Rubrik Parenting

 

Oleh: Sinta Yudisia

Penulis, Psikolog

Sungguh, tidak ada anak-anak yang begitu saja melahap makanan dengan gizi seimbang.

Alangkah ringan beban orang tua ketika anak doyan makan nasi, berkuah sayuran, berlauk protein dari ikan atau kacang-kacangan, menyantap buah, dan menenggak susu pun seperti menyesap es krim.

Biasanya anak-anak akan menolak mentah-mentah segala hal terkait sayuran. Tak semua anak suka ikan dan susu. Begitupun, ada anak yang sama sekali menolak nasi. Kalaupun mau menyantap karbohidrat, pilihannnya kentang, roti, atau mie. Penganan yang tidak mudah disiapkan untuk seluruh anggota keluarga yang relatif menyukai nasi sebagai bahan makanan pokok. Meski agenda makan seperti ladang perang bagi orang tua, apalagi yang memiliki anak balita, selayaknya orang tua pantang menyerah begitu saja. Lalu karena tidak sabar, orang tua beralih segera pada makanan yang merangsang selera seperti makanan yang banyak mengandung MSG atau bahan tambahan lainnya.

Makanan cepat saji atau fast food umumnya disukai berbagai kalangan.

Selain iklannya begitu menggoda, sajiannya menggugah selera, terpampang sebagai menu andalan café atau resto ternama; orangtua harus pandai-pandai mengarahkan ananda. Bukan saja dompet bisa jebol kalau menuruti selera berbelanja menu di luar rumah setiap kali waktu makan tiba, namun ancaman terhadap kesehatan anggota keluarga adalah pertimbangan utama. Bagaimana cara mengatur agar anak-anak tidak selalu meminta mie, sosis, pentol, sempol, atau berbagai jenis masakan yang banyak dijual di luar sana?

Pertama, agenda makan bukanlah masa hukuman apalagi siksaan. Betapa sering ayah, ibu, kakek, atau nenek, termasuk asisten rumah tangga yang kelelahan dalam upaya mengantarkan sesuap makanan ke mulut anak. Akibatnya ancam mengancam muncul.

“Kalau tidak habis nanti ditangkap polisi!”

“Kalau sakit karena nggak makan, nanti disuntik dokter.”

Padahal, agenda makan bisa menjadi ajang pembelajaran dengan menceritakan warna warni sayuran. Apa warna wortel? Apa warna kembang kol dan brokoli? Kenapa terung berwarna ungu, bukannya biru? Orang tua atau siapapun yang menyuapi anak dapat menceritakan proses petani menanam padi sampai proses memasak sayuran. Capek karena harus cerewet? Tentu. Tapi lebih baik bercapek-capek mulut demi menghasilkan anak yang nantinya sadar dan mandiri menyantap makanan sehat; daripada ancam mengancam yang menyebabkan anak kelak mogok makan.

Kedua, waktu makan adalah masa kebersamaan. Sembari mengunyah makanan, orang tua dapat menanyakan apa saja aktivitas yang telah dilalui anak sepanjang hari. Orang tua dapat pula menceritakan aktivitasnya selama 24 jam, tentu dengan memilih apa jenis aktivitas tepat yang dapat dikisahkan. Kemacetan lalu lintas dan perselisihan antar bawahan dan karyawan tidak layak diangkat ke meja makan. Tetapi cuaca cerah, matahari yang bersinar terang, awan yang berbentuk bagai bulu-bulu domba, berbagai macam pohon yang dilihat sepanjang perjalanan rumah-kantor adalah beberapa bahan percakapan yang dapat menimbulkan rasa bersemangat.

Ketiga, biasakan fokus pada pekerjaan agar anak tak kehilangan selera  menyantap. Berhubung anak seringkali membutuhkan waktu lama untuk mengunyah, orang tua pun seringkali menggunakan waktu jeda itu untuk berinteraksi dengan gadget. Akibatnya anak menjadi kehilangan perhatian dan mencontoh di lain waktu, bahwa banyak pekerjaan dapat ditunda ketika gadget adalah prioritas utama.

Keempat, orangtua baik ayah atau ibu dapat mencoba berbagai menu masakan menyerupai jajanan yang dipasarkan di luar rumah. Sosis, bakso, mie, sempol , pentol, burger, hotdog dan lain sebagainya dapat disiapkan sendiri di rumah. Memang membutuhkan energi dan waktu khusus untuk menyiapkan. Tak ada salahnya sesekali mencoba menu yang banyak tersebar di internet berikut tips-tipsnya. Tidak semua bahan perlu disiapkan sendiri dari nol. Bakso dapat dibuat dari daging cincang yang dibeli di supermarket atau di tukang sayur keliling. Sempol, pentol, siomay dan berbagai jenis panganan pun demikian.

Kelima, cara penyajian. Menu di luar rumah seringkali jauh tak enak dibandingkan masakan sendiri. Rasanya hambar, hanya terasa vetsin mendominasi. Karena disajikan dalam wadah cantik dan piring datar, sendok garpu dililit tissue makan; tampilan menu biasa pun menjadi sajian elegan. Orang tua dapat mencontoh. Menu bisa jadi hanya nasi, tempe tahu, sayuran. Tetapi bila diletakkan dalam nampan, nasi dibentuk gundukan kecil menggunakan cangkir, sayur dituang ke mangkok kecil berwarna cerah, tahu tempe dipotong dadu dan ditusuk seperti sate; ananda akan lebih bergairah menyantap.

Yuk, jadikan setiap waktu makan adalah saat berpesta, apapun lauknya. Semoga masakan rumah jauh lebih dirindukan ananda daripada fast food di luar sana.