Kado Lebaran Rohingya

Aceh Utara – Muslim Rohingya yang saat ini ditampung di Aceh antusias menjalani bulan suci Ramadhan di Indonesia. Setelah setahun lalu terdampar di pantai Aceh, tepatnya bulai Mei 2015. Mereka merasa aman dan nyaman di Aceh, tampak raut muka kesedihan mendalam bila ditanya peristiwa yang terjadi di negerinya Myanmar.

Yang pertama yang kami kunjungi adalah lokasi pengungsian di Blang Adoe, Aceh Utara, Kami menemui Imam Masjid Arakan Ustadz Muhammad Yunus yang ternyata Al Hafidz, yang menuturkan upayanya untuk istiqomah berdakwah dan telaten membina dan mendampingi saudara-saudaranya di tempat pengungsian. Muhammad Yunus sendiri terpisahkan dengan istri dan 5 anaknya yang mengungsi di Bangladesh. Sebenarnya anaknya 6, satu anaknya dan ibu kandungnya menjadi korban pembantaian penguasa Myanmar.

Yunus sebenarnya ingin pergi ke Malaysia yang relatif cukup makmur. Tapi setelah perjalanan selama berbulan-bulan, ia terdampar di perairan dekat pantai Aceh. Dia mengaku lega berada di Indonesia pada bulan Ramadhan, dan jauh dari negara asalnya Myanmar, di mana kaum Muslim mengalami diskriminasi dan tidak mendapat status kewarganegaraan.

“Alhamdulillah, kita diselamatkan dan dibawa ke sebuah negara Muslim, Indonesia sangat ramah pada kami,” kata guru agama di kampung Arakan Rohingya yang berusia 36 tahun itu. Dia diselamatkan di lepas pantai Aceh 10 Mei tahun lalu bersama dengan sekitar 580 migran lainnya.

“Orang-orang di sini sangat baik dan sudah menolong kami. Mereka melihat pengungsi Rohingya sebagai saudara-saudara mereka,” tutur Yunus dengan mata berkaca-kaca. Saya sangat terharu, orang Aceh memperlakukan mereka sebagai saudara bukan sebagai pengungsi. Ya Allah, saya tak terasa meneteskan air mata menulis ini…

LMI hadir berbagi kebahagiaan, belum seberapa yang kami berikan untuk mereka. Setidaknya acara Buka Puasa dan Sahur bersama dan pemberian Kado Lebaran menambah semangat hidup mereka, tampak kebahagiaan yang sangat berarti. Insya Allah LMI akan istiqomah untuk peduli kepada mereka.

 

*Catatan Direktur Utama LMI, Agung HS