Salah satu daerah di Indonesia yang tidak menyembelih sapi sebagai hewan kurban setiap iduladha adalah Kudus, Jawa Tengah. Pada hari-hari biasa, daging sapi pun terbilang jarang ditemukan di Kudus. Masyarakat lebih memilih daging kerbau untuk berkurban maupun menu masakan sehari-hari. Fenomena tidak terlepas dari ajaran Sunan Kudus yang datang ke tanah Jawa pada abad 14.

Sunan Kudus berasal dari Palestina dan memiliki nama asli yaitu Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan.  Ayahnya adalah seorang panglima perang Kesultanan Demak, Raden Usman Haji atau Sunan Ngudung yang tewas saat melawan kerajaan Majapahit. Dia banyak belajar ilmu agama dan strategi perang dari sang ayah. Sehingga, setelah ayahnya wafat maka Sunan Kudus mengambil alih amanah sebagai panglima perang Kesultanan Demak.

Selain sebagai panglima perang, Sunan Kudus juga pernah menjabat sebagai penasihat sultan Demak dan Mufti yaitu ulama yang memiliki hak dalam menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa. Sebagai seorang yang menguasai ilmu fikih sekaligus sosok yang menerapkan toleransi, maka saat itu Sunan Kudus  menganjurkan umat Islam di Kesultanan Demak untuk tidak memakan sapi. Hal ini dilakukan demi menjaga perasaan orang hindu dan budha yang meyakini bahwa sapi adalah hewan yang sakral.

Berguru dari Sunan Kalijaga

Toleransi yang diterapkan oleh Sunan Kudus didapatkan dari gurunya, Sunan Kalijaga. Ulama yang memiliki nama asli Raden Said ini kerap menerapkan dakwah Islam melalui kearifan lokal. Sunan Kalijaga pun dikenal sangat dekat dengan masyarakat, karena mengenalkan Islam melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sekitar. Menurut cerita, dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga adalah perampok yang ngambil hasil bumi milik orang lain mencuri harta orang-orang kaya untuk diberikan kepada masyarakat miskin. Hingga kemudian dia bertemu dengan Sunan Bonang yang menasihatinya agar bersedekah menggunakan harta yang didapat secara halal. Sejak itu dia pun berguru pada Sunan Bonang.

Sunan Kalijaga yang berdakwah dengan pendekatan kebudayaan meyakini bahwa masyarakat akan menjauh sebelum sempat mengenal Islam jika diserang langsung keyakinannya, apalagi apa yang mereka yakini sudah berlangsung turun-temurun sejak nenek moyang. Maka, seorang pendakwah harus diterima terlebih dahulu hingga menumbuhkan kenyamanan dan kepercayaan. Kemudian, jika ajaran-ajaran Islam yang telah diperkenalkan dapat diterima dan dipahami, maka kebiasaan yang tidak sesuai dengan syariat lama-kelamaan akan ditinggalkan.

Ajaran-ajaran Islam dari Sunan Kalijaga masuk melalui seni ukir, tokoh pewayangan, gamelan, dan suluk lagu. Salah satu suluk yang terkenal adalah Lir-ilir yang berisi nasihat agar tidak berputus asa serta yakin pada pertolongan Allah yang sangat dekat. Ada pula lagu Gundul Pacul yang memiki makna tersirat tentang  pemimpin yang tidak amanah. Melihat karya sang guru, Sunan Kudus pun ingin menerapkan metode serupa untuk mengenalkan Islam kepada masyarakatnya.

Masjid dan Menara Kudus

Sunan Kudus dikenal sebagai pendakwah yang menerapkan pendekatan budaya. Salah satu peninggalannya adalah masjid yang dikenal dengan nama Al-aqsa dan menara Al-manar yang dibangun pada tahun 1549. Diceritakan bahwa peletakan batu pertama menggunakan batu dari Baitul Maqdis, Palestina. Sehingga, nama masjid ini diberi nama Al-aqsa. Bangunan ini terletak di Kauman, Kabupaten Kudus. Gaya arsitekturnya menyerupai candi, dan kubah pada masjidnya menyerupai masjid Al-aqsa di Palestina. Bentuk ini merupakan simbol akulturasi budaya Islam, Hindu, dan Budha.

Ada perdebatan terkait pembangunan menara yang menyerupai candi Hindu ini, apakah benar dibangun oleh umat Islam atau oleh umat Hindu. Jika dilihat posisinya yang menghadap barat, tentu saja ini adalah bangunan umat Islam yang mengarah pada kiblat. Sebab bangunan tempat ibadah umat Hindu selalu mengarah ke gunung, jika di Kudus maka harusnya menghadap ke utara, sesuai letak Gunung Muria. Pada menaranya pun kita tidak akan menemukan arca maupun ukiran seperti halnya candi Hindu dan Budha.

Sunan Kudus berkarya untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat awam, sehingga Islam dapat diterima sebagai agama yang ramah dan dapat diterabkan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini, ajaran toleransi tersebut tetap melekat dalam kehidupan social masyarakatnya.