memilih bersenang-senang. Sebaliknya, fenomena lain juga muncul, banyak anak usia SD sudah mulai berpacaran akibat pengaruh media sosial yang berlebihan.
Anak-anak tentu membutuhkan pendampingan, bimbingan, dan keteladanan dari orang tua agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, khususnya dalam menyelesaikan tugas perkembangan dan membangun kemandiriannya. Berbagai hal yang berkaitan dengan kebutuhan diri, seperti tanggung jawab makan, merapikan pakaian, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari, seharusnya dapat dilakukan secara mandiri sesuai usia perkembangan anak.
Setiap perilaku berawal dari proses berpikir. Seseorang bersedia melaksanakan salat Subuh ke masjid secara mandiri karena pikirannya meyakini bahwa, “Salat Subuh itu menyehatkan badan dan melancarkan rezeki.” Oleh karena itu, diperlukan penanaman pengetahuan secara berkelanjutan hingga nilai tersebut meresap ke dalam hati.
Perluas wawasan dan sudut pandang anak terhadap dunia agar ia memahami bahwa kemandirian merupakan hal yang wajar. Contohnya, melalui kisah kehidupan anak-anak di Jepang dan Korea yang terbiasa hidup mandiri sejak dini. Di negara-negara tersebut, keluarga umumnya tidak memiliki asisten rumah tangga, orang tua membiasakan diri mendelegasikan pekerjaan rumah kepada setiap anak. Bahkan, di beberapa negara maju, anak usia TK dan SD telah dilatih berangkat dan pulang sekolah secara mandiri.
Otak yang sejak kecil menerima informasi bahwa kemandirian adalah kebiasaan positif akan secara otomatis mendorong anak untuk bertindak mandiri, seperti mencuci kaus kaki sendiri, meletakkan pakaian kotor pada tempatnya, menjemur handuk basah, hingga menyiapkan perlengkapan sekolah tanpa bantuan. Menonton film yang mengangkat nilai kemandirian juga sangat dianjurkan, seperti:
a. Shazam: menggambarkan bagaimana anak-anak tinggal di keluarga asuh (foster family).
b. Grave of the Fireflies atau Tokyo Magnitude: menunjukkan bagaimana seorang kakak harus bertanggung jawab kepada adiknya di tengah situasi darurat atau bencana.
Motivasi memiliki peran besar dalam mendorong anak melakukan perilaku baik secara mandiri. Gunakan kata-kata positif dan membangun yang dapat menumbuhkan semangat anak, seperti:
"Wah, telur dadar buatan Kakak enak. Besok kalau bikin lagi, Bunda minta ya?"
"Bunda mau pinjam pensil dan peraut. Kakak punya? Wah, kalau disimpan di kotak pensil seperti ini, jadi enak ya kalau pas lagi butuh."
"Lihat gigi Adik. Bagus, ya? Adik giginya putih dan gak ada lubangnya. Banyak anak yang giginya rusak karena gak mau gosok gigi. Adik rajin gosok gigi makanya gigi depannya bagus banget!"
Segala bentuk harapan, ucapan, dan afirmasi positif dapat disampaikan sembari terus mendoakan kebaikan dan perkembangan anak.
Melatih kebiasaan baik pada anak tidak dapat dilakukan secara instan. Ada anak yang memerlukan waktu 3, 6, hingga 12 bulan untuk membangun perilaku positif secara konsisten. Namun, ada pula anak yang dalam waktu dua pekan sudah menunjukkan antusiasme tinggi, meskipun konsistensinya masih naik turun. Hal tersebut wajar karena manusia memiliki fase pasang surut dalam ketaatan. Di sinilah pentingnya doa, kesabaran, dan pembelajaran yang berkesinambungan.
Lalu, apa yang dapat dilakukan orang tua? Jika anak mengalami kesulitan bangun Subuh, pastikan ia tidur tepat waktu. Sekitar 5–15 menit sebelum adzan, bangunkan anak dengan kata-kata lembut, pelukan, atau elusan di punggung dan kepalanya. Lakukan metode ini secara konsisten agar terbentuk kebiasaan positif.
Bantu anak menyusun jadwal kegiatan harian, mulai dari bangun pagi hingga waktu tidur kembali. Sebagai contoh, jika waktu Maghrib jatuh pada pukul 17.30 WIB, buat jadwal salat Maghrib pukul 17.30–18.00, dilanjutkan membaca Al-Qur’an pukul 18.00–18.30, dan seterusnya.
Sering kali muncul anggapan bahwa membuat jadwal tidak efektif karena tidak selalu berjalan sesuai rencana. Padahal, membiarkan kehidupan anak berjalan tanpa jadwal justru dapat membuat aktivitasnya tidak teratur. Dengan adanya jadwal, orang tua memiliki acuan untuk mengevaluasi kedisiplinan dan tanggung jawab anak.
Ingatkan anak menjelang waktu-waktu penting agar ia dapat bersiap mengakhiri aktivitas sebelumnya. Misalnya, jika jadwal salat Maghrib pukul 18.00, ingatkan anak untuk bersiap wudhu pada pukul 17.50. Jika jadwal mengaji pukul 18.30, sampaikan pengingat dengan lembut setelah salat berjamaah bahwa sudah waktunya membaca Al-Qur’an.
Bunda Sinta Yudisia
Ibu, penulis, pengamat dunia anak & remaja
KANTOR PUSAT, 28 February 2026
Bulan ramadan merupakan bulan spesial bagi semua u...
KANTOR PUSAT, 27 February 2026
#BeranijadiBaikAre You Ready?Rasa takut sudah menj...
KANTOR PUSAT, 20 February 2026
Di era serba digital, tantangan terbesar orang tua...
KANTOR PUSAT, 20 February 2026
Olahraga adalah bagian dari gaya hidup sehat yang...