Ma’rifatul Quran

Oleh: Dr Amir Faishol Fath, MA.

Ahli Tafsir Al Qur’an

 

Allah berfirman menggunakan kalimat Alhamdulillah (segala puji bagi Allah).

Kata “al” adalah bahasa Arab merupakan bentuk definitif, bahwa segala puji hanya milik Allah. Lalu, mengapa Allah menggunakan kata “Alhamdu”? Sebab, memang hanya Allah yang berhak dipuji. Allah adalah Zat Mahatinggi dan Dia tetep Mahatinggi walau tidak dipuji siapapun.

Berbeda dengan makhluk, bila tidak ada yang memuji maka mereka akan merasa rendah. Bila tidak ada yang mendukung maka dia akan semakin menurun. Sedangkan Allah tidak bergantung sedikit pun pada pujian dari makhluk-Nya. Allah tetap tinggi walau seluruh makhluk di dunia tidak memuji-Nya.

Ketika makhluk memuji Allah, justru akan menjadi kemuliaan bagi sang makhluk itu sendiri. Mereka akan semakin mulia karena selalu mengucapkan kalimat Tahmid. Seperti ketika selesai sholat, kita selalu melafalkan “Subhanallah” 33 kali, “Alhamdulillah” 33 kali, dan “Allahu Akbar” 33 kali. Itu semua adalah bentuk kesaksian dan pujian untuk Allah, bahwa Allah Maha Besar, Allah Maha Suci, Allah Maha Terpuji. Semakin seorang hamba memaknai pujian untuk Allah maka akan semakin bersih dirinya dari dosa-dosa, dan semakin mulia di sisi Allah.

Hanya Allah yang berhak dipuji, sedangkan makhluk tidak boleh mengharapkan pujian. Bila seorang makhluk mengharapkan pujian, maka bisa jatuh dalam perbuatan riya’.

Allah berfirman dalam Surat Al Maun ayat 4-6:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

“Maka celakalah orang yang shalat”

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

“(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya”

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

“yang berbuat riya’”

Penyakit riya’ ini tidak terasa.

Diriwayatkan bahwa pernah suatu hari Imam Al Ghazali bercerita, ada seseorang yang tidak pernah ketinggalan shaf pertama dalam setiap sholat berjamaah di masjid. Seumur hidupnya, belum pernah sekalipun dia pernah pindah dari barisan terdepan. Namun, suatu ketika orang ini terlambat dan shalat di shaf kedua. Tanpa disangka, kejadian singkat tersebut ternyata berdampak besar baginya. Seseorang yang selama ini disanjung oleh jemaah akhirnya diliputi rasa malu, karena banyak orang menyaksikan posisinya yang tidak lagi berada di shaf utama. Peristiwa itu membuat dia tahu bahwa selama ini ketenangan hati yang didapat dalam melaksanakan shalat disebabkan oleh pandangan orang-orang kepadanya.

Perhatikan, betapa sulitnya untuk ikhlas. Keinginan mendapat pujian kadang tidak terasa sampai suatu kejadian membuat seseorang kehilangan puja-puji yang selama ini disematkan. Hasrat ingin dipuji ini membuat kita semakin sulit melakukan amal kebaikan dengan tulus, tanpa berharap apapun selain berkah dari Allah.

Cara utama untuk menjaga ikhlas dalam hati adalah dengan selalu memuji Allah. Sehingga, tertanam dalam jiwa ini tidak ada harapan sama sekali untuk dipuji makhluk. Bila memang ada kelebihan, keistimewaan, dan kemampuan untuk berbagi, maka kembalikan lagi pada Allah, Sang Pemilik Dunia dan seisinya. Jangan sampai di hati itu muncul keinginan untuk dipuji orang lain, sebab semua kelebihan yang ada pada makhluk adalah karena Allah. Maka, dengan kebiasaan yang terus menerus memuji Allah akan menghancurkan secara bertahap penyakit riya’ atau keinginan dipuji orang lain.

Cara kedua adalah jangan sekali-kali muncul di hati ingin menandingi Allah yang menyebabkan timbul harapan untuk dipuji makhluk. Anda tidak akan pernah mulia ketika di hati selalu memburu pujian orang lain. Dan, sungguh sia-sia amalan seseorang hanya karena mengharap pujian. Bahkan, sholat saja ditolak oleh Allah jika hanya untuk dipuji orang.