Pahlawan Islam

 

Dikisahkan bahwa Raja Harun Al-Rasyid adalah seorang yang kaya raya dan sangat dermawan. Pada masa kepemimpinannya tahun 786 sampai 809 Masehi, wilayah kekuasaan kerajaan Islam membentang mulai wilayah Afrika Utara sampai India. Luas sekali. Rakyatnya pun makmur dan sejahtera. Seluruh penduduknya taat berzakat, gemar berinfak dan sedekah. Sampai-sampai petugas maal kesulitan mencari keluarga yang membutuhkan bantuan keuangan karena kesejahteraan rakyat saat itu merata.

Harun Al-Rasyid memiliki kebiasaan berjalan menyusuri lorong-lorong permukiman penduduk pada malam hari sambil mendermakan 1.000 dirham untuk rakyatnya. Meskipun kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi, tetapi beliau ingin meyaksikan sendiri bagaimana kondisi rakyatnya. Raja Harun ingin memastikan rakyatnya sejahtera, terdidik, dan bahagia. Waktu malam dipilih karena tidak ingin dikenali wajahnya oleh penduduk. Selain itu, beliau juga ingin memastikan bahwa tidak ada kejahatan di negerinya pada malam hari.

Raja yang merupakan keturunan dari Paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muthalib ini menaruh perhatian lebih pada ilmuwan dan budayawan, sehingga ilmu pengetahuan dan kesusastraan berkembang pesat di bawah kepemimpinannya. Pada masa pemerintahannya dibangunlah Kuttab, sekolah dasar keagamaan untuk kanak-kanak. Demi memberi pendidikan terbaik bagi rakyatnya, dibangun pula Baitul Hikmah, pusat keilmuan paling modern di dunia waktu itu.

Saat itu Raja Harun membentuk dewan penerjemah untuk mengalihbahasakan buku-buku asing di seluruh dunia ke dalam bahasa Arab. Buku-buku tersebut dikaji dan menjadi bahan musyawarah di Baitul Hikmah. Dewan yang terdiri dari ulama, ilmuwan, dan ahli bahasa ini diketuai oleh Yuhana bin Musawih dari Jundishapur, Iran. Beliau sangat memuliakan ulama. Apabila beliau menunaikan haji, maka akan mengajak 100 ulama serta istri dan anak-anak mereka. Jika tidak berhaji, maka beliau menghajikan 300 orang.

Raja kelima dari Dinasti Abbasiyah ini menata ulang perekonomian negerinya. Beliau menyusun aturan perpajakan yang adil bagi rakyatnya, membuat standard mata uang, membangun saluran irigasi di Asia tengah dan daerah gurun di Suriah agar hasil pertanian peningkat, membuat kanal yang menghubungkan Sungai Nil ke terusan Zues agar jalur perdagangan Afrika ke Asia menjadi mudah, dan untuk memperlancar komunikasi maka di masa ini bahasa Arab ditentukan sebagai bahasa resmi. Kejayaan tersebut menjadikan Bagdad bak negeri 1.001 malam yang memancarkan gemerlapnya ke seantero dunia.

Harun Al-Rasyid dikenal sebagai “Raja diraja” dan dunia menyebutnya King of King karena kemahirannya memimpin negeri yang besar dan makmur. Beliau mulai memimpin negeri di usianya yang ke-23 tahun. Raja Harun lahir di Rayy, Iran pada tahun 766 meninggal pada usia 46 tahun di Thus, Khurasan. Kepergiannya membuat seluruh rakyat kehilangan pemimpin yang sangat dicintai dan dikagumi.