Ayo berwakaf,
bukan menjadi waqof


Islam menyediakan perangkat ekonomi yang sangat ramah  dan dapat diakses seluruh lapisan ekonomi. Hal tersebut adalah solusi bagi kondisi modern dimana perekonomian global didominasi oleh permainan barat dan berbasis riba. Bank sebagai institusi keuangan menjadi elitis yang tidak membantu masyarakat lemah.

Sementara seiring perkembangan umat Islam di Indonesia, perspektif terkait wakaf masih terkungkung dalam budaya 3M: Masjid, Makam, dan Madrasah, dimana ketiganya cenderung cost centre. Padahal, wakaf seharusnya produktif, jika tidak produktif jadilah ia waqof. Mati.

Sudah saatnya umat Islam mengembalikan wakaf sebagai instrumen perekonomian yang sesungguhnya, sehingga tangan umat ini bisa senantiasa di atas, bukan di bawah. Itulah mengapa Allah berfrman “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS 2:261)

Perumpamaan tanaman itu produktif, zakat, infak dan wakaf kita pun seharusnya demikian. Mari kita giatkan gerakan wakaf produktif. Semoga Allah mencatatnya sebagai jariyah. Aamiin.

Klik untuk download gratis —> Ebook Majalah Laznas LMI Edisi Oktober 2020