Muzakki Hendra 2Desa Sukadamai – Palembang, zakat pertanian masih menjadi hal yang belum familiar bagi warga yang mayoritas penduduknya berkecimpung di dunia pertanian. Untuk berbagi sudah warga lakukan, tapi mereka masih belum paham tentang ada kewajiban zakat di hasil pertanian mereka,

Itulah yang dirasakan oleh Hendrawan Mohamad Ilyas. Menjadi petani, menjadi sebuah keputusan besar. Setelah satu dekade merantau di Malang, tahun 2015 Hendra memutuskan kembali ke kampung halaman, meneruskan usaha pertanian orang tuanya. Berbekal semangat dan sedikit pengalaman masa kecil ketika membantu orang tua di sawah, dia membulatkan tekad menjadi petani.

Pengalaman menjadi donatur LMI ketika di Malang, mengingatkan Hendra akan pentingnya zakat, dalam hal ini zakat hasil pertanian. “Saya kembali membuka fiqih tentang zakat. Mengingat pelajaran masa kecil bahwa ada berbagai macam zakat, lalu konsultasi dan belajar tentang zakat pertanian” ungkap Hendra menjelaskan.

Menjadi petani, tentu tantangannya berbeda. Terlebih karena sawah di desa Sukadamai  masih menghandalkan air hujan. Karena itu pula Hendapun menggunakan metode perhitungan zakat sawah tanpa irigasi sebesar 10% ketika hasil pertanian mencapai nishab (653 kg beras).

Untuk lebih berhati-hati atas harta yang didapatkankan, Hendra beserta istrinya, Prima Dianita selalu menyisihkan setiap rezeki yang didapatkannya. Memang selain menjadi petani, Hendra juga usaha penjualan gorong-gorong dan menyewakan mesin bajak dan mesin memanen padi. Sembari menunggu sawah, Hendra tak ingin pula berpangku tangan. Tetap berusaha untuk memperbanyak nilai berbagi yang akan dikeluarkan.

“Tahun 2015 memang menjadi tahun berat bagi petani”, ujar ayah dari Azka Dizwar ini. “Karena dengan kondisi kemarau panjang ditambah dengan asap di kota Palembang membuat banyak petani mengeluh karena mengalami kerugian”.

Kini Hendra berusaha mengenalkan zakat pertanian dengan pendekatan personal. Itulah yang bisa dilakukan Hendra, dilingkungannya. Selepas sholat menjadi waktu Hendra untuk berkomunikasi kepada jamaah terkait zakat pertanian. “Belum banyak yang paham akan zakat pertanian, namun Insya Allah perlahan mereka akan mengerti bahwa di setiap hasil panen ada hak-hak Allah yang harus ditunaikan” ungkap pria 34 tahun ini.

Karena itu pula, dirinya ingin menambah lahan. Sebab Hendra mempunyai mimpi untuk mempunyai tempat produksi yang menampung hasil dari para petani di Desa nya. Karena sampai saat ini, masih dikuasai orang luar yang rata-rata kurang peduli dengan masyarakat.

“Insya Allah,  dengan adanya tempat produksi dapat menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat untuk peduli zakat pertanian”, pungkas Hendra. [csa]

 

*Hendrawan Mohammad Ilyas

Pelaku Zakat Pertanian