SIRAH NABAWIYAH

  1. MUHAMMAD SA’ID RAMADHAN AL-BUTHY

 

 

Ketika berusia dua belas tahun, Rasulullah saw. diajak pamanya, Abu Thalib, pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Sewaktu kafilah berada di Bashra, mereka melewati seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui Injil dan ahli tentang masalah-masalah kenasranian.

Bahira kemudian melihat Nabi saw., mengamatinya dan mulai mengajaknya bicara. Bahira kemudian menoleh pada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya: “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab: “Anakku [Abu Thalib memanggil Nabi Muhammad saw. dengan panggilan anak karena kecintaan yang mendalam].” Bahira bertanya: “Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata: “Dia adalah anak saudaraku.” Bahira bertanya: “Apa yang telah dilakukan oleh ayahnya?” Abu Thalib menjawab: “Ia meninggal ketika ibu anak ini mengadungnya.” Bahira berkata: “Anda benar. Bawalah ia pulang ke negerinya dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya disini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.” Abu Thalib kemudian cepat-cepat membawanya kembali ke Makkah (diringkas dari Sirah Ibnu Hisyam, 1/80; diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Tarikh-nya: 2/287; Baihaqi dalam Sunan-nya; dan Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah. Di antara riwayat-riwayat itu terdapat sedikit perbedaan menyangkut beberapa rincian).

 

Memasuki masa remaja, Rasulullah saw. berusaha mencari rizky dengan menggembalakan kambing. Rasulullah saw. pernah bertutur tentang dirinya: “Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari). Selama masa mudanya Allah telah memelihara dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti hura-hura dan permainan nista lainnya.

Sehubungan dengan usaha Rasulullah saw. mengembalakan kambing dengan tujuan untuk mencari rizky,terdapat tiga pelajaran yang penting:

  1. Selera tinggi dan perasaan halus. Dengan kedua sifat inilah Allah “memperindah” kepribadian Nabi-Nya, Muhammad saw. selama ini. Pamannya yang mengasuh dengan penuh kasih sayang sebagai seorang bapak. Akan tetapi, begitu merasakan kemampuan untuk bekerja, Rasulullah saw. segera melakukannya dan berusaha sekuat tenaga untuk meringankan sebagian beban nafkah dari pamannya. Barangkali hasil yang diperolehnya dari hasil pekerjaan yang dipilihkan Allah tersebut tidak begitu banyak dan penting bagi pamannya, tetapi ini merupakan akhlak yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan watak dan kebaikan perilaku.
  2. Berkaitan dengan penjelasan tentang bentuk kehidupan yang diridlai oleh Allah untuk para hamba-Nya yang shalih di dunia. Sangatlah mudah bagi Allah mempersiapkan Nabi Muhammad saw.sejak awal kehidupannya, segala sarana kehidupan dan kemewahan yang dapat mencukupi sehingga tidak perlu lagi memeras keringat menggembalakan kambing. Akan tetapi hikmah ilahi menghendaki agar kita mengakui bahwa harta manusia yang terbaik adalah harta yang diperolehnya dari hasil usaha sendiri dan imbalan “pelayanan” yang diberikan kepada masyarakat dan saudaranya. Sebaliknya harta yang terburuk adalah harta yang didapatkan seseorang tanpa bersusah payah atau tanpa imbalan kemanfaatan yang diberikan kepada masyarakat.
  3. Para aktifis dakwah [dakwah apa saja] tidak akan dihargai manakala mereka menjadikan dakwah sebagai sumber rizky-nya atau hidup dari mengharapkan pemberian dan sedekah orang.
    Karena itu para aktifis dakwah Islam merupakan orang yang paling patut untuk mencari ma’isyah [nafkah]-nya melalui usahanya sendiri atau sumber yang mulia yang tidak mengandung unsur meminta-minta, agar mereka tidak “berhutang budi” kepada seseorang pun yang menghalanginya dari menyatakan kebenaran di hadapan “investor budi.”

 

Kendatipun hakekat ini belum terlintas dalam fikiran Rasulullah saw. pada masa itu karena beliau belum mengetahui bahwa dirinya akan diserahi urusan dakwah dan risalah ilahi, manhaj yang ditetapkan Allah untuk itu telah mengandung tujuan ini dan menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar tida ada sesuatu pun dari kehidupan Rasulullah saw. sebelum bi’tsah yang menghalangi jalan dakwahnya atau menimbulkan pengaruh negatif terhadap dakwahnya sesudah bi’tsah.

 

Bisnis utama berdagang (eksportir)

Khadijah, menurut riwayat Ibnul Atsir dan Ibnu Hisyam, adalah seorang wanita pedangan yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika mendegar tentang kejujuran Nabi saw. dan kemuliaan akhlaknya, Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saw. dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon, dan Yordania)

 

Khadijah membawa barang dagangan yang lebih baik daripada apa yang dibawakan kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi Muhammad saw. ditemani oleh Maisarah, seorang pria kepercayaan Khadijah. Nabi saw. menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah dan membawa keuntungan yang berlipat ganda sehingga kepercayaan Khadijah bertambah kepada beliau. Selama perjalanan itu Maisarah sangat terkesan dengan akhlak dan kejujuran Nabi saw., dan hal itu dilaporkannya kepada Khadijah.

 

BEBERAPA IBRAH:

Usaha menjalankan perniagaan Khadijah ini merupakan kelanjutan dari kehidupan mencari nafkah yang telah dimulainya dengan mengembala kambing. Mengenai keutamaan dan kedudukan Khadijah dalam kehidupan Nabi saw. sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasululllah saw. sepanjang hidupnya. Telah diriwayatkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Khadijah adalah wanita terbaik di jamannya.

 

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali ra. pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik wanita [langit] adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita [bumi] adalah Khadijah binti Khuwailid.”

 

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: “Aku tidak pernah cemburu pada istri-istri Nabi saw. kecuali pada Khadijah sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Apabila Rasulullah saw. menyembelih kambing, beliau berpesan, ‘Kirimkan daging pada teman-teman Khadijah.’ Pada suatu hari aku memarahinya lalu aku katakan: ‘Khadijah?’ Nabi saw. kemudian bersabda: ‘Sesungguhnya, aku telah dikaruniai cintanya.’” (Muttafaq ‘alaihi, lafal ini bagi Muslim)