quban1Kajian Tentang Fiqh Qurban

Oleh : Dewan Pengawas Syariah Laznas LMI

 

Sebentar lagi sudah masuk bulan Dzulhijjah, ada hal yang istimewa di bulan Dzulhijjah, yaitu Idul Adha atau hari raya qurban. Idul Adha merupakan satu hari raya yang dirayakan secara tabligh, karena dilaksanakan shalat Ied secara berjamaah.

Namun tak seperti idul fitri, setelah shalat ied pada hari raya qurban, kaum muslimin bergegas untuk memotong hewan qurban. Nah, sudah siapkah anda untuk ikut berqurban di tahun ini?

Qurban adalah satu kegiatan mandiri yang dilaksanakan oleh individu. Jika zakat ada peran negara dalam penghimpunannya, maka qurban tidak diatur oleh “daulah” atau negara.

Meskipun demikian,  ada 2 hal yang harus diperhatikan, yaitu  (1) Amanat qurban harus dilaksanakan dengan sah, karena  merupakan ibadah ritual.  (2) Karena ada penyerahan amanat, sunnah dalam pelaksanaan sebaiknya dimunculkan.

Sunnah tersebut adalah keabsahan dalam pelaksanaan, serta faktor pemberdayaan hewan qurban.

Dalam sebuah hadits riwayat Tirmizi, tiada satu amalpun yang dilakukan anak manusia pada hari qurban yang dicintai Allah, kecuali qurban.  Hal ini menunjukkan betapa besarnya nilai ibadah qurban yang dilakukan oleh anak manusia qurban.

Esensi dari qurban adalah penyembelihan hewan qurban, bahkan dalam haditspun disebutkan demikian.  Bahwa tanduk, tulang, bulu bahkan darah sebelum menetes ke bumi akan diterima oleh Allah dan membersihkan orang yang berqurban.

Dalam konteks islam, penyembelihan qurban dibagi menjadi dua hal yang harus diperhatikan :

  1. penyembelihan qurban agar hewan halal menjadi halal di konsumsi serta memenuhi syarat kehalalalan. Syarat kehalalalan ada dua, yaitu disembelih oleh muslim dan disebutkan lafal Allah saat menyembelih qurban.
  1. Qurban sebagai sembelihan ibadah, yaitu bukti kepatuhan kepada Allah implimentasi ketaqwaan dan tauhidullah.

Pelaksanaan qurban, merupakan salah satu ritual tertua dalam ibadah, karena merupakan persembahan. Dalam islam, ibadah ritual ada 3 yaitu Qurban, Aqiqah dan Dam. Sehingga, selain 3 ibadah tersebut, maka sembelihan tersebut bukan merupakan ibadah ritual sebagai persembahan kepada Allah.

Karena itu pula, dalam pelaksanaan qurban perlu pula diperhatikan 4 aspek pelaksanaan yaitu aspek dimensi ritual, aspek dimensi syiar, aspek dimensi sosial dan aspek dimensi dakwah qurban

Aspek dimensi ritual, yaitu syarat sah nya hewan qurban, jenis hewan, (unta, sapi/kerbau dan kambing/domba), usia cukup, sehat dan tidak cacat, serta batas pengadaan hewan qurban.

Yang dimaksud batas pengadaan adalah jumlah org yang dapat berqurban untuk satu ekor hewan qurban. Kambing hanya bisa qurban oleh satu orang, sedangkan sapi dan unta, maksimal 7 orang (boleh kurang).

Hal ini dikarenakan di masyarakat, masih ada pemahaman bahwa boleh qurban secara beramai-ramai pada satu jenis hewan qurban. Misalnya 1 kambing oleh 10 orang atau lebih, padahal mereka mampu berqurban 1 kambing/orang untuk  qurban.

Bisa jadi hal ini karena kurang pahamnya terhadap syariat qurban. Sehingga jika 1 kambing menjadi qurban beramai-ramai, maka bukan menjadi qurban, namun hanya sebagai sedekah

Syarat sah yang lain adalah qurban dapat dilaksanakan setelah shalat Ied sampai saat terakhir hari taysrikh (hari ke-3 setelah Idul Adha)

Dalam berqurban,  Jenjang terbaik pengqurban adalah :

  1. Satu orang yang berkorban 1 ekor unta/lebih.
  2. Satu orang yang berqurban 1 ekor sapi/lebih
  3. Satu orang yang berqurban 1 ekor kambing/lebih.
  4. Tujuh orang yang berqurban 1 unta
  5. Tujuh orang yang berqurban 1 sapi

Perlu diperhatikan bahwa esensi dari qurban adalah pelaksanaan penyembelihan. Bukan pada nilai harga hewan qurban.

Sunnahnya qurban, lebih utama orang yang menyembelih adalah orang yang berqurban. Kecuali memang tidak mampu, maka dapat di wakilkan.Dan jika diwakilkan, maka sunnahnya orang berqurban melihat penyembelihan hewan qurban.

Namun jika tidak menyembelih dan melihat, maka sunnah ketiganya adalah menikmati hewan qurbannya tersebut  qurban.

Ketika 3 sunnah tadi tidak terlaksana, maka aspek syiar, sosial dan dakwah qurban dapat menjadi pengganti dari sunah tersebut.

Aspek syiar yg dimaksud adalah pemanfaatan hewan qurban dapat disebar ke masyarakat yang memang membutuhkan qurban. Dengan demikian, hewan qurban menjadi bermanfaat dan menjadi kebaikan bagi semua pihak qurban.

Demikian juga aspek sosial dan dakwah, kemerataan distribusi hewan qurban dapat menjadi manfaat bagi semua, serta menjadi nilai dakwah Islam akan pelaksanaan pemotongan hewan qurban.

Insya Allah demikian, semoga bermanfaat untuk menyambut hari raya  qurban. Wallahua’lambishshawwab.