SMP IBNU BATUTAH

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan menuju surganya.” (HR. Bukhari)

Menuntut ilmu bagi setiap muslim adalah wajib hukumnya, sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW di dalam hadist. Menuntut ilmu hendaknya menjadi satu perkara mulia yang menyibukkan diri dan menjadi perhatian setiap umat muslim. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk menuntut ilmu, salah satunya adalah dengan nyantri.

Apa istimewanya menjadi santri?

Banyak yang masih beranggapan bahwa nyantri identik dengan suatu bentuk keterpaksaan, ketidakbebasan, dan bahkan kurang pergaulan. Namun pandangan tersebut sebetulnya keliru, sebab banyak yang belum mengetahui ataupun merasakan nikmatnya nyantri.

Di usia yang masih terbilang muda mereka diajak untuk tinggal berjauhan dengan orangtua maupun keluarga, merantau selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu di sebuah tempat yang umumnya berada di pinggiran kota. Tentu, jauh berbeda dengan sekadar menjadi murid di sebuah sekolah pada umumnya. Namun, justru di situlah letak keistimewaannya. Sebuah kenikmatan yang hanya dapat dirasakan oleh seorang santri.

Nikmatnya belajar tentang kemandirian, belajar bertanggung jawab untuk mengurus diri sendiri adalah kenikmatan yang paling sering dirasakan. Mencuci baju sendiri, merapikan segala keperluan pribadi sendiri, semua serba mandiri. Namun, dari situlah mereka justru belajar tentang menghargai waktu dan bertanggung jawab penuh pada diri sendiri, sehingga tidak mudah mengandalkan orang lain.

Nikmatnya kemandirian dengan tinggal berjauhan dari orangtua juga membuat para santri merasakan indahnya menemukan keluarga kedua. Mereka memang tinggal sendiri tanpa didampingi orangtua, tetapi sesungguhnya mereka tidak akan pernah merasa sendiri, karena setiap aktivitas selalu dilakukan bersama-sama dengan para santri lainnya. Mandiri dalam hal ini termasuk dalam urusan makan.

Aktivitas Dapur

Makanan di pesantren adalah masakan rumahan, sehingga apa yang mereka makan masih terbilang seperti menu yang dibuat oleh ibunya di rumah. Tim dapur memasak masakan rumahan agar sebisa mungkin membantu mereka beradaptasi. Selain menjaga rasa, makanan yang diolah pun tidak mengabaikan kandangan gizi yang mereka butuhkan.

Safety food di SMP Ibnu Batutah dikelola dengan cermat, sebab dari seluruh santrinya 60 persen dari keluarga tidak mampu. Sehingga, dengan anggaran dapur yang terbatas perlu trik cerdik agar kebutuhan gizi mereka tercukupi. Karyawan dapur pun mengatur sedemikian rupa, mulai menjaga kebersihan peralatan memasak sampai memastikan para siswa membersihkan kembali peralatan makan mereka dan mengembalikan ke tempat semula.

Aktivitas dapur dimulai sejak sebelum subuh hingga siang hari. Karyawan dapur SMP Ibnu Batutah yang tinggal tidak jauh dari lokasi sekolah dengan penuh semangat dan keikhlasan melaksanakan tugasnya. Hanya keberkahan semata yang mereka harapkan demi lahirnya generasi penghafal Quran.

Pengaturan menu makanan dilakukan sepekan sekali tanpa mengabaikan kebutuan gizi. Menerapkan ganti menu selama sepekan dilakukan agar santri tidak bosan, meskipun sebenarnya merupakan olahan dari bahan makanan yang sama. Misal, bahan tempe atau tahu bisa diolah menjadi berbagai macam pilihan seperti bacem, oseng-oseng, kare, atau geprek.

Pemenuhan bahan makanan tidak jarang terpenuhi dari keterlibatan warga sekitar SMP Ibnu Batutah, seperti sayur mayur sering begitu ringan mereka kirimkan ke dapur. Petugas belanja juga seringkali mendapat harga murah saat berbelanja ke pasar, bahkan tidak jarang malah digratiskan. Saat panen warga juga menginfaqkan sebagian hasil panennya untuk kebutuhan makan santri. Alhamdulillah, masih ditambah lagi melalui program Infaq Jariyah Produktif yang dikelola Lembaga Manajemen Infaq, sehingga kebutuhan beras untuk makan santri SMP Ibnu Batutah bisa terpenuhi.

Meskipun santri tidak memiliki tugas masak sendiri setiap hari, tetapi mereka punya tugas terjadwal setiap jam makan. Secara bergilir para santri mendapat tugas membagi sayur dan lauk. Walau mereka tidak terlibat memasak secara langsung, santri Ibnu Batutah tetap belajar di dapur dengan membuat kue dan aneka macam masakan saat jadwal ekstra kurikuler.

Maka, menjadi santri adalah suatu kenikmatan yang luar biasa. Tidak semua orang dapat merasakan nikmat tersebut, hanya yang terpilih dan dirasa cukup tangguh lah yang dapat merasakannya. Dengan pembelajaran tentang bersyukur, menghargai dan merasa cukup dengan apa yang sudah didapat, dari situlah santri belajar tentang keberkahan hidup.

Selain kenikmatan pribadi, mereka juga merasakan kekeluargaan yang  kuat dengan santri lainnya, mengabaikan status ekonomi, sosial, bahkan dari daerah mana masing-masing dari mereka berasal. Semuanya merasa setara, memiliki niat yang sama untuk menambah ilmu dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.