Motivasi

Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi

Tahun keenam hijriah, Bulan Dzulqa’dah.

Rasulullah telah memilih untuk menyetujui klausul perjanjian yang ditawarkan oleh pihak Mekkah Quraisy, yaitu perjanjian Hudaibiyah. Dimana lima point perjanjian ini, empat di antaranya merugikan kaum muslimin.

Maka, beberapa sahabat pun dengan tegas mempertanyakan hal ini. Salah satunya Umar Al Faruq. “alasta nabiyallahu haqqun” bukankah benar Engkau seorang Nabi Allah? “benar,” jawab Rasulullah. Pertanyaan Umar ini menegaskan ketidaksukaan terhadap pilihan Rasulullah pada isi perjanjian Hudaibiyah. Begitu juga sahabat yang lain, termasuk Ali bin Abi Thalib. Dan, tentunya, pilihan Rasulullah menyetujui Perjanjian Hudaibiyah ini akhirnya berdampak kebaikan untuk kaum Muslimin.

Tahun kesembilan hijriah, Bulan Dzulqa’dah.

Rasulullah pun berucap, “Mundurlah, hai Umar! Aku telah diberi pilihan, dan aku sudah menetapkan pilihanku. Allah menyatakan untukku.” kemudian Rasulullah membacakan QS. At Taubah ayat 80. Ini adalah pilihan Rasulullah untuk tetap melakukan shalat jenazah bagi sosok munafik, meskipun sahabat Umar al Faruq menolaknya dengan tegas, sambil berujar “ini musuhmu ya Rasulullah, dia yang pernah menyebarkan fitnah tentang ‘Aisyah dan keluargamu tercinta! Dia yang mendirikan Masjid Dhirar! Ingatlah bahwa dia yang membocorkan rahasia kepada musuh dan membelot lari ketika peperangan!” Panjang umar menyampaikan argumennya. Dan Rasulullah tetap memilih untuk menyalatkan tokoh munafik di masanya, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul. Kemudian Allah turunkan surat At Taubah ayat 84 untuk menegaskan apa yang harus dilakukan bagi jenazah tokoh munafik tersebut.

Shalihin dan shalihat…

Memilih, itulah keniscayaan yang terasakan oleh tiap diri dalam kehidupan. Menariknya, dalam menentukan pilihan, sering kali kebimbangan muncul, atau kecondongan terhadap pilihan terasakan, tapi belum mampu terpastikan. Karena sejatinya memilih adalah perkara yang mudah nan sulit, walaupun kita sudah mengetahui mana yang benar, namun terkadang masih ragu pada mana yang baik. Mengapa demikian? Karena setiap pilihan yang kita pilih memberikan konsekuensi logis pada diri.

Sebagaimana kisah atas pilihan Rasulullah terhadap Perjanjian Hudaibiyah, meski tidak disetujui beberapa sahabat. Ternyata pilihan itu memberikan kebaikan untuk kaum muslimin. Sedangkan di sisi lain, pilihan Rasulullah untuk menyalati Abdullah bin Ubay bin Salul juga mendapatkan penjelasan yang lugas oleh Allah. Inilah sebuah sebuah fenomena dalam  pilihan kehidupan.

Bagi setiap muslim, Islam tidak memberikan pilihan di wilayah abu-abu. Hidup taat, atau maksiat. Menikmati kepemilikan pahala, atau dosa. Ending yang husnul khatimah, atau su’ul khatimah. Inilah pilihan yang telah terinformasikan pada QS. Al Balad ayat 10, “telah kami tunjukkan dua jalan (kebaikan dan keburukan)”. Dan tentunya, konsep dalam Islam, setiap pilihan yang akan dipilih haruslah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional yang tentunya tidak melepas kata kebenaran dalam konteks Al Quran dan Sunah.

Nah, unsur memutuskan pilihan tidak hanya rasionalitas, namun juga perlu nurani dan naluri. Maka, bisa jadi dalam kondisi tertentu ketiganya saling kontradiktif, tidak sefaham, dan terkadang berseberangan antara logika dan nurani. Maka Islam selalu hadir memberikan solusi terhadap sebuah problematika saat memilih. Benar, pilihan yang sangat substansial adalah pilihan yang selalu mengikut sertakan Allah dalam menentukan pilihan itu.

Maka, sahabat Jabir bin Abdillah menyampaikan bahwa Rasulullah selalu mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala urusan, kemudian dilanjutkan menyampaikan sabda Insan Mulia, “idza hamma ahadukum bil amri falyarka’ ra’ataini min ghairil faridhah”. Apabila salah seorang di antara kalian hendak memilih sesuatu (yang membingungkan) maka lakukan shalat sunnah dua rakaat selain shalat wajib (HR. Al Bukhari).

Jadi, shalat istikharah merupakan solusi dalam kebimbangan saat memilih. Ditambah saat kita memahami doa istikharah yang begitu dalamnya tentang makna sebuah pilihan. Maka, kita akan lebih bisa merasakan dalam proses memilih ini, dan berharap menikmati hasil dari pilihan ini nantinya.

Yuk, kita coba pahami beberapa makna doa istikaharah ini. Paragraf pertama diawali “Allahumma inni astakhiruKa bi ilmiKa…”. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Maka, saat kita mendasarkan pada ilmu Allah, maka optional yang kita pilih tak sebatas hanya untuk kebenaran, bisa lebih dari itu menjadi kebaikan.

Paragraf berikutnya yang menjadi penegas essensi dari makna sebuah pilihan. “Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amra khairun lii fi dinii wa ma’asyii wa ‘aqibati amri faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma barik lii fihi”. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku, dan akibatnya bagiku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini. Jika kalimat doa ini dipahami, setiap pilihan kita tak hanya untuk diri, namun lebih itu untuk agama dan ummat. Bahwa pilihan ini bukan hanya urusan dunia, bahkan ia bisa menjadi perkara akhirat. Inilah makna doa istikharah. Ia tak hanya berbicara indah, namun lebih dari itu, harap berkah.

Jadi, Shalihin dan Shalihat, mari lakukan konsep Rasulullah saat ada keraguan, “da’ maa yaribuka ila maa laa yaribuka”. Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu. Maka saat keraguan muncul untuk memilih, ikutkan Allah untuk memunculkan keyakinan akan pilihan. So, yuk, menikmati setiap episode kehidupan kita untuk memilih. Hidup ini memilih atau pilihan? Selamat memilih! (Allahuu a’lam).