Boarding School, baik berbentuk pesantren maupun sekolah berasrama sangat berbeda dengan umumnya sekolah. Bagi orang tua yang akan memasukkan anaknya ke pesantren, jika tidak dilakukan persiapan matang, alih-alih bermanfaat untuk anak, yang terjadi malah bisa berdampak negatif untuk anak. Kejadian anak  kabur dari pesantren karena tidak betah mungkin pernah Anda dengar.

Sebenarnya, normal jika ada anak mengalami  culture shock ketika masuk pesantren. Di pesantren anak merasakan ritme kehidupan yang bisa jadi sangat jauh berbeda dibandingkan di rumah. Hanya saja, jika tidak ditangani dengan baik, dapat membuat repot semua pihak. Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum anak masuk ke pesantren.

PERTAMA, niat awal harus dibetulkan. Jangan pernah sekali-kali mengirimkan anak ke pesantren karena ingin niat “cuci tangan.” Jika niatnya seperti ini, umumnya tidak akan pernah mencapai tujuan. Jikapun ada yang mencapai tujuan, justru menjadi sebuah kerugian ketika perilaku anak berubah lebih baik, tapi kemudian malah tidak memiliki kedekatan hati dengan orang tuanya akibat anak sendiri merasa ‘dibuang.’ Jika anak bermasalah dengan perilakunya, orang tua yang harus mengubah perilakunya terlebih dahulu pada anak.

KEDUA, meneruskan yang di rumah, bukan ‘melemparkan.’ Gara-gara anak tidak mandiri, lalu anak dikirim jauh dari orangtua supaya mandiri. Ini tidak tepat. Agar anak tidak kaget, beberapa pembiasaan sederhana di rumah harus dilakukan anak sejak anak usia 7 tahun dan harus sudah menetap ketika usia 10 tahun. Jika pengasuhan orang tua tepat di rumah, sebenarnya tidak sulit melaksanakan pola ini.

KETIGA, survey. Jauh sebelum anak-anak dimasukkan ke pesantren, ajak mereka merasakan suasana pesantren. Biarkan anak merasakan suasananya. Setelah itu ajak berdiskusi. Jika anak sudah mulai tertarik, baru survey pilihan pesantren.

KEEMPAT, pilih pesantren yang peduli pengasuhan, yaitu pesantren yang tidak hanya memperhatikan sisi-sisi  keagamaan saja tetapi juga memperhatikan perkembangan, kenyamanan emosi, dan spiritual anak. Pesantren yang memiliki pengasuh dengan skill pengasuhan, memberikan kesempatan  santri bertemu orangtua secara periodik, membuat kegiatan terstruktur antara orang tua-anak untuk mengakrabkan keduanya.

KELIMA, bersiap dengan kondisi tak terduga. Jika misalnya di tengah jalan anak tidak betah di pesantren. Ketika hal ini terjadi, fokuslah pada apa yang harus dilakukan, bukan terus-menerus mencari jawaban mengapa ini terjadi.  Mengetahui apa yang salah tentu saja penting, tapi berjalan ke belakang harus jauh lebih sedikit dibandingkan berjalan ke depan.