Motivasi

Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi

Pembina Surabaya Hijrah (KAHF)

 

Pernah sebuah pernyataan tersampaikan, “Indonesia itu madzhabnya Syafi’I, lho”.

Namun itu dulu, sekarang?

Mmm… Tentunya statement itu mulai bergeser di zaman sekarang, walaupun kalimat tersebut tidak mutlak salah. Mengapa? Karena saat ini gaya ritualitas semakin majemuk dengan segala variasi pendapatnya, baik yang didasarkan oleh dalil naqli maupun pendapat ulama-ulama yang memang berkompeten keilmuannya. Sehingga, menjadi keniscayaan akan adanya perbedaan dalam khazanah keilmuan dalam Islam. Inilah yang kemudian disebut ikhtilaf (perbedaan).

Sahabat taat, ada ucapan yang masyhur dari Imam Qatadah. Bunyinya, “man lam ya’rif al ikhtilafa lam yasyumma anfuhu al fiqh”. Siapa yang tidak mengakui adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat), maka ia sama sekali tidak bisa mencium ilmu fiqih. Kalimat tersebut dicatat oleh Imam Syatibi dalam kitabnya Al Muwafaqat.

Jika tidak mengenal fiqih, bagaimana kita mempraktikkan amal ibadah? Kita akan kesulitan dan (bisa jadi) tidak benar dalam beribadah. Jadi, sebuah hal yang mutlak bin lumrah dalam Islam ini sarat akan perbedaan pendapat. Dimana tersebut disebabkan oleh luasnya dalil dan contoh-contoh kehidupan Rasulullah yang sarat dengan keilmuan dan hikmah, sehingga kemudian diakui serta dipahami secara berbeda oleh para ulama madzhab fiqih.

Jadi, inilah keluasan ilmu agama Islam yang bersumber dari Allah Jalla Jalaluh. Maka, sungguh ilmu Allah begitu luas, hingga ia tak memiliki batas. Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS. Al Kahfi (18) : 109).

Menariknya, dengan luas dan banyaknya ilmu Allah ini diharapkan tidak hanya menjelaskan kebenaran, namun juga bermuara pada kebaikan dan kemanfaatan. Sebab, ilmu Allah itu benar, namun saat salah metode menyampaikannya maka kontraproduksi yang dihasilkan. Ilmu itu benar, tapi saat terniat buruk, maka hilang kebaikan darinya. Dan, Ilmu itu benar, walaupun begitu, saat sikap yang diterapkan tidak tepat, maka hilanglah kemanfaatannya.

So, begitu indah surat Al Baqarah ayat 32, saat Allah Jalla Jalaluh mengakhiri ayat tentang karunia ilmu yang diberikan kepada tiap hamba-Nya. “Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“.

Ayat tersebut diakhiri dengan kata “Al ‘Alim”, baru setelah itu “Al Hakim”. Maksudnya, secara makna bayan dalam ilmu balaghah, setiap kalian yang banyak ilmu dan pemahamannya (‘Alim), muara kepemilikan ilmu kalian adalah berakhlak, di antaranya bijaksana (Al Hakim).

Qanitin dan qanitat

Berbicara ikhtilaf, pasti asyik, karena akan menambah banyak wawasan khazanah keilmuan kita. Namun, ilmu tak sebatas pengetahuan, ia perlu menjadi sikap yang bernama akhlak.

Coba kita maknai luasnya keilmuan sosok pemuda yang pernah didoakan oleh Insan Mulia Rasulullah, dengan sebuah doa yang terekam pada shahih al Bukhari, redaksi doa yang indah sekali. “Allahumma faqqihhu fiddin wa ‘allimhu ta’wil”. Ya Allah, karuniakanlah kepadanya pemahaman agama dan ajarkan padanya ilmu takwil. Sosok pemuda yang beruntung ini bernama Abdullah bin Abbas, yang dikenal pula sebagai Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas adalah sosok yang sangat paham akan ilmu agama, namun pendapatnya tentang hak waris kontraproduktif dengan Zaid bin Tsabit. Keduanya adalah ahli fiqih. Ibnu Abbas mengambil pendapat bahwa kakek dan nenek menghalangi saudara orang yang meninggal untuk mendapatkan waris. Sebaliknya, Zaid bin Tsabit berpendapat bahwa orang tua dari orang tua si mayit tidak menghalangi saudara lain untuk mendapat warisan.

 

 

 

 

 

 

Berbeda pendapat itu boleh, tetapi berakhlak mulia adalah wajib.

Sebuah gambaran ilmu yang berakhlak ini tampak saat Zaid bin Tsabit sedang menaiki seekor keledai, syahdan, Abdullah bin Abbas, memegang tali kekang keledai itu dan menuntunnya. Sontak Zaid bin Tsabit berucap, “wahai anak paman Rasulullah, tolong jangan berbuat demikian!”. Abdullah bin Abbas pun langsung menjawab dengan tutur kata yang indah, “demikianlah Zaid bin Tsabit, begini cara kami yang diajarkan oleh Rasulullah, untuk menghormati ulama kami dan orang-orang berilmu di antara kami”.

Seketika itu pula turunlah Zaid bin Tsabit dan memegang tangan sahabat yang bersanding dengannya, lalu tangan tersebut diciumnya penuh ta’dhim. Abdullah bin Abbas pun kaget dan langsung berucap, “wahai Zaid bin Tsabit janganlah engkau melakukan ini!”. Zaid pun menjawab dengan indah, “seperti inilah kami diajarkan untuk beradab dan berakhlak kepada keluarga Rasululllah”. Kisah ini terekam pada kitab Al Mustar rukyah karangan Imam Al Hazm.

Sobat…

Sungguh indah, keluasan ilmu dimuarakan pada akhlak yang berujung pada penghormatan pada ukhuwah dan persatuan. Bukan sebaliknya, kepemilikan dan pemahaman ilmu Allah malah mengubah cita rasa akhlak, hingga pikiran, tutur kata, serta sikap jauh dari lezatnya akhlak. Pahami ilmu ikhtilaf sebagaimana para ulama mempraktikkan dalam akhlak mulianya. Jadi, yuk ikhtilaf jangan bikin khilaf. (Allahu a’lam)