Agung HSLaznas LMI merupakan organisasi nirlaba, yaitu lembaga amal yang bergerak diberbagai bidang sosial dan kemanusiaan, yang  diharapkan akan menjadikan program-programnya  memiliki prinsip untuk membantu semua golongan, baik itu agama, usia, lokasi, serta terbuka untuk melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain tanpa tendensi kepentingan apapun termasuk  politik.

Bicara kemanusiaan, kita bicara tentang  sebuah program yang akan memberikan bantuan moril dan materil kepada masyarakat yang membutuhkan, masyarakat tidak beruntung dalam mengatasi beban kehidupannya di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun bidang kesejahteraan lainnya. Laznas LMI tentu menerima kerjasama dengan siapapun dalam program-program kebaikan termasuk dalam penanggulangan bencana dan  kemanusiaan lainnya.

Meskipun tugas negara berfungsi untuk menghadirkan jaminan kemanusiaan, tapi pada saat yang bersamaan negara masih butuh dukungan dan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak supaya makin kokoh dan menyeluruh, Laznas LMI siap membantu tugas negara. Ini tidak hanya sekedar Nasionalisme tapi juga bagian kewajiban ajaran Islam yang bersifat universal.

Tahun 2017 ini, Laznas LMI ingin lebih mengokohkan eksistensinya sebagai lembaga kemanusiaan, tidak hanya bersifat charity tetapi juga pada tahap-tahap realisasi pemberdayaan. Hal ini akan lebih bermakna lagi dan sekaligus menyatakan kepada  Indonesia bahwa sesungguhnya Islam itu agama kemanusiaan, dengan berkontribusi langsung dalam pengembangan program gerakan kemanusiaan di Indonesia.

Sebenarnya sepanjang  usia perjalan LMI sampai pada Laznas  telah hadir dengan berbagai program kegiatan kemanusiaan  di berbagai bidang yaitu Dakwah, Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Yatim dan Penanggulangan Bencana tidak hanya di Jawa Timur, tetapi  sudak berbagai wilayah daerah di Indonesia bahkan di wilayah Internasional.

Laznas LMI adalah bagian dari dunia filantropi di Indonesia, yang mana dunia filantropi di negeri ini sudah baik dan berkembang.  Hal ini seiring dengan  diterbitkannya serangkaian undang-undang, peraturan presiden , serta peraturan menteri yang mendukung peningkatan pengelolaan zakat. Ketetapan  KMA Nomor 333 menyatakan beberapa syarat berdirinya LAZ  tingkat nasional. Di antara tuntutan tersebut adalah perolehan minimal Rp 50 miliar dan adanya audit keuangan serta audit syariah dua kali setahun. Kedua syarat ini mendorong Laznas LMI bekerja lebih giat dalam menghidupkan dunia filantropi,  juga  mewujudkan manajemen zakat yang profesional dan akuntabel.

Meski dalam penghimpunan masih jauh dari optimal, Laznas LMI dalam penyaluran ZIS di Indonesia telah mengalami peningkatan cukup berarti. Dana ZIS yang dihimpun tidak lagi bertujuan untuk mencukupi kebutuhan minimum mustahik.Pengelolaan zakat bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan menanggulangi berbagai permasalahan sosial. Oleh karena itu, di tahun-tahun mendatang dana yang kelola Laznas LMI diarahkan untuk menciptakan program-program pemberdayaan kemanusiaan. Mengangkat para mustahik menjadi orang yang cukup dan tidak perlu diberi bantuan lagi, dengan memberi ketrampilan dan modal.

Angka kemiskinan dan kesenjangan sosial masih tinggi, menjadikan Laznas LMI  tidak sekedar berperan apa adanya, tetapi lebih focus memerankan sebagai lembaga yang professional dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar umat Islam. Laznas LMI memiliki kepentingan dalam memperbesar kontribusi Zakat, infaq dan sedekah untuk mengurangi berbagai permasalahan sosial kemanusiaan yang ada, sebab bayar ZIS bukan hanya menjadi kewajiban ummat Islam, tetapi  lebih penting lagi adalah pemanfaatan dana zakat, infaq san sedekah agar lebih bermanfaat untuk pemberdayaan kaum dhuafa.

Dengan demikian Laznas LMI berupaya mewujudkan secara nyata  ZIS sebagai  pilar agama dan kewajiban untuk berbagai penyakit sosial kemanusiaan, seperti kesenjangan, kemiskinan, kebodohan  termasuk pemurtadan yang berawal dari permasalahan ekonomi. Sedangkan kewajiban zakat setara dengan rukun Islam yang lain, seperti syahadat, salat, puasa, dan haji. Kedudukan zakat bisa jadi lebih tinggi sebab ia tidak hanya terkait dengan kesalehan individu, namun juga kesalehan sosial. Dengan ditunaikannya ibadah bayar zakat, infaq dan sedekah seorang muslim telah memenuhi salah satu kewajiban di hadapan Allah, dan memenuhi hak sesama manusia yang membutuhkan. Jika zakat, infaq dan sedekah tidak ditunaikan, ada hak orang lain yang akan terus menempel dalam harta yang dimiliki.

Karena Laznas LMI memainkan peran meningkatkan efektifitas program pengentasan kemiskinan secara nasional, khususnya rakyat Indonesia dalam gerakan zakat, ini berarti ikut dalam upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDG’s), minimal dalam enam hal dari 17 tujuan SDGs. Di antaranya, pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, kehidupan yang sehat, pendidikan berkualitas, air bersih dan sanitasi serta mengurangi kesenjangan. SDGs yang  bersentuhan dengan zakat, misalnya kesehatan, pada umumnya kehidupan para mustahik kesehatannya kurang bagus dilihat dari gizi dan sebagainya. Kemudian, air bersih dan sanitasi, sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia bahwa zakat bisa dipakai untuk perbaikan air bersih dan sanitasi, terutama yang terkait dengan fakir miskin. Laznas LMI berusaha menciptakan model-model program pengentasan kemiskinan  melalui pengembangan program  Integrated Community Development (ICD). Insya Allah.

 

*Agung Heru Setiawan

Direktur Utama Laznas LMI