agung heru sOleh : Agung Heru Setiawan
Direktur Utama Laznas LMI

Ramadhan di Indonesia memang penuh sensasi, dalam penyambutan datangnya Ramadhan nampak berbeda nuansanya dengan negara-negara lain, ditambah lagi setiap daerah selalu ada tradisi sambut Ramadhan yang khas. Terasa sensasi itu juga sudah nampak saat Indonesia diproklamirkan sebagai negara merdeka pada bulan Ramadhan tepatnya pada hari Jum’at jam 10:10 WIB, 9 Ramadhan 1364 H oleh Proklamator RI, Soekarno-Hatta. Maka tidak mengherankkan pememimpin negeri ini dahulu mengkaitkan Kemerdekaan Indonesia dengan Iman kepada Allah SWT. “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Bulan suci Ramadhan jangan hanya dianggap sebagai rutinitas saja yang disambut dan dilepas setiap tahunnya, jangan terjebak ke dalam rutinitas belaka. Agar Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas, kita harus memiliki niat dan tekad yang kuat untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah Ramadhan sampai terasa sensasinya. Orientasi utama di bulan kemuliaan ini adalah penyucian jiwa atas apa yang telah dilakukan selama setahun yang lalu,  sarana untuk meningkatkan iman dan takwa. Dengan bersungguh-sungguh ber Sensasi Ramadhan, maka di akhir Ramadhan umat islam akan tampil sebagai jiwa dan pribadi yang lebih baik serta dengan keimanan yang semakin meningkat, itulah yang disebut Muttaqin.

Kenikmatan sensasi Ramadhan sudah kita rasakan saat ini, sensasi saat berpuasa, saat shalat tarawih, saat sahur dan saat berbuka bersama. Tentu, sensasi yang mampu dirasa pasti berbeda-beda antara satu insan dengan lainnya. Bergantung sejauh mana kualitas dan kuantitas  ibadah Ramadhan yang kita lakukan dalam mengetuk pintu-pintu surga-Nya dan menutup pintu-pintu neraka-Nya dengan menjauhi semua amal kemaksiatan.

Ramadhan merupakan momentum yang sensasional. Hal tersebut dapat kita rasakan secara langsung dari gegap gempita setiap elemen masyarakat, pemerintah, perusahaan ataupun media massa. Pertumbuhan ekonomi dan tingkat solidaritas sosial pun turut menggemparkan saat Ramadhan. Dan hingga saat ini di Indonesia, belum ada momentum yang kegemparannya melebihi sensasi Ramadhan.

Bagi para pelaku bisnis, bulan Ramadhan menjadi berkah tersendiri. Pelaku usaha mengalami kenaikan omset yang cukup signifikan selama Ramadhan. Menurut Bank Indonesia, peredaran uang selama Ramadhan tahun 2016 lalu diperkirakan mencapai 160,4 triliun, hal yang cukup menggembirakan bagi perekonomian Indonesia.

Sayangnya capaian diatas hanya dirasakan oleh kalangan masyarakat menengah ke atas saja. Di bulan ramadhan, masih tampak kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin di Indonesia. Indeks Rasio Gini tahun 2015 bertengger di angka 0,41, yang artinya sebanyak 40 persen aset negara dimiliki oleh sekitar 1% penduduknya saja. Ironinya penduduk Muslim yang merupakan mayoritas di Indonesia sebagian besar justru berada di luar kelompok 1% tersebut. Sungguh sebuah fakta yang memprihatinkan bagi bangsa Muslim terbesar di dunia ini.

Karena itulah Ramadhan momentum tepat untuk membangun perekonomian umat. Tidak hanya sensasi peningkatan kualitas ibadah dengan kuantitasnya yang harus kita perjuangkan, tetapi juga sensasi meningkatnya ekonomi umat. Selama Ramadhan kita diwajibkan menahan diri dari lapar, haus, dan segala hal yang bisa membatalkan puasa, dengan puasa kita dididik untuk mampu menguasai diri, mengendalikan nafsu agar tak senantiasa dituruti, dan melatih kesabaran serta ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup. Kita dilatih agar menjadi muslim yang jauh dari sifat boros. Dengan ibadah puasa yang benar akan mampu memunculkan kesadaran sosial bahwa ada sebagian saudara kita yang menderita kelaparan dan kekurangan. Ikut merasakan  di posisi sebagai kaum lemah yang harus menahan lapar dan dahaga, diharapkan timbul sebuah kesadaran untuk berbagi kepada mereka yang karena keterbatasannya diharuskan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Sensasi yang lain Ramadhan di Indonesia adalah semua lembaga keislaman turut memanfaatkan momentum Ramadhan untuk menghimpun dan menyalurkan Zakat dan Infaq, mulai dari Masjid, Sekolah, Ormas sampai lembaga amil zakat dari tingkat kabupaten, propinsi dan nasional. Ini fenomena yang menarik, tingkat kesadaran masyarakat muslim untuk bergerak dalam rangka peduli pada masyarakat yang membutuhkan, tidak hanya semata-mata kewajiban berzakat dan berinfaq.

Laznas LMI sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional dengan program-program pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah melalui pengelolaan dana zakat dan infaq, berkomitmen untuk melakukan sebuah pengeloaan zakat yang tak hanya memberikan solusi praktis dan sederhana dalam mengatasi berbagai persoalan di Indonesia. Melalui program prioritas pendidikan dan ekonomi, Laznas LMI memberikan peran aktif dalam mengatasi masalah sosial kemanusiaan yang ada di masyarakat.
Menunaikan zakat tidak hanya penyempurnaan aqidah dan penggugur kewajiban, melainkan juga instrumen penyempurnaan akhlak dengan membantu pemerintah menangani permasalahan-permasalahan sosial, salah satunya permasalahan kemiskinan yang masih menjadi momok di Indonesia. Melalui zakat, harta tidak hanya beredar di kalangan orang mampu saja, namun didistribusikan bagi mereka yang tidak mampu berupa program pemberdayaan pendidikan dan ekonomi. Dengan demikian Sensasi Ramadhan tidak hanya dirasakan para muzakki, tapi juga dirasakan oleh para mustahik. Karena itulah kami mengajak masyarakat muslim untuk bersama-sama merasakan Sensasi Ramadhan menunaikan kewajiban ber Zakat dan Infaq ke Laznas LMI, sungguh ibadah di bulan ini berlipat-lipat sensasinya untuk peroleh berkah dan ampunan Nya. Selamat menjalankan Ibadah di Bula Ramadhan.

Dan saatnya Ramadhan menjadikan momentum memerdekakan jiwa dari belenggu nafsu syetan seperti kemalasan dan kebakhilan, sehingga kita mempunyai kemampuan untuk memerdekakan Indonesia dari kemiskinan, kekufuran dan kebodohan. Ramadhan yang sukses mendorong ikhtiar dan upaya menuju Indonesia Sejahtera, inilah Sensasi Ramadhan. Semoga ibadah kita diterima Allah SWT dan mengampuni segala dosa-dosa kita, aamiin. Semoga Allah SWT senantiasa menganugrahkan kebahagiaan di dunia dan akherat. Mohon maaf lahir dan batin.