Mualaf

Seperti halnya nasihat, tidak akan sampai ke hati jika tidak disampaikan dengan hati. Begitu pula dengan pengalaman Jefry Darmawan (26), pemuda asal Surabaya yang diungsikan ke Sumba oleh orang tuanya karena bengal. Selama di tanah rantau, dia justru bertemu dengan orang-orang baik yang menggerakkan hatinya menjadi seorang mualaf.

Saat SMA di tahun 2008 Jefry  dikirim orang tuanya ke rumah pamannya di Waibukak, Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pada masa itu dia sedang dalam urusan yang pelik dengan kepolisian. “Saya nakalnya minta ampun. Jadi terpaksa, saya pergi dari Surabaya dan melanjutkan sekolah SMA di Sumba,” kenang pemuda yang September lalu pindah ke Palu, Sulawesi Tengah ini.

Mayoritas orang Sumba beragama Kristen dan Katolik, tapi Jefry bertemu kawan sesama orang Jawa, muslim, sebut saja namanya Hasan. Sosok Hasan ini tidak jauh beda bengalnya dengan Jefry, mereka satu komplotan ‘murid pembangkang’ di sekolah. Bahkan, bisa jadi Hasan lebih parah darinya. Namun, ada satu hal yang selalu diingat oleh pemuda yang saat itu baru pindah ini, bahwa keluarga Hasan sangat baik hati.

Orang tua Hasan sehari-hari bekerja sebagai penjual rujak cingur. Herannya, mereka selalu menggratiskan setiap kali Jefry berniat membayar pesanannya. Sering pula Ibu Hasan justru memberinya makan tanpa Jefry meminta.

Hingga suatu saat dia bertanya, “Bu, opo gak rugi nggratisi aku? Kan sampean dodolan.”

Tanpa diduga, pertanyaan tersebut dijawab dengan, “Awakmu wes tak anggep anak dewe, Le. Rezeki wes diatur Allah.”

Bagi Jefry yang selama ini bersekolah di sekolah Katolik, begitu pula saat di Sumba berteman dengan anak-anak Kristen dan Katolik, kemuliaan hati Ibu Hasan sebagai muslim menyentuh perasaannya. Sebagai orang muslim minoritas di Sumba, bagaimana bisa keluarga ini begitu baik dengan orang dari agama lain.

Bukan hanya terkagum dengan kebaikan hati Ibu Hasan, Jefry juga dibuat geleng-geleng kepala melihat betapa tawadhu’-nya Hasan kepada kedua orang tuanya. Hasan yang dikenal garang di sekolah, begitu masuk rumah dia adalah anak yang sangat hormat kepada orang tua. Bukan hanya membantu belanja bahan untuk ibunya berjualan, Hasan bahkan tidak pernah membantah setiap dimintai bantuan.

“Hal yang paling bikin saya terkesima adalah kebiasaan Hasan mencium tangan ayah ibunya. Saya, sebagai orang Jawa dan orang besar dengan ajaran Katolik, tidak pernah melakukan akhlak semulia itu kepada orang tua saya sendiri,” akunya.

Diam diam, dia mulai penasaran ingin mempelajari Islam.

Selepas dari SMA, Jefry merantau ke Bali. Dia masih sibuk dengan kebiasaan jahiliyah dan nyaman menikmati uang hasil dari usahanya di ‘dunia gelap’. Usaha yang kini disesalinya itu membuat Jefry tidak pernah kekurangan uang dan tidak pernah sehari pun absen dari pesta dan mabuk-mabukan.

Merasa bosan, akhirnya pemuda yang akrab dipanggil Sinyo oleh teman-temannya ini pindah ke Lombok untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Gajinya tidak seberapa, hanya Rp300.000 per minggu. Tapi, anehnya, majikan pemilik rumah bernama Haji Rahmat melebihkan upahnya Rp50.000 lagi.

Haji Rahmat tinggal di dekat masjid desa yang selalu ramai jamaahnya. Saat itu Jefry hanya mengamati tanpa pernah bertanya mengapa Haji Rahmat memasang kran di depan rumahnya dan mempersilakan orang lain menggunakan air dari kran tersebut secara cuma-cuma. Selang beberapa waktu, dia tidak kuat lagi menahan untuk tidak bertanya.

“Pak Haji, kenapa Bapak buang-buang air untuk orang-orang? Kan, rugi, bayar tagihannya jadi mahal,” celotehnya.

“Hei, ndak papa. Allah yang akan menggantinya nanti,“ kelakar Haji Rahmat.

Belum selesai, kini berbalik Haji Rahmat yang bertanya pada Jefry, “kamu saya lihat tidak pernah ke masjid?”

Kali ini Jefry hanya menelan ludah. Merasa ditegur. Kemudian dia menjawab, “saya katolik, Pak.”

Pertanyaan Haji Rahmat berlanjut, “kenapa saya juga tidak pernah lihat kamu ke gereja?”

Ucapan Haji Rahmat terus diingatnya. Jefry tidak lagi merasakan jiwanya adalah umat Katolik. Sementara hatinya semakin tertarik dengan Islam. Apalagi, setelah percakapan sore itu, Pak Haji memberinya upah tambahan Rp100.000 lagi. Dia semakin heran mengapa orang asing tersebut baik padanya, sama seperti keluarga Hasan.

Hingga kemudian tahun 2013 dia kembali ke Sumba untuk berislam secara diam-diam.

Sayangnya, sebagai muslim tidak lantas membuat kehidupan Jefry berubah.  Dia masih akrab dengan maksiat. Apalagi sejak menjadi kepala proyek pembangunan jembatan di salah satu lokasi wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Hidupnya semakin tidak karuan.

Pada satu malam Jefry pingsan. Dia koma lima hari dan dilarikan ke rumah orang tuanya di Surabaya. “Lambung dan ginjal saya rusak. Tubuh saya hancur. Tapi, saya lihat ibu saya hadir di sana. Subhanallah, Allah masih mengizinkan saya hidup,” kenangnya. Ibunda Jefry pun tidak marah saat mengetahui anaknya kini memeluk Islam. Bahkan ibunya mendukung, jika memang menjadi muslim dapat membuat hidupnya lebih baik.

“Allah sebenarnya sudah memberi hidayah Islam kepada saya sejak bertemu dengan keluarga Hasan dan Haji Rahmat. Kemuliaan hati mereka menerangi sisi hidup saya yang gelap. Semoga saya bisa menjadi seorang muslim yang baik, yang menyentuh hati setiap orang dengan akhlak yang mulia,” harap Jefry yang sejak September 2018 lalu tinggal di Palu, Sulawesi Tengah bersama istri dan anaknya.