Oleh: Sinta Yudisia

Psikolog dan Penulis

Semua bahan pengajaran harus dikemas dengan menarik agar anak-anak di berbagai tahapan usia menjadi bergairah saat mempelajarinya. Matematika, sains, ilmu sosial dan tentu saja, ilmu agama harus disampaikan dengan cara yang memukau agar anak merasakan kejutan-kejutan yang menyenangkan ketika dipancing dengan sebuah pengetahuan. Termasuk Al Quran.

Ada beberapa metode pengajaran ala Rasulullah saw. yang dapat kita terapkan. Misal, memancing dengan pertanyaan, “Tahukah kamu? Bagaimana cara terjadinya? Maukah kuberi tahu?”

Al Quran sarat akan kisah-kisah yang menakjubkan. Orangtua dan pendidik perlu  menyajikan dengan cara-cara kreatif agar anak tertarik mendengarkan hal ihwal tentang Quran, suka mendengar bacaan Quran, menangis mendengar bacaan Quran, cinta membaca Quran, dan gemar menghafalnya. Tentu, tak mudah mengajak anak untuk melakukan itu semua. Maka, sebagai orangtua dan pendidik kita harus berupaya segiat mungkin mencari berbagai macam cara pengajaran. Salah satu hal yang disukai anak-anak adalah dengan bercerita.

Suatu saat, saya memanggil anak-anak dan menanyakan, “Berapa sih jumlah pemuda Ashabul Kahfi?”

Ada yang menjawab 10, ada yang kurang, ada yang lebih. Saya paparkan nama-nama Ashabul Kahfi versi tafsir Quran.

“Nama mereka Maksalmina, Tamlikha, Marthunus, Birunus, Dominus, Yathbunus, Falyastathyunus dan nama anjing mereka Hamran atau Qithmir.”

Mata anak-anak bercahaya, seruan mereka terdengar takjub. Membaca Al Kahfi di hari Jumat adalah kebiasaan yang kami coba tanamkan di tengah keluarga. Tentu kebiasaan ini tidak serta merta mengalir begitu saja tetapi ada contoh, motivasi, evaluasi dan penyegaran dengan kisah-kisah hikmah. Motivasi dengan mengingatkan, ”Ayo, jangan lupa baca Al Kahfi. Supaya dapat cahaya dari Jumat ke Jumat.” Evaluasi dilakukan sejak Dzuhur dengan mengingatkan, “Sudah baca Al Kahfi?” Diulang lagi sore hari, “Sudah baca?” dan bila sangat sibuk maka ketika jam lima senja hari harus duduk sejenak untuk mencoba membaca Al Kahfi sebisa mungkin. Itu baru tentang Al Kahfi.

Bagaimana dengan 113 surat yang tersisa?

Orangtua harus terus memberikan contoh, dorongan, evaluasi, dan penyegaran. Jangan sampai anak-anak dibiarkan begitu saja menghabiskan waktu sehari-hari tanpa sentuhan Quran sama sekali. Dunia anak-anak yang penuh keceriaan dan aktivitas, bisa jadi dipenuhi dengan canda tawa tanpa makna. Tapi bisa juga kita selipkan dengan sarana mengingat Allah, termasuk pengajaran Quran. Video-video YouTube pun banyak yang memberikan tadzkirah tentang Quran.

Suatu ketika, saya dan si sulung melihat video tentang Alien in Quran. Penjelasan sang narator tentang QS Al Isra ayat 70:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Benar-benar mengejutkan dan yang pasti video itu langsung kami share di grup keluarga serta di akhir pekan ditonton lagi bersama. Betapa sedikitnya yang masih kita pahami dari rahasia Quran. Betapa menakjubkan cuplikan-cuplikan pengetahuan yang disematkan Allah dalam Quran. Bila anak kita suka sains, galilah ilmu pengetahuan alam dari Quran. Bila anak suka sejarah dan ilmu sosial, Quran banyak sekali menceritakan tentang kisah orang terdahulu. Lengkapi dengan tafsir dan Qishasul Anbiya agar kita sarat bahan cerita. Jika masih memiliki anak-anak usia TK dan SD, kisah fabel dalam Quran pasti mengesankan. Bila anak-anak beranjak remaja dengan segala problematikanya, jadikan surat-surat dalam Quran sebagai bahan diskusi seru, korelasikan dengan situasi terkini.

Quran tak pernah usang. Quran selalu menakjubkan. Quran membuat ribuan bahkan jutaan orang di luar sana menjadi mualaf. Kalau kita sebagai keluarga muslim tidak tertarik untuk memelajari dan mencintai Quran, mungkin anak-anak kurang mendapatkan stimulus yang tepat dari orangtua dan lingkungan.