irfan-junaidi1Hukum Sinergi Media dan Lembaga Amil Zakat

Irfan Junaidi

Pemimpin Redaksi Republika

 

Hubungan mesra pengembangan zakat dan peran media sulit dipisahkan dari kisah Republika dan proses kelahiran dari sebuah Lembaga Amil Zakat (LAZ). Dari proses pemikiran yang sederhana, Republika mendorong kelahiran LAZ tersebut melalui kumpulan ‘amplop’ wartawan yang tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan individu.

Dana yang terhimpun dari kumpulan ‘amplop’ tersebut awalnya dimanfaatkan untuk menyantuni karyawan rendahan yang memerlukan santunan saat ada anggota keluarganya sakit atau untuk keperluan darurat lainnya. Fungsi tersebut kemudian diluaskan untuk menyantuni masyarakat non-karyawan dan penghimpunan dananya diluaskan dengan menyasar masyarakat umum.

Hasil penghimpunan dana dan pemakaiannya kemudian dilaporkan di koran Republika kepada masyarakat. Pelaporan yang transparan melalui media kemudian mendorong penghimpunan dana yang lebih luas. Dari sinilah kemudian LAZ yang dikenal dengam nama Dompet Dhuafa dikelola dan terus tumbuh.

Peristiwa ini kemudian pada perkembangannya menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membangun berbagai lembaga amil zakat. Masing-masing lembaga memiliki fokus kegiatan yang satu sama lain saling mendukung. Keberagaman program yang dijalankan para pengelola zakat, infaq, dan sedekah ini kemudian juga mendorong pemerintah untuk mendirikan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Kisah tersebut diungkapkan di sini bukan untuk menonjolkan peran Dompet Dhuafa dan meminimalkan lembaga zakat lainnya dalam berkiprah di masyarakat. Semua lembaga zakat yang saat ini hadir di masyarakat telah memiliki peran yang sangat besar dalam menumbuhkan iklim zakat secara nasional.

Selain Dompet Dhuafa saat ini kita telah menyaksikan tumbuhnya lembaga seperti Rumah Zakat, ACT, Rumah Yatim, BMH, LMI, PPA Daarul Quran, LazisNu, LazizMu, dan banyak yang lain lagi yang sangat sangat panjang daftarnya jika harus disebutkan semua. Bertumbuhannya lembaga-lembaga tersebut menjadikan dana masyarakat yang dihimpun sebagai zakat, infaq, maupun sedekah dikelola secara lebih profesional.

Bagi Republika, zakat telah menjadi agenda penting yang terus didorong agar menjadi kesadaran nasional. Berbagai hasil riset mengenai zakat yang dijalankan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB misalnya, banyak ditampilkan dalam rubrik Iqtishodia yang terbit dua halaman tiap bulan satu kali. Selain itu, isu-isu penting perkembangan dunia zakat juga kerap menjadi headline di wajah Republika.

Program penyiaran zakat juga mulai dijalankan di televisi. Ada program yang dijalankan sebagai konten murni, ada pula yang dijalankan oleh televisi sebagai konten bersponsor. Karena itu sangat diperlukan gerakan penyadaran di kalangan media untuk mengagendakan isu-isu zakat sebagai hal strategis dalam pemberdayaan masyarakat.

Media memiliki kedudukan yang sangat kuat dalam membentuk kesadaran di masyarakat. Selain media massa, saat ini media sosial juga telah memainkan peran penting tersebut. Masing-masing media ini memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menumbuhkan semangat zakat di masyarakat.

Jika dibuatkan peta dalam struktur zakat nasional, media bisa diberikan peran untuk mendorong masyarakat maupun lembaga pemerintah agar lebih maksimal dalam memberdayakan potensi zakat. Melalui pemberitaan, media massa bisa menyampaikan realitas bahwa potensi zakat yang amat besar ini akan sangat bermanfaat jika digali untuk kepentingan masyarakat luas.

Kampanye-kampanye pemanfaatan dana zakat yang terbukti nyata telah membuat lapisan masyarakat lemah menjadi lebih berdaya perlu sekali didesain dengan melibatkan media. Penyampaian kampanye positif ini akan mendorong kesadaran luas soal pentingnya menunaikan zakat dan pola berbagi kebaikan lainnya.

Sinergi media dengan lembaga zakat menjadi sebuah kewajiban lain yang harus ditunaikan. Hukum wajibnya setara dengan kewajiban untuk menunaikan zakat. Tanpa sinergi yang baik, pemanfaatan potensi zakat yang sangat besar tidak akan berjalan baik. Gerakan penyadaran akan menemukan kekuatannya jika didorong oleh lembaga-lembaga zakat melalui media.

Hukum dasar dari sinergi adalah saling menguatkan. Dalam konteks hubungan media dalam lembaga zakat, sinergi keduanya juga harus saling menguatkan. Media dengan kekuatan yang dimilikinya harus memberdayakan lembaga zakat melalui kampanye yang efektif menyadarkan masyarakat maupun elemen lain dalam dunia zakat. Sebaliknya, lembaga-lembaga zakat juga perlu mendorong supaya media yang menjadi partner sinerginya juga semakin kuat dalam menancapkan pengaruh di masyarakat.

Tentu saja, sinergi ini bisa berjalan jika pihak media dan lembaga zakat memiliki kesamaan visi. Pemetaan visi media yang berkomitmen dalam pengembangan agenda zakat ini pun kemudian menjadi prasyarat yang harus dipenuhi. Proses pemetaan bisa dilakukan dengan memonitor sepak terjang media yang bersangkutan dalam mengagendakan isu pengembangan zakat.

Penguatan sinergi media dan lembaga zakat yang dijalankan dengan baik akan menjadi momentum penting bagi kebangkitan zakat nasional. Kebangkitan ini memberi makna yang sangat penting bagi penguatan umat.