Bangladesh – Ratusan anak berjejer di depan sebuah wajan besar. Mereka mengantri demi satu kantong mie yang tengah dimasak di wajan tersebut. Ada di antara mereka yang membawa gayung. Ya, gayung itu dipergunakan untuk menaruh makanan. Ada lagi yang membawa tempat makan sederhana seperti mangkok.
Sebagian besar anak-anak itu tidak memakai alas kaki. Pakaian mereka hanya satu potong. Entah celana atau baju atasan saja. Wajah-wajah polos itu begitu senang ketika antrian pemberian makanan mulai dibuka. Satu persatu tangan kecil itu maju untuk mengambil makanan.

Pemandangan itu kerap terjadi di tenda-tenda pengungsian warga Rohingya di Bangladesh. Kemarin (4/11) tim relawan Laznas LMI terjun langsung menyaksikan pembagian makanan di Blok G, Jampoli, Ukhiya, Cox’s Bazar, Bangladesh. ”Anak-anak ini antri makan siang,” ujar anggota relawan Laznas LMI, Susanto.
Kondisi anak-anak di Rohingya memang begitu miris. Selain mengalami keterbatasan makanan. Mereka juga banyak yang sakit. Banyak di antara mereka yang mengalami luka di bagian tubuhnya saat dalam perjalanan melarikan diri dari Myanmar.

Ada salah seorang anak yang mendapat perawatan luka di kakinya. Tim medis mengganti jahitan si anak. Bocah kecil tersebut menangis. Relawan dokter yang menangani berusaha menenangkan. ”Nggak sakit kan, oke ya jangan nangis,” ujar sang dokter. Pasca melepas jahitan, masih banyak pengungsi lain yang harus mendapat penanganan dokter tersebut.

Posko medis Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) jarang sepi pasien. Satu hari saja bisa mencapai ratusan pasien. Seperti kemarin ada sebanyak 262 pasien datang untuk mendapat perawatan. ”Meskipun posko selesai jam 1 tapi pasien biasanya masih terus berdatangan,” ucap Susanto.

Tidak hanya anak-anak, pasien juga banyak dari usia dewasa dan lansia. Banyak pasien yang menderita gangguan pernafasan. Bahkan, ada juga ibu hamil yang harus mendapat pemeriksaan kesehatan janinnya di pengungsian

Saat ini, tim telah menyelesaikan pembangunan rumah klinik di camp pengungsian. Dengan begitu diharapkan penanganan masalah medis bisa dilaksanakan lebih optimal. Rumah klinik itu lebih luas dari pada posko medis sebelumnya. Lokasinya juga mudah dilihat lantaran berada di tepi jalan.

Selain menangani pasien, tim medis juga mengedukasi para pengungsi agar menjaga kesehatan supaya tidak mudah jatuh sakit. Salah satunya edukasi tentang pentingnya kebersihan tangan.

Sementara itu, hingga kemarin tim Laznas LMI telah menyampaikan amanah donasi dari masyarakat Indonesia. Dana yang mencapai 7800$ digunakan untuk penyaluran makanan, distribusi pakaian, dan obat-obatan.

Donasi sejumlah 210.000 Taka disalurkan LMI melalui Koordinator Tim IHA, dr Syafianti. Menurut beliau, bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk pembelian obat-obatan bagi pengungsi. ”Ini akan digunakan untuk pembelian persediaan obat selama 20 hari. Semua pemanfaatannya akan kami laporkan,” ujarnya. (susanto/nir).

Laznas LMI
Jl. Baratajaya XXII No. 20 Surabaya
0822 3000 0909
@lmizakat
Rekening Donasi:

708 2604 191