MOTIVASI

Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi

Pembina Surabaya Hijrah (KAHF)

 

Menarik saat memperbincangkan tentang nilai plus manusia, yaitu akal. Tersebab akal inilah manusia memiliki kesempatan untuk melebihi posisi prestise malaikat. Tertera pada angka cantik di Al Quran, 234 surat-ke 2 (Al Baqarah) ayat 34. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka…”. Namun, uniknya, tersebab kepemilikan akal ini juga, manusia memiliki potensi status dirinya bisa lebih rendah daripada hewan ternak. “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi…”. tegas Allah Ta’ala pada QS. Al A’raf (7) : 179.

Sobat…

Jadi, kepemilikan akal belum tentu selalu dinikmati oleh tiap diri manusia. Lalu, bagaimana mampu menikmati kepemilikan akal? Tentunya dengan mengikuti prosedur dari pencipta akal itu sendiri, siapa lagi kalau bukan Allah Jalla Jalaluh. Namun, jika melawan arus dari aturan Allah Ta’ala terhadap penggunakan akal. Ketahuliah sahabat, akan terjadi kesalahan dalam memahami unsur kehidupan, wa bilkhusus wilayah agama, lebih inti lagi wilayah syariat. Sehingga dikhawatirkan saat akal menjadi nakal, maka syariat akan dilakukan dengan maksiat.

Mmm… Akal menjadi nakal, atau nalar menjadi liar, kok bisa melanggar syariat? So pasti, karena nalar akan selalu selaras dengan hal yang bersifat nyata, logis, kasat mata, dan dapat diterima oleh panca indra. Sedangkan syariat sebagian besarnya tersumber dari wilayah ghaib, yang tentunya kontradiktif dengan penilaian nalar. Sehingga jika nalar menjadi prioritas utama, bahkan satu-satunya alat untuk menilai syariat, maka tidak akan ada kata minat untuk taat. Iman pun akan tersekat, dan pikiran pun menjadi sesat.

Ambil contoh, saat ayat al quran membincangkan tentang kebijaksanaan Allah yang tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, meskipun se-dzarrah pun. Sebagaimana ditegaskan pada QS. An Nisa’ (4) : 40. Lalu, terdengarlah statement dari fulan yang berujar “kok yang selalu aku dapatkan hanya musibah, musibah, dan terus musibah. Padahal ibadahku tak pernah lelah. kok janji Allah tidak terasa indah, ya? Katanya dapat berkah? Malah hidupku semakin payah. Takdir Allah begitu membuat diriku gundah.”

Alasan fulan secara logika bisa diterima, karena memang itulah realitanya. Namun, perlu dipahami, bahwa realitas tak selalu ternilai logis. Misal, jika diajukan sebuah kalimat tanya, shalat apa yang disukai menurut logika? (a) Shalat Subuh dan (b) Shalat Isya? Maka –seharusnya- kita menjawab, “shalat subuh!” Mengapa? Karena shalat subuh hanya dua rakaat, durasi waktunya pun lebih singkat dari shalat isya, dan status diri saat itu sudah pada kondisi fresh, karena sudah cukup istirahat. Sedangkan shalat isya, empat rakaat. Lebih banyak jumlah rakaatnya, durasinya juga. Dan waktu shalat isya setelah fisik diri terkuras oleh rutinitas seharian. Sehingga sudah lelah.

Nah, kita secara logika lebih suka memilih yang simpel dan cepat. Hayo, saat kita jadi makmum, pilih mana? Imam membaca surat Al Ikhlas atau Al Baqarah? Kita semua sudah tau jawabannya. Hehe…

Sobat, yuk, kembali ke ucapan fulan di atas. Jika dinilai dengan nalar, ada kemungkinan memang benar, namun saat logika digunakan tanpa batas, muara keburukannya adalah kita akan menyalahkan aturan Allah, bahkan lebih parah lagi, kita meyalahkan takdir Allah Ta’ala. Oleh karenanya, jangan selalu penilaian didasarkan pada logika, apalagi logika dikultuskan melebihi iman. Wal iyadzubillah!

Lalu, bagaimana akal harus dipakai? Allah Ta’ala sudah menginformasikan rumusannya yaitu dengan menjadi ulul albab. Seperti apa itu? Pada QS Ar’Ra’d (13) : 19-20.  “…hanyalah orang-orang berakal saja yang dapat mengambil pelajarannya, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian”. Perjanjian apa ini? Ayat ini dikorelasikan dengan QS Al A’raf (7) : 172. “Allah mengambil persaksian (perjanjian) terhadap jiwa mereka (manusia). “Bukankah Aku ini Tuhamu?”. Mereka menjawab, “betul (Engkau Tuhan kami). Kami menjadi saksi”.

Maksudnya, gunakan akal sesuai pada kadar kemampuan dan wilayahnya, sebagaimana yang diperintahkan pada kalimat “Iqra’!”. Bacalah! (QS. Al Alaq (96) : 1 ataupun “Qul undzuru, perhatikanlah QS. Yunus (10) : 101.

Maka, Sobat, sebuah analogi menjadi penutup tulisan ini. Semisal seseorang menuju kota Malang, kemudian saat hendak masuk jalan tol, tertuliskan informasi: arah Malang macet total. Pertanyaannya, “kalian tetap masuk tol setelah mendapatkan penjelasan macet total, atau kalian putar balik mencari jalan alternatif?”. Tentunya orang yang berakal akan mencari jalan alternatif. Karena ia cukup berinteraksi dengan informasi yang berfungsi menjadi penjelasan. Namun, jika dia tetap masuk tol, maka kalian akan bertemu dengan realitas kemacetan.

Jadi, Sobat, orang yang berakal akan selalu berinteraksi dengan PENJELASAN. Sedangkan orang yang tidak berakal, akan berinteraksi dengan REALITAS. Mari, jadi orang yang berakal dengan terus mengikuti penjelasan: Allah Ta’ala baik dalam Al Quran ataupun Sabda Insan Mulia Rasulullah. Gunakan akal dengan menjauhkan dari kata liberal, batasi penggunaan akal untuk menyoal perihal spiritual, gunakan akal dengan Alquran dan hadis penjadi pengawal, dan gunakan akal jangan sampai nakal. (Allahu a’lam)