Rubrik Tafsir Al Quran

 

Oleh: Dr. Amir Faishol Fath, MA

Ahli Tafsir Al Qur’an

Assalamualaikum wr wb

Satu kunci bahagia adalah menjadi orang yang optimis. Bahasa arab menyebutnya mutafail (متفائل). Mengapa optimis? Sebab kita punya iman, sebuah komitmen untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berikut penjabaran dari beberapa kutipan ayat yang menjadi alasan mengapa setiap orang yang beriman harus memiliki sifat optimistis.

Allah Maha Kuasa, (فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ… petikan QS. Hud ayat 107) bisa berbuat apa saja yang Allah kehendaki.

(وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ… petikan QS. Hud ayat 4) Allah maha kuasa mampu bisa berbuat apa saja, (petikan QS. Al Mulk: 1 …تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ) ditangan Allah segala kekuasaan.

(Petikan QS. Ali Imran ayat 26 … تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ…) Allah memberikan kekuasaan kepada siapapun yang Dia kehendaki, dan Allah mencabut kekuasaan dari siapapun yang Allah kehendaki.

Bagi orang yang dekat dengan penguasa tertinggi, entah itu raja, presiden, pasti akan merasa aman dan selalu merasa optimistis bahwa segala upayanya akan berhasil. Sebab, mereka tahu keputusan apapun di tangan penguasa tertinggi dan bawahan akan tunduk padanya.

Ada cerita seseorang yang dekat dengan presiden, ditangkap polisi dia tenang saja, dan memang sengaja melanggar lampu merah agar ditangkap polisi. Dia pun distop oleh polisi, dibukanya sedikit jendelanya lalu berbisik, “namamu siapa, Pak? Bapak masih ingin tugas lama sebagai polisi atau turun sekarang?” Seperti dugaannya, si polisi justru meminta maaf kepada orang tersebut. Coba perhatikan, bahkan membuat pelanggaran tidak takut karena merasa dekat dengan sang penguasa.

Bagaimana kalau kita dekat dengan Allah? Pasti tidak mungkin berbuat maksiat, karena Allah tidak suka kedzoliman dan tidak mungkin seseorang dikatakan dekat dengan Allah bila dia sering berbuat dosa. Nah, mengapa orang beriman ini harus optimistis? Karena dia senantiasa bersama Allah.

Ada sebuah kisah, saat itu nabi Muhammad SAW dikejar-kejar oleh Suraqah bin Malik, padahal ketika itu Nabi sedang sembunyi-sembunyi berjalan menuju Madinah. Sementara di Mekkah sudah diumumkan siapa yang mendapatkan Muhammad akan mendapatkan 100 unta, setara dengan 4 milyar rupiah. Maka semua orang kafir Mekkah juga sedang mencari di mana Rasullullah berada.

Suraqah adalah seorang penunggang kuda yang andal, sekali saja tidak pernah dia jatuh dari kudanya. Begitu dia melihat ada tanda-tanda Rasulullah lewat, diam-diam tinggalkan kawannya dan langsung pulang untuk mengambil kudanya.

Nabi melihat orang mengejar di belakang, namun dia tenang saja. Abu Bakar gelisah dan berpindah-pindah tempat untuk menjaga Rasulullah. Tetapi, Nabi tetap melangkah dengan yakin, tak gentar sedikitpun, tak takut sedikitpun. Mengapa? Karena Nabi merasa bersama Allah.

Tiba-tiba dalam pengejaran, kuda Suraqah tergelincir. Ini kali pertama terjadi seumur hidupnya. Setelah tergelincir dan jatuh, dia bangkit lagi, naik lagi, jalan lagi, dan tergelincir lagi, jatuh lagi sampai tiga kali.

Di sini kita belajar bahwa (petikan QS. Al-Fath ayat 7 …وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ) tentara Allahﷻ itu di mana saja. Bumi saja diperintahkan Allah untuk menjepit kaki kuda, maka kuda pun bisa tergelincir, tidak bisa bergerak dan terjatuh. Itu bila Allah berkehendak, tak akan bisa siapa pun melawan-Nya.

Bila kita bersama Allah, hidup akan merasa tenang. Tidak ada masalah berarti dalam hidup itu, apapun itu, entah musibah apapun akan tetap merasa tenang karena selalu merasa bersama Allah. Seperti yang disebut dalam Al Quran Surat Yunus ayat 62 (أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ) para wali Allah, maksudnya orang dekat dengan Allah dia tidak akan merasa takut atau merasa sedih.

Suraqah bin Malik berteriak, “Muhammad aku tahu kamu Muhammad, boleh aku minta kepada kamu satu permintaan? Aku tahu bahwa aku tidak boleh menangkap kamu. Hai, Rasulullah beri aku aman, jaminan sebuah kertas bahwa aku aman.”

Lalu ditulislah oleh Rasulullah, “Suraqah fii aman”. Kemudian Rasulullah berseru, “Suraqah kenapa kau mengejarku, nanti tanganmu ini akan memakai gelang kisra.” Suraqah kaget mendengar pernyataan itu, karena itu artinya ia akan menjadi Raja Persia.

Ketika terjadi perang antara orang Islam dan orang kafir, tiba-tiba Suraqah termasuk yang tertangkap menjadi tawanan perang. Namun, dia membawa kertas itu lalu ditunjukkan kertas tersebut, maka bebaslah Suraqah. Tak lama berselang Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu Bakar As Shidiq. Pada saat itu Suraqah masuk Islam. Hingga sampailah pada ke Khalifah Umar bin Khattab. Dizaman Khalifah Umar bin Khattab, Umat Islam berhasil menaklukkan persia dan membawa emas berkantong-kantong.

Saat itu Umar memanggil Suraqah dan menyuruhnya mengambil gelang. “Ini gelang raja, pakailah dan ceritakan apa kata Rasulullah waktu engkau mengejarnya saat perjalanan hijrah ke Madinah”. Suraqah pun bercerita tentang gelang kisra. Mendengar cerita tersebut, seluruh sahabat bergetar mendengar cerita Suraqah.

Jika Anda memandang dengan mata pandangan optimisme terhadap semua wujud, maka semua yang ada dan Anda alami termasuk atom-atom yang berserakan ini menjadi indah. Itulah rahasia iman.