Agung HSQURBAN NUSANTARA LAZNAS LMI, AMANAT KEMERDEKAAN

Agung Heru Setiawan

Direktur Utama LAZNAS LMI.

 

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa,” begitulah persaksian dan wujud syukur masyarakat indonesia yang tertuang dalam teks pembukaan UUD 1945 paragraf ketiga. ”Dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Sungguh, kemerdekaan sebuah bangsa itu merupakan karunia yang teramat besar, yang tiada lain akan mampu diraih oleh sebuah bangsa dengan izin dan kehendak Allah Subhanahu Wata’ala. Wujud kemerdekaan indonesia menyisakan sebuah harapan besar, agar penduduknya mampu menjalani kehidupan, beribadah selayaknya manusia sebagai hamba Allah, menunaikan kewajiban serta mendapatkan hak-hak kemanusiaan sebagai warga negara dengan bebas, tanpa tekanan ataupun paksaan dari bangsa lain.

Tetapi kemerdekaan tidak mengalir begitu saja, deklarasi kemerdekaan menyisakan tugas besar bagi bangsa indonesia untuk mengisi dan mewarnai kemerdekaan sebagaimana pembukaan UUD 1945 alinea kedua, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Dan itulah amanat kemerdekaan RI untuk anak cucu bangsa, agar tetap berjuang untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Maka, di hari kemerdekaan republik Indonesia yang ke-71 ini, kita patut untuk mengevaluasi, sudah sebersatu, seberdaulat, seadil, dan semakmur apakah bangsa kita? Dan sudah sejauh mana kontribusi masing-masing pribadi kita dalam mendukung dan merealisasikan amanat kemerdekaan tersebut?

Wajah 71 Tahun Indonesia

Rentang tahun 1945 hingga 2016, merupakan waktu yang cukup panjang. Usia 71 tahun bukan lagi usia yang muda bagi bangsa merdeka. Terlebih luas wilayah Indonesia yang setara, bahkan lebih besar dari gabungan luas 11 negara di Eropa Barat, menjadikan tata kelola dan proses pembangunan manusia di Indonesia menjadi tantangan yang tiada habisnya. Isu tentang kemiskinan, kemakmuran, ketahanan dan kedaulatan pangan, selalu menjadi hal menarik untuk disimak.

Indonesia mempunyai luas daratan sekitar 192 juta hektar, yang terdiri 69 juta hektar (35,4%) berupa kawasan hutan, dan 123 juta hektar (64,6%) kawasan budidaya. Dari kawasan budidaya itu terdapat potensi untuk budidaya pertanian seluas 101 juta hektar, namun lahan yang digarap untuk pertanian itu baru seluas 47 juta hektar saja, sehingga masih terdapat potensi perluasan lahan pertanian seluas 54 juta hektar, terdiri 50 juta hektar pada lahan iklim basah, dan 4 juta hektar pada lahan iklim kering. Potensi perluasan lahan pertanian yang seluas 54 juta hektar itu, jika dirinci lagi terdiri 36 juta hektar lahan kering untuk perkebunan tanaman pangan, 15 juta hektar untuk lahan sawah, dan 3 juta hektar untuk areal peternakan.

Produktifitas hasil pertanian Indonesia sekarang ini ternyata relatif masih kecil. sebagaimana produktivitas padi sawah, hanya sekitar 4,97 ton per hektar, padi ladang sekitar 2,43 ton per hektar, gula tebu sekitar 7 ton per hektar, padahal waktu zaman penjajahan Belanda mampu 12 ton per hektar. Produktifitas jagung sekitar 3,08 ton per hektar, kedelai sekitar 1,24 ton per hektar, coklat sekitar 0,8 ton per hektar. Di Malaysia dengan lahan yang lebih kecil mampu 1,5 ton per hektar. Dengan demikian hasil pertanian di Indonesia ini masih perlu diupayakan untuk peningkatan produktivitasnya.

Ketergantungan impor pangan dari luar negeri juga menjadi hambatan dalam proses memperbaiki ketahanan dan kedaulatan pangan dalam negeri. Berdasarkan data dari Kamar dagang dan Industri (kadin) Sebesar 65% kebutuhan pangan dalam negeri dipenuhi dari impor. Misalnya komoditi beras masih mengalami ketergantungan impor sebesar 5% dari kebutuhan nasional, kebutuhan daging sapi juga 20% (sekitar 650 ribu ekor), gula sebesar 37% (sekitar 1,3 juta ton), gandum 100% (sekitar 6,4 juta ton), bawang putih 90%, kedelai 63 persen (sekitar 1,7 juta ton), garam 55 persen (sekitar 1,5 juta ton), jagung 20 persen, kacang tanah 15 persen, dan susu sebesar 84 persen. Padahal jika dikelola dengan baik dan benar, negara Indonesia ini mempunyai potensi sebagai produsen pangan dunia yang cukup menjanjikan. Potensi ekspor pangan dari Indonesia itu antara lain mencakup komoditi beras, gula tebu, teh, kopi, coklat, jagung, singkong/cassava, gula aren, sukun, lada putih, lada hitam, pala, minyak atsiri, buah-buahan tropis seperti manggis, jambu mete, tepung sagu, dan karet.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin indonesia pada bulan Maret 2015,  berjumlah 28,59 juta atau 11,25% dari 254,13 juta total populasi Indonesia. Berdasarkan sebarannya, penduduk miskin perkotaan berjumlah 10,65 juta orang penduduk miskin perdesaan 17,94. BPS juga menambahkan bahwa komoditas makanan menjadi faktor dominan penentu garis kemiskinan, sebesar 73,23%, dibanding komoditas bukan makanan seperti perumahan, kesehatan, dan pendidikan.

Di sisi lain, organisasi pangan dunia (FAO) tahun 2015 menyebutkan terdapat 19.4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan yang disebabkan oleh kemiskinan. Termasuk jumlah penduduk yang kekurangan gizi, khususnya anak-anak dibawah usia 5 tahun. Dari data terakhir, hampir 37 persen atau sebesar 7,6 juta balita di Indonesia menderita stunting atau terhambat pertumbuhannya karena kekurangan gizi.

Qurban dan Amanat Kemerdekaan

 LMI sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional, ingin menjadikan momentum kemerdekaan RI yang ke-71 ini sebagai bahan evaluasi untuk lebih mengokohkan semangat lembaga dalam berbakti kepada Indonesia. LMI berkomitmen untuk meningkatkan upaya-upaya menghapus kelaparan dan kekurangan gizi dengan melakukan pemberdayaan ekonomi, meningkatkan produksi pangan dan memastikan masyarakat memiliki akses untuk mendapatkan makanan yang bergizi.

Qurban barangkali bukan sekedar ritual ibadah agama Islam saja, tetapi lebih dari itu juga merupakan sarana untuk berbagi potensi pangan bagi penduduk miskin di tempat lain yang tingkat konsumsi dagingnya sangat minim, sehingga asupan nutrisi keluarga mereka tidak optimal dan menyebabkan kekurangan gizi. Di sisi lain, ditengah fenomena besarnya ketergantungan impor bahan pangan indonesia termasuk komoditas daging sapi, momentum qurban mampu menumbuhkan harapan peternak lokal untuk terus berkembang.

Pada program berbagi Qurban Nusantara kali ini pun, LMI akan mendistribusikan hewan-hewan qurban yang dibudidayakan oleh peternak lokal kepada penduduk miskin daerah terpencil,  perbatasan dan rawan aqidah di seluruh penjuru Nusantara. LMI membingkai program Qurban dengan tema ‘Berbagi Qurban Nusantara’ dan menyandingkannya dengan momentum kemerdekaan Indonesia, bukan lain adalah untuk menyinergikan program-program LMI sebagai solusi dari isu-isu nasional yang menjadi amanat kemerdekaan. Khususnya di bidang ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, ketahanan dan kedaulatan pangan serta peningkatan gizi penduduk miskin Indonesia.

Mari bersama menjadikan momentum HUT kemerdekaan RI yang ke-71 tahun ini sebagai sarana refleksi untuk lebih memacu rasa peduli kita untuk berbagi.