Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim memiliki beberapa nama lain, yaitu Kakek Bantal, Sunan Tandhes, Sunan Raja Wali, Wali Quthub, Sunan Gibrig, Maulana/Sunan/Syekh Maghribi. Beberapa sumber menulis penyebutan  “Maghribi” berdasar pada daerah asalnya, sebuah kawasan di Afrika Utara.

Kedatangan Maulana Malik Ibrahim ke Jawa merupakan perintah dari Khalifah Turki Utsmani, yaitu Sultan Muhammad I. Selain mengusai ilmu agama Islam, Maulana Malik Ibrahim juga seorang ahli irigasi dan tata negara. Sebelumnya dia pernah ditugaskan di Hindustan untuk membangun irigasi pada pemerintahan Kerajaan Mughal. Sehingga kapasitasnya akan sangat bermanfaat untuk masyarakat Jawa yang rata-rata mata pencahariannya adalah bertani.

Selama hidupnya, tercatat bahwa selama dakwah hingga meninggal di Gresik, Maulana Malik Ibrahim memiliki tiga istri:

  • Siti Fatimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil, putri Raja Champa.

Dua putra terlahir dari pernikahan ini, yaitu Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah. Pada kemudian hari, Syarifah Sarah dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha. Melalui perkawinan ini, Maulana Malik Ibrahim memperoleh dua cucu yaitu Haji Utsman (Sunan Mansyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Hingga kemudian dari Sunan Ngudung lahirlah Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus).

  • Siti Maryam binti Syekh Subakir. Pada pernikahan ini lahir empat putra, yaitu Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad.
  • Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, cucu dari Syekh Yusuf As-Syandani Pattani Thailand. Pada pernikahan ini lahir 2 putra yaitu Abbas dan Yusuf.

Dakwahnya dimulai sejak 1404 dan tokoh yang lebih dikenal Kakek Bantal ini wafat pada 1419 di Gresik, Jawa Timur. Uniknya, beberapa catatan sejarah tampak pada nisan makamnya yang dihiasi dengan beberapa ayat, yaitu Surat Ali Imran : 185, Ar-Rahman : 26-27, At-Taubah : 21-22, dan ayat Kursi.

Berdasarkan model nisan Kakek Bantal, ditemukan pula model nisan serupa pada makam Sultan Malikus Saleh di Samudera Pasai, Aceh. Menurut sejarawan Moquette, model tersebut mengacu pada model yang ada di Cambay, India. Fakta ini mengungkap bahwa terdapat hubungan kekuatan politik Islam antara Maulana Malik Ibrahim, Kerajaan Samudera Pasai, dan Gujarat India dalam perdagangan dan pelayaran.

Maulana Ahmad Jumadil Kubra

Maulana Ahmad Jumadil Kubra seringkali disebut dalam babad dan cerita rakyat tentang perannya sebagai pendahulu dalam mensyiarkan Islam di Jawa. Menurut Serat Khanda dia berdakwah di Mantingan, Nyampo di Suku Dhomas, Dada Petak di Gunung Bromo. Namanya pun tercatat dalam “History of Java” yang ditulis oleh Raffles bahwa Maulana Ahmad Jumadil Kubra merupakan pembimbing wali yang pertama.

Dia adalah ahli militer yang ditugaskan berdakwah oleh Sultan Muhammad I dari Khalifah Turki Ustmani. Dia ditugaskan untuk mensyiarkan Islam di lingkungan kerajaan Majapahit, di Trowulan, Mojokerto. Berkat wawasannya tentang kemiliteran dan strategi perang, kehadirannya disambut baik oleh pihak kerajaan.

Maulana Ahmad Jumadil Kubra dikenal juga dengan bapak para wali, sebab dari anak keturunannya dakwah Islam di Nusantara terus dilakukan. Di antaranya adalah Maulana Ishaq, Sunan Ampel, Sunan Giri (Raden Paku), dan Sunan Drajat (Raden Qosim).

Maulana Ishaq

Maulana Ishaq berasal dari Samarqand, salah satu provinsi di Uzbekistan. Dia memiliki keahlian di bidang pengobatan.  Kedatangannya ke Jawa bersamaannya dengan ayahnya, Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubra dan pamannya, Maulana Malik Ibrahim. Pada awal kedatangannya, Maulana Ishaq tinggal di Gresik. Kemudian dia ditugaskan berdakwah ke Blambangan. Pengaruhnya pun sampai daerah Panarukan, Pasuruan, dan Surabaya.

Putri dari Prabu Menak Sembuyu Adipati Blambangan yang bernama Dewi Sekardadu dinikahi oleh Maulana Ishaq. Namun karena Adipati Blambangan tidak suka dengan dakwah Islam yang dilakukan menantu, maka Maulana Ishaq diusir dan pindah ke Pasai.

Ketika di Pasai Maulana Ishaq mengajarkan Islam hingga akhir hayatnya. Di antara murid-murid yang kemudian melanjutkan dakwahnya adalah putranya sendiri yaitu Ainul Yaqin (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).