Misi dakwah Islam ke tanah Jawa tercatat pada tahun 1404 yang terjadi atas perintah Sultan Muhammad I, penguasa kekhalifahan Turki Utsmani di Turki. Jalur perjalanan pendakwah Islam dari Turki ke Gresik diperkirakan melalui Gujarat, India. Kapal layar  yang digunakan kemudian tiba di bagian barat Sumatera yaitu di Pasai, lalu ke Palembang. Begitu memasuki pulau Jawa, perjalanan diteruskan melalui Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Rembang, Tuban, dan berakhir di Gresik.

Tim dakwah tersebut berjumlah sembilan orang yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. Mereka ini yang kemudian diangkat sebagai Wali Songo angkatan pertama.

Asal Mula Penamaan “Wali Songo”

Menurut pemahaman yang berkembang, dalam tradisi Jawa kata “wali” adalah sebutan untuk orang yang dianggap memiliki karomah, yaitu orang suci yang diberi keistimewaan luar biasa oleh Allah. Berdasarkan hal ini, ditemui istilah Sembilan Waliyullah. Oleh karena itu, masyrakat memandang para wali tersebut memiliki kelebihan lain yang menandai bahwa hubungan dengan Allah sangat dekat.

Berikut adalah beberapa asal mula penamaan Wali Songo:

Wali yang mulia

Prof. K.H.R. Moh. Adnan, pendiri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus rektornya yang pertama berpendapat bahwa kata ‘sanga’ merupakan bentuk mengucapakan yang disederhanakan dari asal kata ‘tsana’. Sementara ‘tsana’ berarti mulia, memiliki arti yang sama dengan Mahmud, berarti terpuji. Sehingga istilah Wali Songo menurutnya berasal dari kata Wali Tsana’, bermakna wali yang mulia lagi terpuji.

Wali Songo adalah organisasi dakwah

Masyarakat Jawa mengenal Wali Songo adalah wali yang berjumlah sembilan orang. Namun beberapa penulis sejarah seperti Asnan Wahyudi dan Abu Khalid, M.A. berpendapat bahwa Wali Songo merupakan nama suatu lembaga bagi dewan dakwah atau dewan ulama. Apalagi salah seorang dari anggota majlis tersebut pergi atau wafat, maka akan diganti oleh yang lain. Sehingga setiap angkatan jumlahnya tetap sembilan.

Antara Wali dan Sunan

Terdapat anggapan bahwa ulama Islam yang berjumlah 9 wali yang menggunakan gelar Sunan. Asal kata “sunan” sendiri adalah susuhunan (di-suhun yang berarti diminta) atau sinuhun yang biasanya diperuntukkan bagi para raja dan penguasa pemerintahan di Jawa. Seperti Sunan Gunung Jati sebagai penguasa daerah bernama Gunung Jati di Cirebon, Sunan Ampel di Ampel Dento Surabaya, dan Sunan Giri yang berkuasa di daerah Giri Kedaton Gresik. Nama-nama Sunan lebih dikenal dengan daerah kekuasaannya dibanding nama aslinya.

Sedangkan berdasarkan pendapat Prof. Dr. Hamka bahwa istilah sunan digunakan untuk menyebut para wali setelah kewafatannya. Berikut kutipan Hamka: “terang bahwa gelar gelar sunan itu baru dipasangkan atas diri para wali itu setelah mereka meninggal. Karena mereka dipandang keramat dan kubur mereka dimuliakan sebagaimana memuliakan berhala, sebab itu dibahasakan sunan.” Penisbatan istilah sunan ini melekat dalam ingatan masyarakat selama empat abad, bahkan nama asli tidak lebih diingat daripada gelarnya.

Menurut penulis sejarah, Wiji Saksono, terdapat sembilan nama wali, namun hingga saat ini belum jelas siapa yang membuat daftar nama tersebut, termasuk atas kesepakatan siapa dan berlaku sejak tahun berapa. Berikut nama-nama Wali Songo yang dikenal di masyarakat: Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat (Raden Qasim), Sunan Kudus (Ja’far Shadiq), Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin), Sunan Kalijaga (Raden Sahid), Sunan Muria (Raden Umar Said), dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Sembilan wali tersebut sebenarnya tidak hidup dalam masa yang sama, bahkan beberapa di antaranya berjarak puluhan hingga ratusan tahun.

Wali Songo Angkatan Pertama

Pembagian wilayah pada Wali Songo angkatan pertama terdiri dari Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Mereka berdakwah pada kurun waktu 1404 sampai dengan 1421, terhitung sejak kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama delapan tokoh lainnya ke tanah Jawa. Para wali ini adalah (1) Maulana Malik Ibrahim, (2) Maulana Ishak, (3) Maulana Ahmad Jumadil Kubra, (4) Maulana Muhammad al Maghribi, (5) Maulana Malik Israil, (6) Maulana Muhamammad Ali Akbar, (7) Maulana Hasanudin, (8) Maulana Aliyudin, dan (9) Syekh Subakir.

Sembilan perintis dakwah tersebut tiga di antaranya adalah yang paling dikenal di Jawa Timur, yaitu Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, dan Syekh Jumadil Kubra. Sementara di Jawa Tengah adalah Maulana Muhammad Al-Maghribi dan Maulana Syekh Subakir. Sedangkan dakwah Islam di Jawa Barat dilakukan oleh Maulana Malik Israil, Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, dan Maulana Aliyuddin.