Teknaf – Perjalanan tim relawan LAZNAS LMI yang tergabung bersama tim medis Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) ke Bangladesh terus berlanjut. Untuk menyalurkan bantuan kepada etnis Rohingya, pada Senin (30/10), tim berangkat menuju perbatasan Bangladesh dan Myanmar.

Lokasi yang dituju adalah Bandarban. Sebuah desa perbatasan yang menjadi pintu masuk etnis Rohingya melalui sungai Naf. Ribuan pengungsi menetap di sini. Sampai di tempat, tim menyalurkan bantuan sarung batik Indonesia khas Makassar.

Kondisi pengungsi Rohingya begitu memprihatinkan. Banyak di antaranya datang dengan kondisi lapar dan trauma. Mereka berjalan berhari-hari melalui hutan atau berjubel di perahu kayu untuk mencari keselamatan di perbatasan Bangladesh. ”Ada yang berlindung di sekolah, berkerumun di pemukiman darurat, bahkan ada yang di lapangan terbuka. Tanpa toilet,” ujar anggota tim LAZNAS LMI, Susanto.

Warga Bangladesh pun ikut bersimpati. Salah satunya adalah Salim. Warga asli Bangladesh itu memberi kesempatan kepada pengungsi untuk membuat shelter atau tenda sebagai tempat tinggal.

Namun, permasalahan pengungsi bukan hanya tempat tinggal saja, kebutuhan hidup juga langka. Termasuk makanan, air bersih, dan bantuan medis. Saat ini para pengungsi menghadapi kekurangan obat-obatan. Risiko penyakit kolera pun begitu tinggi akibat buruknya sanitasi.

Saat tim IHA membuka posko medis, banyak pengungsi Rohingnya yang datang memeriksakan diri. Anak-anak sampai dewasa membutuhkan pengobatan. Karena itu, tim relawan LAZNAS LMI dan tim IHA yang membawa dokter serta perawat akan memberikan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya selama di Bangladesh. Paling tidak, inilah yang bisa dilakukan Indonesia untuk Rohingya.(susanto/nir)