Oleh: Ustaz Achmad Syukron

Konsultan Pernikahan

 

Siapkah orang tua Anda memiliki anak menantu?

Jika belum siap, sebaiknya tidak perlu dipaksakan. Sebab pernikahan bukan hanya menjadi urusan dua orang saja, tetapi keluarga besar. Jika sudah, maka selanjutnya pastikan ilmu dalam proses membangun rumah tangga sudah tergenapi, sebab dalam berkeluarga Anda tidak akan menemukan ‘buku manual’. Namun, apabila diri dan keluarga sudah disiapkan, Insya Allah tidak akan kebingungan dalam mencari pedoman.

Empat hal yang perlu Anda persiapkan:

  1. Mental

Pada pembahasan sebelumnya telah kita uraikan seputar persiapan mental. Pastikan niat dalam menyegerakan menikah bukan selalu tentang bayangan yang indah-indah, tetapi juga kompleksitas dalam membangun kepercayaan dan kesiapan menghadapi berbagai macam persoalan bersama-sama.

 

  1. Keilmuan

Ilmu yang dipelajari dalam berumah tangga bukan hanya tentang fikihnya, tetapi juga akhlak. Misalkan, dalam Surat An-Nisa ayat 34 menyebutkan, “perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka dan tinggalkanlah mereka di tempat-tempat pembaringan serta pukullah mereka. Lalu, jika mereka telah menaati kamu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” Ayat tersebut jika tidak dipahami dengan baik akan menjadi dalih pembenaran dalam menyakiti istri. Tetapi, seorang suami dengan akhlak yang mulia tentu tidak akan semena-mena membuat istrinya menderita, bahkan tega membiarkannya menitikkan air mata – sekalipun istri tersebut bersalah.

 

  1. Keterampilan

Berumah tangga berarti bekerja sama, berdua, lengkap dengan pembagian peran masing-masing. Jika melamar pekerjaan saja diperlukan keterampilan khusus, apalagi dalam kehidupan setelah pernikahan. Perempuan tidak bisa memasak pada awalnya bukan masalah utama, sebab ini bisa diasah. Apalagi jika ternyata sang suami lebih jago memasak. Begitu pula laki-laki yang belum memiliki keterampilan dalam memperbaiki perabot rumah yang rusak, bukan masalah utama, karena ini juga bisa dilatih. Persoalan sehari-hari di sekitar rumah membutuhkan kerja sama satu sama lain untuk diselesaikan. Jadi sejauh ini, keterampilan apa yang Anda punya dalam menyiapkan hidup berumah tangga?

 

  1. Finansial

Keuangan menjadi salah satu alasan terbesar mengapa seseorang menunda pernikahan. Jika Anda laki-laki dan belum siap bekerja lebih keras untuk menafkahi istri – sekalipun istri sudah punya penghasilan sendiri – itu artinya Anda belum siap menikah. Bertanggung jawab secara finansial menjadi kewajiban Anda, apalagi tanggung jawab ini akan berkelanjutan setelah kelak akan hadir anak-anak. Jika Anda adalah perempuan yang punya penghasilan sendiri, bersediakah jika nanti harus berbagi? – Meskipun seorang istri secara fikih dinafkahi oleh suami. Namun, persiapan finansial bukan berarti harus menunggu kaya raya baru memutuskan menikah.

Jika persiapan ini selesai, maka diskusikan terkait adat pernikahan dari kedua belah pihak. Bagaimana kedua keluarga menyikapi aturan yang tidak disyariatkan tapi menjadi kesepakatan dalam masyarakat? Bagaimana jika aturan-aturan tersebut justru memberatkan, seperti uang sinamot yang harus diserahkan pihak laki-laki untuk calon pengantin perempuan dari Suku Batak? Atau, bagaimana soal uang jemputan yang harus diserahkan pihak perempuan kepada keluarga laki-laki dalam adat di Pariaman, Sumatera Barat?

Salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud berbunyi,

أَيْسَرُهُ النِّكَاحِ خَيْرُ

“Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.”

Kendati Khadijah adalah saudagar kaya, namun Rasulullah menyerahkan mahar terbaiknya yaitu 20 ekor unta dan 12 uqiyah emas. Jika dihitung saat ini, maka nilainya mencapai 300 juta rupiah. Pihak perempuan sebaiknya mempermudah urusan mahar, sementara laki-laki mengupayakan untuk memberi sebaik yang disanggupi.