Banjarbaru – Pertanian merupakan sektor penting bagi negara. Namun, hingga kini petani yang menjadi sosok utama pengolah lahan pertanian sering terpinggirkan. Karena itu, Laznas LMI tergerak untuk ikut melaksanakan program pemberdayaan petani.

Pada Kamis (2/11) lalu, para petani binaan Program Social Charity dari Yayasan Generasi Robbani Banjarbaru, mitra Laznas LMI mendapat kunjungan dari PBB. Tepatnya dari International Fund for Agricultural Development (IFAD). Yakni, sebuah badan yang fokus terhadap pengembangan pertanian. Badan yang  berkantor pusat di Roma, Italia ini mengunjungi persawahan di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru. IFAD diwakili oleh Harold, Pari Bauman, Ximena Novoa Cleves dan Sarah. Mereka berasal dari Jerman dan Italia.

Mereka didampingi staf Kerjasama Perencanaan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP ) Kementerian Pertanian Winarti Halim. Kegiatan tersebut juga dihadiri mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Program kunjungan itu disambut baik oleh petani. Pertemuan berlangsung gayeng. Sebanyak 15 petani melakukan diskusi langsung dengan IFAD. Salah seorang petani, Imron, berkeinginan untuk mengembangkan pertanian sebagai objek wisata. ” Sawah saya sudah sering dikunjungi siswa sekolah dasar untuk program belajar bertani,” ujar pria berusia 35 tahun itu. Lain lagi dengan Kuwat. Pria berumur 39 tahun tersebut curhat tentang permasalahan yang dihadapi petani. Misalnya kendala musim tanam. Dia menyebutkan, jika semua petani menanam cabai di bulan yang sama, maka pada waktu panen bisa dipastikan harga cabai akan rendah. Sebab, stok di pemborong melimpah. Begitu juga sebaliknya, jika stok cabai menipis, harga cabai di pasaran menjadi mahal.Dia juga mengungkap rencana peralihan lahan sawah menjadi komplek pemukiman. Padahal, kondisi tanah di daerah itu cukup bagus untuk menanam sayuran. Mayoritas para petani di sana menanam bayam, daun bawang, kangkung, dan cabai.