Cover Share Letter Juli 2017MERAJUT UKHUWAH, UNTUK INDONESIA

Satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan. Melatih diri untuk mengekang setiap hawa nafsu, memperbanyak ibadah dengan sholat malam, membaca Al-Qur’an, juga menghamba dan mendekatkan diri kepada Allah dengan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kemudian kita menutupnya dengan zakat untuk membersihkan dan mensucikan harta serta jiwa dari penyakit-penyakit hati. Zakat menjadikan kita peka, dipenuhi cinta dan peduli kepada sesama.
Semoga setiap amalan kebaikan yang kita lakukan selama ramadhan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala serta mampu menempa kita menjadi hamba yang lebih bertakwa.

Persatuan dan Kesatuan Indonesia
Kemerdekaan Indonesia  yang digelar pada tanggal 17 Agustus 1945, merupakan hari yang mulia. Karena bertepatan dengan hari jum’at, 9 Ramadhan tahun 1364 dalam penanggalan Hijriyah. Kemerdekaan melewati proses yang panjang, dikarenakan kondisi Nusantara sebagai kepulauan yang majemuk dengan 13.466 pulau yang terdiri dari 1.340 suku dengan sosio kultur yang berbeda.
Terdapat beberapa tahap utama pembinaan persatuan Bangsa Indonesia. Antara lain adalah pertama, perasaan senasib. Perasaan sama-sama ditindas serta dijajah oleh imperialisme barat sejak tahun 1511 oleh Imperialis Portugis, dan silih berganti oleh imperialis Spanyol, Ingris dan Belanda. Perasaan senasib dan keinginan untuk hidup merdeka tersebutlah yang menjadi sumber keinginan pribumi Nusantara untuk bersatu dan melawan penjajah.
Berdasar perasaan senasib tersebut, meletuslah beberapa perlawanan pribumi terhadap Imperialisme Barat. Tercatat sejak tahun 1821 hingga 1907 berderet perang perlawanan pribumi terhadap penjajah, ada Perlawanan (perang) Padri di Sumatera Barat, Perlawanan Diponegoro di Jawa Tengah, Perlawanan Lampung, Perlawanan Banjarmasin, dan Perlawanan Batak di Tapanuli.
Tahun 1900 sampai 1939 pun perlawanan terus berlanjut dari tokoh-tokoh pribumi dengan mendirikan organisasi-organisasi yang berperan menumbuhkan kesadaran nasionalisme untuk melawan penjajahan. Beberapa organisasi yang memicu persatuan dan kesadaran nasional adalah Djamiatoel Choir, Al Irsyad, Budi Oetomo, Sjarikat Dagang Islam, Persjarikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdlatoel Oelama, Nahdlatoel Wathan, dan Persatuan Islam. Tahap ini merupakan tahap kebangkitan kesadaran nasional, yaitu momentum yang setiap tahun kita peringati dengan Hari Kebangkitan Nasional.
Spirit persatuan tersebut, kemudian terwujud dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan terus di sempurnakan dengan tiga landasan hukum persatuan dan kesatuan bangsa. Landasan pertama dalah landasan idealnya yaitu Pancasila sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia”, landasan kedua adalah landasan konstitusional yaitu UUD 1945 dan ketiga adalah landasan operasional yaitu Ketetapan MPR No. IV tahun 1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

 

Klik untuk download gratis —> Ebook Majalah Laznas LMI Edisi Juni 2017