Pada abad 13 hingga abad 15 terdapat beberapa kekuatan besar di Asia, di antaranya Khalifah Abbasiyah di Irak, Bani Seljuk di Turki, Jengis Khan di Mongolia, dan Dinasti Ming di Cina. Kekuatan-kekuatan besar tersebut berebut pengaruhnya di dunia. Bukan hanya di sektor perdagangan, tetapi juga budaya, termasuk agama. Hingga akhirnya, fase ini menjadi episode penting masuknya Islam di Nusantara.

Nusantara menjadi target ekspansi wilayah khalifah islam terutama pada masa pemerintahan yang berpusat di Turki Usmani. Sejarah mencatat bahwa misi dakwah islam secara khusus ke jawa dikirim atas perintah Sultan Muhammad I tahun 1404, saat itu dipimpin oleh kekhalifahan Turki Usmani (1394 -1421). Sultan Muhammad I (Sultan Jalabi) dikenal sebagai pendiri daulah Usmaniyah kedua. Khalifah Turki Usmani abad ke-15 telah menjadi raja dunia dan mencapai puncak kejayaannya, yang pengaruhnya sampai ke Eropa, Asia dan Afrika. Dia mengirim penyebar ke Nusantara yang berbarengan dengan masa akhir Kejayaan Majapahit dibawah Raja Wikramawardhana. Jalur perjalanan dari Turki menuju Gresik ini, Jawa Timur, diperkirakan melalui Gujarat, India. Setelah singgah di ujung barat pualu Sumatra, mereka menuju Jawa melauli Banten, Cirebon, Rembang, Tuban hingga akhirnya tiba di Gresik. Perjalanan para wali mukmin ini menggunakan layar dan melewati rute perdagangan internasional.

Sembilan orang yang saat itu berangkat ke Jawa adalah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Maulana Muhammad Al-Maghribi, Maulana Malik Isra’il, Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana Aliyuddin, Syekh Subakir. Pemimpin rombongan yang kemudian tiba di Gresik tahun 1404 tersebut dipimpin oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim.

Para wali songo adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Beberapa pendapat menyebutkan asal mula nama tersebut. Pertama yaitu berasal dari kata bahasa Arab yaitu wali (wali) dan tsana’ yang berarti mulia. Prof. Moh. Adnan berpendapat bahwa sanga adalah kerancuan dalam mengucapkan kata sana yang asalnya adalah tsana’. Selain itu berkembang pendapat bahwa asal katanya adalah Wali Sana, yang berarti seorang pemimpin di satu tempat. Sementara itu ada pula yang menyebut kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata wali dan sanga yang artinya wali berjumlah sembilan orang.

Sejarah mencatat bahwa Wali Songo adalah dewan dakwah, dewan mubaligh, dan juga organisasi ulama dalam bentuk lembaga dakwah yang anggotanya berjumlah sembilan orang. Setiap ada anggotanya yang meninggalkan Jawa atau meninggal dunia, maka akan diangkat wali lain sebagai pengganti hingga jumlahnya tetap sembilan orang.

Antara Wali dan Sunan

Kata sunan merupakan kependekan dari susuhunan atau sinuhun yang biasa dinisbatkan bagi para raja atau penguasa pemerintahan di suatu daerah di Jawa. Misalnya, Sunan Gunung Jati yang juga merupakan di daerah Gunung Jati, Cirebon. Sunan Giri, penguasa daerah Giri yang pengaruhnya meluas hingga ke Makassar, Hitu (Ambon), dan Ternate.

Masyarakat mengenal Sembilan Sunan yang tersebar di Jawa yaitu Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Raden Rahmat atau Sunan Ampel (Surabaya), Raden Paku atau Sunan Giiri (Gresik), Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang (Tuban), Raden Syahid atau Sunan Kalijaga (Demak), Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus (Kudus), Maseh Munat atau Sunan Drajat (Tuban), Raden Umar Said atau Sunan Muria (Muria), dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Cirebon). Jika ditelusuri, tentu jumlah nama sunan lebih dari sembilan, beberapa di antaranya adalah Raden Jakandar (Sunan Bangkalan), Raden Sayed Muhsin (Sunan Wilis), Khalif Husein

Belum ada kepastian sampai sekarang bagaimana asal mula sembilan orang tersebut sebagai Wali Songo. Sebab, antara satu sunan dengan sunan lainnya berbeda masa dan bahkan ada yang tidak pernah berjumpa karena selisih yang sangat jauh.