PARENTING

Oleh: Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog

“Apa, sih, yang kamu suka tentang Ramadhan, Sayang?”

Beragam jawaban terlontar dari mulut sang buah hati kita.

“Banyak sejarah penting terjadi di bulan Ramadhan.”

“Suasana syahdu, rasanya tenang.”

“Ada tadarus, tarawih.”

“Buka bersama… Hmmm, tiap hari ada takjil.”

Ramadhan kembali menjelang. Semarak mulai terasa. Kurma yang terpajang di supermarket, toko-toko baju menggelar busana muslim keluaran terbaru, sinetron Islami mulai tayang. Lantas di rumah kita, semarak Ramadhan apa yang mulai terasa?

Seperti biasa, kesibukan duniawi menyita dari hari ke minggu, minggu ke bulan, dan bulan ke tahun. Andai Tuhan tak menitipkan Ramadhan di sela-sela waktu 12 bulan, mungkin manusia benar-benar lupa bahwa ia suatu saat harus mengakhiri bersenang-senang di dunia!

Tahun kemarin ada janji terucap, Ramadhan tahun depan harus sudah hafal 3 juz, agar lebih mudah berinteraksi dengan kitabullah tanpa harus terpaku di atas sajadah. Setahun berselang, hanya sedikit hafalan bertambah. Tahun kemarin berjanji untuk berbelanja jauh-jauh hari sebelum Ramadhan agar di bulan shaum tak harus bergerilya di supermarket mencari diskon, namun apa daya seringkali THR baru turun menjelang lebaran. Orangtua sebetulnya tak ingin beli baju baru, tapi kadangkala, memang hanya Ramadhanlah tersedia dana sisa untuk mengganti baju anak-anak yang telah usang.

Ramadhan sebentar lagi. Bulan untuk mengevaluasi diri, berapa ya jumlah hafalan quran anak-anak kita? Ups, ternyata tak banyak bertambah sebab kita lalai. Kok anak-anak masih belum hafal cerita 25 Nabi, minimal garis besarnya? Hmmm, mengapa mereka tidak tahu siapa Nabi Ilyas dan Ilyasa. Mengapa mereka belum tahu keutamaan Nabi Idris, Nabi Syuaib, Nabi Harun? Dan, ah… Mengapa anak-anak lebih mengenal Naruto dan Conan dibanding pertempuran Hattin, ya?

Rajab dan Sya’ban ini, mari kita rencanakan apa agenda besar Ramadhan untuk keluarga kita. Yuk, Sayang, pilih salah satu surat Al quran yang paling kamu suka, lalu hafalkan, dan baca tafsirnya. Siapa sahabat atau shahabiyah Nabi yang paling mengesankan? Siapa saja target keluarga yang akan kita tolong? Bisakah kita membelikan kurma dan baju baru untuk anak yatim atau keluarga miskin yang dikenal?

Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan, sekeluarga – sekampung – senegara. Kaum muslimin dan muslimat sedunia. Seluruhnya utuh, dipersatukan.

Kemudian, tanpa terasa Ramadhan pun sudah berlalu.

Tapi, aduh… Kebiasaan buruk masih dilakukan. Malah, ini lagi masanya futur alias iman anjlok ke derajat malas-malasnya. Bagaimana ya mengatasi semua biar maksimal?

Insight adalah kondisi ketika manusia mampu melihat secara menyeluruh konteks dirinya, lingkungan, masalah dan semua elemen dalam kehidupan ini. Ibadah pun demikian. Jika selama ini belum insight, belum sempurna sudut pandangnya, belum tahu buat apa salat, kegunaan, dan segala macam elemen yang mengiringi salat ia kan berlalu begitu saja.

Modifikasi Perilaku. Sudah tahu sholat bagus. Percaya keutamaan duha, qiyamul lail. Tapi masih saja malas. Modifikasi perilaku langkah awalnya mengecek semua aktivitas kita selama sehari. Ayo, coba buat daftar atau tabel mulai dari pukul 04.00 – 21.00. Bisa tiap 30 menit, kalau mau detil tiap 10 atau 5 menit. Lalu tempel di dinding. Ini memang masih sederhana, untuk penyakit yang belum kronis dan akut.

Radikal atau Bertahap. Mengubah perilaku ada yang radikal, ada yang bertahap. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Di bawah ini beberapa contoh dari puluhan terapi perilaku. Sekali lagi, ini untuk perilaku yang masih belum parah ya. Karena jika sudah pada level tertentu, harus didampingi seorang ahli.

Aversive. Intinya, memasangkan hal yang disukai dengan hal yang tidak disukai. Jangan nonton sambil ngemil, walau sama-sama enak. Cobalah nonton sambil berdiri selama 2-3 jam. Pokoknya, kita punya komitmen: aku mau mengurangi nonton, makanya kalau pas nonton jangan dibarengin sama hal yang enak-enak.

Implosif alias pembanjiran. Tapi ini juga harus hati-hati, salah-salah jadi adiktif. Saya sudah pernah mencoba dan hasilnya cukup berhasil. Lakukan terus tanpa jeda, misal suka nonton. Nonton terus 24 jam! Saya pernah malas Ibadah, lalu terus nonton. Hanya nonton. Sinetron, berita, infotaintment. Malah saya paksakan nonton sinetron yang lebay-lebay. Alhasil, rasanya hati ini capeeeek banget. Rindu duduk lama di atas sajadah sambil menghafal Quran, atau rindu membaca kisah para mujahid da’wah.

Desensitisasi. Inilah perubahan bertahap. Sedikit demi sedikit dikurangi, ditambahi. Memang bagi perilaku tertentu yang sudah sangat buruk, betul-betul harus dipantau dan didampingi. Tapi untuk perilaku ringan, cobalah sendiri. Misal, pengalaman pribadi saya sholat duha. Saya suka salat dalam kondisi bersih dan sudah gak ada gangguan. Rumah rapi, wangi, dipel, belanjaan beres. Sudah mandi, ganti daster baru, rasanya nyaman banget. Kadang malah salat duha pukul 10.30, nyambung nulis, terus sampai zuhur. Tapi ini semua ada batas waktu jenuhnya.

Wah, rasanya akan senang sekali ketika kita berhasil menang mengalahkan diri sendiri!

Jadi, persiapan apa yang sudah Anda lakukan untuk menyambut Ramadhan?