Menjadi pengusaha kubah bukan cita-cita bapak lima anak ini. Awalnya, Wahyu Agus Ariadi adalah seorang pengusaha di bidang seluler. Namun, usaha yang dirintis pada tahun 2003 ini harus ditutup karena bangkrut di tahun 2012. Utangnya pun menumpuk. “Rumah orang tua saya hampir disita, karena memang sudah jadi jaminan. Peristiwa itu yang akhirnya membuat saya tidak mau melibatkan lagi uang riba dalam usaha saya,” akunya.

Sebagai seorang pengusaha yang sudah tidak punya sejumlah uang untuk memulai usaha kembali, dan tidak mau berutang, Wahyu pun mencari pekerjaan baru. Akhirnya, berbekal keilmuan di bidang internet marketing, dia pun mengambil peluang usaha sebagai reseller di salah satu kontraktor kubah. Pekerjaan ini dilakoninya hingga tahun 2016. Setelah merasa cukup modal dari sakunya sendiri, di tahun yang sama Wahyu memantapkan diri untuk mememulai produksi kubah sendiri dengan nama PT Anugerah Kubah Indonesia.

Pengalaman sebagai pelaku bisnis serta bekal yang cukup selama menjualkan kubah, tidak lantas menjamin usaha yang dirintisnya ini lancar tanpa hambatan. Enam bulan setelah perusahaannya berjalan, Wahyu dihadapkan pada tagihan proyek yang macet. Tidak ada lagi sisa uang yang bisa digunakan untuk memutar modal. Padahal saat itu ada 25 orang yang menggantungkan nasibnya dari usaha ini.

“Saat itu, saya ingat betul, di acara konser amal saya bersedekah dengan nominal yang tidak pernah saya bayangkan. Cukup tinggi. Saya keluarkan harta saya yang tersisa. Mungkin, ini yang disebut sedekah ekstrem,” tutur pria 39 tahun ini. Sungguh Allah Maha Kaya. Niat yang waktu itu ingin membersihkan harta, justru membuat masalah keuangan di perusahannya terurai. Wahyu tidak menyangka bahwa tiga hari kemudian satu demi satu tagihan proyek macet tersebut dibayar. Bahkan, perusahaannya juga menerima pesanan kubah yang nilainya lebih dari 10 kali jumlah uang yang dia sedekahkan.

Wahyu tidak hanya menjadikan sedekah sebagai gaya hidupnya sendiri, tetapi juga seluruh karyawannya. Warga Ngadiluwih, Kediri ini berprinsip, selama usaha yang dilakukan hanya untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, maka sebesar apapun hanya cukup untuk dirinya sendiri. Tetapi, jika satu usaha diniatkan untuk keuntungan umat, maka Insya Allah ada keberkahan, karena diri sendiri, keluarga, dan orang-orang tersayang kita adalah bagian dari umat tersebut.

Bersedekah tidak pernah membuat orang menjadi semakin susah. Sebaliknya, setelah disedekahkan sisa harta yang kita punya menjadi lebih berkah. Pada tahun ketiga perusahannya telah menguasai pasar Indonesia dan merambah pasar Malaysia. Bahkan, per Januari ini bukan lagi kontraktor kubah, melainkan kontraktor penyedia sarana ibadah Umat Islam. Saat ini pun telah berdiri 3 perusahaan lain dengan bidang bisnis yang berbeda. “Target perusahaan kami bukan berapa omsetnya, tapi berapa zakat, infaq, sedekah yg bisa kami keluarkan di setiap tahun,” pungkasnya.