Konsultasi Zakat

Oleh: Ustaz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

Anggota Dewan Pengawas Syariah LMI

Assalamu’alaikum.

Mohon meluruskan mengenai penyaluran zakat secara individu. Setahu saya, kita boleh memberikan zakat kita untuk orang tua. Akan tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa memberi uang ke orang tua adalah kewajiban kita sebagai anak. Jadi tidak selayaknya zakat diberikan pada orang tua. Mohon bantuannya untuk dijelaskan, Ustaz.

Salam,

Arina

Wa’alaikumussalam wr.wb.

Alhamdulillah wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Sejauh pengetahuan kami tidak ada dalil yang secara khusus dan eksplisit melarang seorang muslim atau muslimah untuk membayarkan zakatnya kepada orang tua, baik ibu maupun bapak. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa orang tua bukan termasuk sasaran mustahik dari zakat anak kandungnya. Seperti halnya zakat suami yang tidak boleh diberikan kepada istrinya dan zakat orang tua yang juga tidak boleh untuk anak-anaknya, jika masih bertanggung jawab menafkahi.

Sebabnya adalah sebagaimana kebutuhan nafkah istri merupakan tanggung jawab suaminya, dan nafkah anak yang belum mandiri adalah tanggung jawab orang tuanya. Maka begitu pula menafkahi orang tua yang tidak mampu adalah menjadi tanggung jawab anaknya yang mampu. Lebih dari itu, Islam bahkan menetapkan adanya hak dan jatah bagi orang tua pada harta milik anaknya.

Rasulullah saw bersabda, “Engkau dan hartamu adalah untuk (milik) bapakmu” (HR. Ibnu Majah, At-Thabrani dan Al-Baihaqi. Pada riwayat lain disebutkan, “Engkau dan hartamu adalah untuk (milik) orang tuamu. Sesungguhnya anak2 kalian merupakan bagian dari hasil usaha terbaik kalian. Maka makanlah (ambillah) sebagian dari hasil kerja anak-anak kalian itu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Nah, berdasarkan hadits tersebut, sebenarnya status orang tua terkait harta anaknya  justru bisa termasuk kategori “pemilik”. Atau minimal, hak dan jatah untuk orang tua tentu jauh lebih besar dari sekadar bagian zakat, dimana itu harus dari harta milik sah sang anak. Sementara harta zakat, saat sudah tiba waktu wajibnya, sudah bukan milik pembayarnya lagi. Seperti halnya membayarkan zakat kepada istri atau anak, sama saja dengan membayarkan zakat kepada diri sendiri. Berarti dengan demikian, jika seseorang membayarkan zakat kepada orang tuanya yang tidak mampu, maka seakan-akan ia membayarkan zakatnya kepada dirinya sendiri pula. Hal itu sama saja berarti ia belum/tidak membayar zakat.