Rubrik Motivasi

 

Oleh: Ustaz Heru Kusumahadi

Pembina Surabaya Hijrah (KAHF)

Mari perhatikan perubahan yang menghasilkan suatu nilai kehidupan, yang memberikan warna kebaikan dan kegembiraan. Perubahan yang didasarkan oleh diri sendiri bukan oleh orang lain. Sebagai analogi, perhatikan bagaimana sebutir telur berubah. Jika ia pecah dari dalam, maka kehidupan yang muncul. Namun, jika telur itu pecah dari luar, maka kematian yang terjadi.

Sahabat….

Tahun ini telah berubah dari tahun lalu, tampak dari angka 18 menjadi 19. Nah, jika tahun saja bisa berubah dan berganti dengan nilai yang bertambah, mengapa status diri tak berubah juga? So, pastinya perubahan dan pergantian itu harus ke arah dan nilai yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan ingat, tiap perubahan harus ada buktinya.

Nah, bukti dari jawaban adalah sebuah aksi, bukan sebatas jawaban nalar saja. Logika akan menjawab “iya”, namun, realitas tak membekas. Oleh karenanya, sahabat. Mari menjadi lebih bernilai manfaat, lebih sukses, lebih bahagia, ataupun lebih dan lebih lainnya. Baik itu dari sisi keimanan, kemanfaatan diri, ketaatan, finansial, pernikahan, bahkan karir pun.

Namun, perlu diingat. Saat keinginan untuk berganti ataupun berubah kepada sesuatu yang lebih, tidak cukup pada teritorial kata ingin saja. Ia harus juga berpindah ke dimensi aksi. Dan, aktualisasi ini harus didasarkan pada konsep pencarian makna sejati kehidupan, sebagaimana konsep logoterapi Victor E. Frankl.  Yaitu, “He who has a “why” to live for, can bear almost any “how””. Dia yang memiliki –dan memahami- “mengapa” untuk hidup, pasti bisa menghadapi hampir semua “bagaimana”.

Sahabat….

Sebenarnya ucap Victor diatas hanya penegas dari Teks Mulia, Firman Allah Ta’ala pada surat Al Hasyr ayat 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Jawaban dari kata “mengapa”, karena ini adalah perintah Allah Ta’ala untuk melakukan sebuah perubahan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Sekali lagi, ini perintah Allah. Dan uniknya, perintah ini tidak hanya untuk masa depan yang dekat, lebih dari itu. Masa depan yang sangat jauh sekali, yaitu kesuksesann di akhirat nantinya.

Nah, saat ini menjadi perintah Allah Ta’ala, maka didalamnya terpastikan adanya kebaikan. Maka, -seharusnya- menjadi keniscayaan bagi kita untuk menyakini akan adanya kebaikan dalam proses perubahan diri ini. Mengapa?. Karena ayat ini diawali dengan panggilan untuk para pemilik iman. Dimana iman sederhananya dapat diartikan, meyakini segala hal yang dari Allah itu benar dan baik. Dan tentunya tidak cukup disitu. Perintah itu dilajutkan berikutnya dengan kata taqwa, yaitu aktualisasi mengikuti aturan Allah Ta’ala, terhadap perintah-Nya, do it!. Larangannya?. Stop!.

Jawaban ke dua, untuk kata “mengapa” diakhir ayat “inna Allah khabirum bima ta’malun”. Sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  Redaksi ini menarik jika kita perdalam menggunakan konsep dalam bahasa arab, “kullu rasm ma’ani”. Setiap kata memiliki makna. Yaitu, kata “khabir” diartikan mengetahui, padahal kata itu senada dengan kata khabar, yang terartikan kabar atau berita.

Ayat ini diperuntukkan bagi orang yang beriman. Allah Ta’ala sangat mengetahui apa yang kalian usahakan dan lakukan, Allah akan mengabarkan dan menceritakan kembali kepada kalian nantinya terhadap apa yang kalian lakukan dalam kehidupan kalian.

Maka, dengan alasan ini bisa menjawab mengapa kita harus berubah untuk lebih baik. Suatu saat rekam jejak kita akan kembali ditayangkan kepada kita. Masa sih, kita ingin melihat “film kehidupan” kita monoton, flat, ataupun stagnan. Kan, ga asyik. Sebagaimana analoginya, saat kita melihat tanyangan film yang alur kisah yang datar, mimik dan gesture aktor yang tak berekspresi, ataupun unsur film lainnya yang tidak mendukung dikatakan film box office. Tentu kita malas bahkan merasa rugi saat menontonya. Oleh karena  itu,yuk jangan mau rugi saat kita menonton “film kehidupan” kita nantinya.

Sahabat….

Terkisah empat sahabat Radhiyallahu ‘anhum sedang berkumpul; Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mus’ab bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan. Obrolan diawali Mus’ab dengan kata tanya, “apa harapan kalian?”.  Tiap sahabat menjawab harapan masing-masing. Urwah menjawab, “Aku ingin jadi ahli fiqih dan hadis”. “menjadi khalifah!” Tegas Abdul Malik tak mau kalah. Bahkan Mus’ab pun lebih banyak menyebutkan harapannya. “pemimpin Irak, juga aku mau menikahi Aisyah binti Thalhah”. Dan jawaban yang menarik disampaikan oleh Abdullah bin Umar. “Surga!”.  Dan masya Allahnya, kisah ini yang tercantum di kitab Al Himmatu Al Aaliyatu wa Mu’awwiqaatiha wa Muqowwimaatiha (Kemauan yang Tinggi dan Hal-hal yang Melemahkan dan Menguatkannya). Semua keinginan Radhiyallahu ‘anhum tersebut terjawab dengan kata “fanaala dzalika”. Harapan mereka menjadi realita.

Jadi shalihin dan shalihat. Mari mengganti status diri, awali dengan keyakinan terpatri, meski ada lelah, teruslah berlari. Dan ingatlah, usaha dan hasil kan menghasilkan kata menang, bukan seri. Dan Allah terhadap hamba-Nya tak kan mengebiri. (Allahu A’lam)