Suasana di dapur sebuah toko roti pagi itu tampak riuh. Berbeda dari hari biasanya, para karyawan tengah mendapat pelatihan membuat satu varian kue baru yang akan segera masuk etalase di ruang depan. Upaya menghadirkan jenis roti baru memang kerap dilakukan agar pembeli tidak bosan. Begitu menurut pengakuan sosok yang mengawal sendiri pembuatan kue tersebut, Endang Sulistyowati (35), pemilik toko roti bernama “Violet” di Probolinggo.

Sebelum membuka usaha roti dengan konsep rumah  seperti sekarang, Endang adalah seorang pembuat aneka penganan skala kecil yang hanya mampu menitipkan dagangannya ke warung-warung di sekitar rumahnya di Malang. Keterampilan mengolah berbagai jenis tepung menjadi sajian siap makan pun didapatnya secara otodidak. “Saat itu saya cuma coba-coba, alhamdulillah cocok dan bisa muter uangnya. Jadi ada yang bisa dipakai untuk beli susunya anak,” kenangnya saat mengingat masa awal usahanya 2009 lalu. Hingga kemudian 2010 Endang pindah ke kota kelahiran sang suami di Probolinggo.

Bayu (38), suami Endang saat itu adalah pekerja kantoran yang masuk pagi pulang sore. Karena pemasukan masih belum bisa menutup pengeluaran bulanan, Endang pun kembali mencoba berbagai macam usaha. Perempuan yang saat itu sedang hamil anak kedua ini berjualan macam-macam yang dia bisa, seperti berjualan buah, es campur, apapun asal ada uang tambahan untuk keluarga.

Sang suami pun tidak cukup bekerja di kantor. Setibanya di rumah, bahan adonan aneka roti sudah menanti diolah untuk dijual keesokan harinya. Rutinitas ini tidak mudah, sebab jika Bayu sakit atau kelelahan maka Endang pun tidak dapat berjualan. Sehingga, terpaksa tidak ada pemasukan tambahan untuk beberapa hari. Keadaan di kantor yang tidak sesuai dengan harapan dan adanya potensi dari berjualan, membuat Bayu akhirnya berhenti bekerja di kantornya. Pasangan ini memutuskan untuk mulai fokus menjalankan usaha yang sudah dijalani selama ini.

Endang yang sedang hamil tua saat itu tetap bersemangat untuk membuat roti, tapi hanya mampu menyiapkan dagangan di rumah, sedangkan Bayu masih harus melanjutkan antar roti-roti tersebut ke beberapa warung sekaligus menawarkannya dari satu tempat ke tempat lain. Rutinitas ini dijalani terus menerus hingga 2 tahun tanpa sedikit pun merasa pesimistis.

Kemudian, tiba lah momen dimana pasangan suami istri ini yakin bahwa usaha mereka bisa berkembang lebih besar lagi. Di akhir 2012 dengan berbagai pertimbangan, keduanya pun memutuskan kontrak rumah untuk dijadikan toko roti. “Alhamdulillah, saat itu menemukan rumah yang letaknya cukup strategis dan harganya cocok. Apalagi bersebelahan sama rumah kami,” akunya. Berbekal keberanian, keyakinan, dan doa dari keluarga, Bayu pun menyerahkan sertifikat rumah orang tuanya untuk mendapat pinjaman modal dari bank.

Sebagai strategi agar cicilan tidak macet di awal, uang pinjaman tersebut disisihkan untuk disetor sampai 6 bulan ke depan. Pertimbangan lainnya, toko baru tersebut kemungkinan tidak akan melayani pelanggan, sehingga belum perlu membelanjakan semua uang yang ada, baik untuk persediaan bahan baku atau membeli peralatan. Mereka pun tidak mengalokasikan dana untuk promosi atau marketing “Roti Violet” barunya. Hati-hati menjadi salah satu jurus Endang dan Bayu agar bisnisnya aman di awal.

Salah satu sebab keberhasilan penjualan adalah kepercayaan dari pelanggan. Itu pula yang diterapkan oleh Endang. Komitmennya untuk memberikan yang terbaik pun berbalas dengan rekomendasi dari pelanggan roti violet yang disampaikan dari mulut ke mulut. ‘Marketing gratis’ ini tanpa disangka menembus berbagai instansi, hingga produk buatannya mulai dipesan oleh berbagai perkantoran di Probolinggo. Seiring dengan tingginya rasa percaya pada produknya, Endang merasa tantangan untuk mempertahankan kualitas pun semakin besar.

“Ada satu kejadian saat bahan-bahan naik. Kami tidak bisa mempertahankan kualitas dengan harga yang sama. Kalau harga kami naikkan, maka besar kemungkinan kami juga akan kehilangan sebagian pelanggan. Tapi, dengan menurunkan kualitas kami akan kehilangan kepercayaan. Jadi, dengan terpaksa kami harus menaikkan harga demi mempertahankan kualitas,” tutur Endang yang saat itu teliti menghitung managemen risiko bisnis rotinya.

Apa yang dikhawatirkan pun terjadi. Menaikkan harga untuk mempertahankan kualitas produknya membuat omset penjualan roti violet turun. Tapi, pasangan suami istri yang menikah dan menekuni bidang ini sejak 2009 tidak habis akal. Mereka menambahkan varian roti baru yang relative murah dengan kisaran harga 2.000 – 3.000 rupiah per bungkus. Selain itu, mereka juga gerilya menawarkan paketan roti ke berbagai instansi dengan harga mulai dari 5.800 per kotak. Sejak saat itu roti violet pun mulai bangkit kembali.

Jauh sebelum “Roti Violet” ada, Endang dan Bayu sepakat bahwa sesulit-sulitnya keadaan mereka, tetap ada orang lain yang lebih membutuhkan bantuan. Sehingga, kebiasaan berbagi rezeki tetap dilanjutkan sampai sekarang. Selain menyedekahkan setiap roti yang retur jika kondisinya tetap layak makan, Endang dan Bayu juga rutin membagikan 100 bungkus roti di hari Jumat.

Pasang surut dalam berbisnis memang tidak dapat dihindari, justru berbagai macam terpaan lah yang menghebatkan. Di luar itu, keduanya selalu yakin bahwa dengan melibatkan Allah dalam setiap usahanya, maka mereka tidak perlu khawatir dengan setiap cobaan yang datang. “Allah mboten sare, Insya Allah kalau kewajiban sudah ditunaikan, apapun cobaan yang terjadi pasti dapat terlewati dengan baik,” tutur ibu tiga anak ini.