Menyaring nilai-nilai kebaikan dalam film

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sobat Zakat, apakah Anda termasuk yang melarang anak menonton film?

Kabarnya, ada kurang lebih 70% bagian otak yang terstimulus bersamaan secara dinamis jika seseorang menonton film. Tontonan film yang baik akan menambah volume sambungan saraf otak secara masif, menjadikan kapasitas kognitif berkembang dan secara emosional juga terdidik. Sebaliknya, tontonan film yang buruk jika dihadirkan kepada anak-anak, yakni mereka dalam masa perkembangan, bisa merontokkan sambungan saraf otak pada bagian-bagian tertentu, menghambat pendewasaan, dan mengkerdilkan mental.

Film sebagai sarana pendidikan adalah peluang bagi kita umat Islam untuk memperbaiki keislaman, tidak hanya film yang secara terang terangan membicarakan Islam sebagai agama, namun juga film yang sarat dengan universal goodness, nilai nilai kebaikan manusia yang berlaku di mana saja tanpa memandang suku, ras, ataupun agama. Film yang mengangkat sikap watak dan perjuangan hidup terbaik dari umat manusia adalah film yang harus kita dukung.

Kita harus selektif dalam menyajikan tontonan bagi anak-anak, dimunculkan misi pendidikannya, pastikan ada momentum diskusi untuk meluruskan yang bengkok dari serpihan residu maksiat di suatu bagian film. Masa sekarang memang sulit mendapatkan film yang 100% steril untuk anak, sehingga tantangan kita adalah bagaimana anak anak itu imun, bagaimana agar kecerdasan emosional dan spiritual mereka mampu mengambil hanya yang terbaik bagi pendewasaan dirinya, dan mampu membersihkan diri dari pengaruh kebodohan dari suatu film. Wallahualam.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Klik untuk download gratis —> Ebook Majalah Laznas LMI Edisi Maret 2019