Ada berbagai kisah mualaf dalam menemukan Islam sebagai jalan hidupnya. Sebagian dari mereka bersyahadat setelah mempelajari dan mengkaji , sebagian lagi tertarik berislam setelah menyaksikan atau mengalami satu kejadian, dan sebagian lagi memilih menjadi muslim sesederhana agar penikahannya tercatat sah di KUA. Seperti halnya Melkior Eliasar Nenobesi, mualaf yang berbagi kisah perjalanannya demi menikahi seorang muslimah 18 tahun lalu.

Tahun 2000 Eliasar yang seorang Kristen Protestan memutuskan masuk agama Islam. Pria asal Bermarak Nusa Tenggara Timur ini keluar dari agamanya terdahulu agar dapat mempersunting Jumiati, seorang muslimah dari Probolinggo Jawa Timur. Pertentangan dalam keluarga besarnya pun hampir tidak ada, sebab orang tua Eliaser mempersilakan anak-anaknya untuk memilih setiap apa yang diyakini oleh hati. Sekilas perjalanannya menjadi muslim terkesan lancar tanpa hambatan.

Usia Eliaser yang saat itu 20 tahun akhirnya resmi menjadi muslim dan mencatatkan perkawinannya di KUA. Proses pernikahannya pun berlangsung lancar. Hanya saja sayang, buku nikah tidak kunjung dia terima walau sudah menunggu sekian lama. “Saya tidak tahu kenapa, orang yang urus buku nikah saya bilang, buku hilang dan ada saja alasan lainnya,” kenangnya. Singkat cerita, untuk mengurus ulang buku nikah, akhirnya 2004 Eliaser pun ikut nikah massal yang saat itu digelar oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Kehidupan rumah tangga Eliaser dan Jumati tidak mengalami masalah karena agama, tapi keyakinan Eliaser pada Islam mulai terasa goyah.

Meskipun sudah beberapa tahun menjadi muslim, Eliaser merasa Islam yang dibayangkan tidak seindah yang dia rasakan. Kondisi tersebut semakin membuatnya bimbang, sebab selain tidak menemukan teman sesama muslim yang bisa menguatkan, dia juga belum menemukan sosok ustaz yang dapat memantapkan hatinya setelah memutuskan menjadi pemeluk agama Islam. Hal ini dialaminya hingga kurang lebih tujuh tahun.

“Setelah sekian lama, akhirnya ada momen saya ingin berontak. Karena selama ini saya merasa sebagai hanya sebagai Islam KTP saja. Hati tidak nyaman,” tuturnya. Tetapi, sebelum bertindak terlalu jauh, Bapak dua anak ini tertekad mencari jati diri keislamannya. Dia mulai sering datang ke masjid, ikut-ikutan apa yang dilakukan jamaah di sana. Meskipun sudah 7 tahun memeluk Islam, Eliaser mengaku sampai saat itu tidak tahu apapun tentang bacaan shalat dan doa-doa apa yang dipanjatkan selama beribadah.

Lima kali dalam sehari dia pergi ke masjid dan hanya mampu mengikuti gerakan sholat tanpa tahu bacaan dalam setiap gerakan. Meski demikian, sekali saja tidak pernah Eliaser absen. Hingga suatu hari Eliaser berhalangan shalat magrib ke masjid dan seorang jamaah menanyakan ketidakhadirannya. Saat itu pula dia mulai merasa bahwa kehadirannya ada yang menantikan. Pelan-pelan suasana masjid yang dulu asing kini membuatnya nyaman. Sedikit demi sedikit pula dia belajar memahami arti bacaan sholat dan berlatih khusyuk menjalankan ibadah sunnah lainnya.

Eliaser mengaku hingga saat ini masih berusaha untuk konsisten mempelajari Islam, terlebih setiap kali mendapat ilmu baru maka dia merasa bahwa begitu banyak ilmu yang tidak diketahuinya. Hingga saat ini Eliaser sebisa mungkin mendatangi mengajian yang diadakan di sekitar kantor atau rumah indekos.

Jika dulu halangan mengenal islam adalah melawan perasaan asing dalam dirinya sendiri, sekarang tantangan Eliaser justru tuntutan pekerjaan dan membagi waktu dengan keluarga. Sebab, kesempatan untuk meluangkan waktu cukup sulit sebab dia bekerja di perusahaan asuransi di Surabaya dengan target pencapaian yang tinggi, sementara setiap akhir pekan dia kembali ke Probolinggo membersamai dua putrinya yang kini sudah remaja.

Bagi pria 40 tahun ini, anak-anaknya harus mengenal agama Islam jauh lebih baik dari dirinya. Karena menyadari itu, maka sejak kecil kedua putrinya pun diikutsertakan mengaji di TPQ. Bahkan putri pertamanya nanti diprogramkan lanjut kuliah di kawasan yang lokasinya masih terjangkau dengan pondok pesantren. Dia tidak ingin anak-anaknya sedikit pun jauh dari Islam. “Memantau anak-anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab, sebab istri saat ini bekerja merantau ke Malaysia,” akunya.

Eliaser bukan satu-satunya sosok yang berislam karena alasan pernikahan namun kemudian tidak tahu harus ke mana mengenal Islam lebih dalam. Perjuangan seorang mualaf lain dalam mencari jati diri pun tidak cukup dalam hitungan bulan atau tahun, tapi sejauh mana sosok guru mampu mendampingi perjalanannya dan seerat apa genggaman tangan saudara-saudara muslim menguatkan hatinya.