Konsultasi Syariah

Oleh: Ustaz Prof. Dr. H. M. Roem Rowi, MA.

Ketua Dewan Pengawas Syariah LMI


Pertanyaan:

Saya pernah menyaksikan salah satu jamaah di masjid perumahan kami yang melaksanakan shalat ba’da magrib sambil duduk, padahal ketika kami berjamaah dia mampu melaksanakannya dengan berdiri sempurna. Setelah saya bertanya apakah beliau sedang menderita sakit tertentu, rupanya tidak sedang sakit apa-apa. Apakah ada tuntunan yang membolehkan shalat sunnah dengan duduk, Ustaz?


Jawaban:

Shalat sunnah itu boleh dilakukan dengan posisi berdiri, duduk, bahkan dapat dilakukan dengan posisi berbaring. Orang sehat pun boleh memilih dengan cara yang mana mereka ingin melaksanakan amalan shalat sunnah, tidak harus dalam keadaan sakit. Perbedaan di antara ketiganya adalah pahala yang didapat dari nilai keutamaan tersebut. Melaksanakan shalat sunnah dengan berdiri sempurna tentu lebih utama daripada dengan duduk. Begitu pula shalat sunnah yang dilakukan dengan duduk jauh lebih utama dibanding jika dikerjakan sambil posisi berbaring.

“Jika shalat sambil berdiri, maka itu lebih afdhal. Jika shalat sambil duduk maka pahalanya setengah dari yang berdiri. Barangsiapa shalat sambil berbaring, maka pahalanya setengah dari orang yang shalat sambil duduk.” HR Bukhari

Dari Abdullah bin Syaqiq Al Uqoili, ia berkata, “aku pernah bertanya kepada Aisyah mengenai shalat malam Rasulullah saw, lantas Aisyah menjawab, ‘beliau shalat malam amat lama sambil berdiri dan kadang sambil duduk. Jika beliau melaksanakan shalat malam dengan berdiri ketika membaca surat, maka demikian pula ketika ruku’. Jika beliau melakukan shalat malam dengan duduk ketika membaca surat, maka demikian pula ketika ruku’.” HR. Muslim