Zakat adalah Indikasi Ketakwaan

oleh : Roem Rowi (Ketua Dewan Pengawas Syariah LMI)Ust Roem rowi

 

Dalam risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahualahiwassalam, ternyata kriteria pertama yang mendasar sebagai seorang yang bertakwa bukan terletak pada shalat, puasa, atau bahkan naik haji. Namun pada sesuatu yang ghaib, sesuai dengan firman Allah Subhanahuwata’ala dalam surat Al Baqarah ayat 2 dan 3 : “Dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin. Alladzina yu’minuuna bil ghaib..”(Al Quran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.  (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib…..).

Secara tafsir, pengertian dari yang ghaib ini adalah hal yang tak terjangkau oleh indera  ataupun akal, sehingga tak mampu untuk ditelaah secara rasional dan empirik oleh manusia.

Walau tak dapat di lihat oleh mata, namun kekuatan ghaib inilah yang menjaga hidup kita sehingga kita dapat menjalani fase-fase kehidupan dengan baik. Dan ini seringnya terlupakan dalam hidup kita.

Zakat dan infaq itu merupakan hal yang unik. Karena saat ini mencari kerja sangatlah sulit, atau jika mendapatkan kerja maka penghasilannya tidak cukup.  Namun  manusia ternyata wajib mengeluarkan zakat atau infaq dalam setiap hartanya.

Maka bagi orang-orang yang belum mencapai derajat takwa, sungguh menjadi hal yang membingungkan. Karena hidup di jaman yang serba susah ini justru malah diwajibkan agar tetap berzakat atau juga mengeluarkan infaq.

Sering pertanyaan mengapa harus berzakat? Mengapa harus berinfaq, sedangkan untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup saja sulit. Apakah dengan zakat dan infaq dapat menambah rejeki?

Padahal kita lupa, bahwa rejeki itu adalah milik Allah. Dan hak mutlak Sang Maha Kuasa untuk memberikan rejekinya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sedangkan manusia sebagai hamba kita harus meminta kepadaNya, salah satunya dengan melaksanakan apa yang sudah menjadi ketetapanNya.

Dalam risalah yang di ajarkan Rasul, zakat dan infaq dapat menjauhkan diri dari bencana dan juga  menyucikan harta dan jiwa kita.  Selain itu, manfaat dari zakat dan infaq adalah untuk mengembangkan rejeki kita serta membentengi diri dari api neraka.

Kita sering mendengar, cerita orang-orang yang terhindar dari musibah. Kita juga terbiasamelihat orang yang justru bertambah kesuksesan usaha, setelah berbagi dengan orang-orang yang tak mampu sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang percaya, bahwa Allah menitipkan hak orang lain dalam rejeki yang didapat, dan memberikannya kepada yang berhak menerimanya.

Itulah hal-hal ghaib yang melindungi manusia dari hal-hal yang tak diinginkan. Dan itu pula manfaat dari zakat serta infaq yang dikeluarkan. Manfaat yang tak dapat dilihat, namun dapat dirasakan keberadaannya.

Karena itulah, semestinya zakat dan infaq menjadi kebutuhan kita. Karena bukan hanya mendapatkan mafaat, lebih jauh dari itu, sebagai orang yang beriman, maka kita menginginkan surga, dan itu dapat kita raih dari ketakwaan yang dalam hal ini takwa terhadap hal ghaib.

Pastinya, sumber ghaib tersebut hanyalah satu, yaitu Allah azza wa jalla, pemilik segala kuasa di muka bumi. Sebab Dia lah, sang Penguasa segala kejadian di dunia ini.

Maka, janganlah sampai melupakan akan zakat dan infaq. Dan berlombalah untuk mencapai kebaikan, dengan melaksanakan hal-hal yang telah di tetapkan olehNya. Wallahu’alam bishshawwab.