Accenture, salah satu lembaga konsultasi dan bisnis di Amerika pada tahun 2013 merilis hasil studinya yang menyebut bahwa karyawan yang bekerja di Indonesia paling tidak bahagia di dunia. Selain dikarenakan masalah personal, besar gaji dan tunjangan, kesediaan jenjang karir juga menjadi alasan tingkat kepuasaan yang rendah. Hanya sebesar 18% saja yang mengaku puas dengan kualitas kehidupan dan kebahagiaannya di tempat kerja.

Sementara itu tahun 2016 Global Leadership Study yang digagas Dale Carnegie memperlihatkan bahwa lebih dari 30 persen tenaga kerja di Indonesia akan mencari pekerjaan baru dalam waktu dekat. Cara kepemimpinan atasan langsung (immediate supervisor) menjadi faktor paling signifikan yang mempengaruhi tingkat kepuasan kerja dan seberapa besar keinginan seorang karyawan bertahan di sebuah perusahaan.

Apakah Anda juga bagian dari karyawan yang tidak merasa bahagia di lingkungan kerja?

Selain faktor internal dari tempat bekerja, persoalan lainnya adalah kegalauan terkait passion. Besarnya dorongan ingin keluar dari kantor karena merasa tidak sepenuhnya mencintai pekerjaan ini pun dihadapkan pada besaran tanggungan bulanan.

Hal ini dialami oleh Rosa, seorang manager penjualan salah satu pabrik tekstil nasional di Surabaya. Dia mengaku tidak memiliki kesulitan dalam menjalankan tugasnya, tapi justru itu yang membuatnya tidak bahagia. “Kantor saya nyaman, tapi rasanya pekerjaan saya tidak menarik lagi. Sayangnya, posisi saya saat ini lah yang dapat membiayai hidup saya dan ibu saya. Kalau saya keluar, apakah mungkin akan mendapatkan yang lebih baik?” akunya.

Rosa tidak sendiri. karena berdasarkan survei YouGov karyawan pada rentan usia akhir 20-an dan awal 30-an merasa tidak nyaman dengan ritme kerja yang mereka jalani. Sebagian dari mereka justru memberanikan diri berwirausaha.

Berbisnis di usia 30-an?

Mengapa tidak. Di usia 30 tahun seseorang dapat disebut cukup matang dan stabil untuk mengambil keputusan. Ditambah lagi pengalaman dan jejaring yang dimiliki selama bekerja di sebuah perusahaan. Maka, cukup kiranya ini menjadi sebuah modal awal.

Seperti halnya Odi Anindito, salah satu sosok pengusaha muda cemerlang yang berhasil melambungkan Coffee Toffee di level nasional. Lulusan Teknik Informatika ITS ini pun sudah bercita-cita menjadi seorang pebisnis sejak usia sekolah. Apakah sebelumnya dia tidak pernah menjadi karyawan?

Sebelum menggawangi Coffee Toffee hingga berkembang pesat seperti sekarang, Odi pun pernah bekerja sebagai barista di Australia. Dia belajar dari bawah, mengenal seluk beluk produk yang saat itu ditawarkannya kepada para pelanggan.

Baginya, jika ingin menjadi pebisnis pun, setidaknya memiliki pengetahuan dasar tentang produk yang ingin dijual. “Sekadar tahu saja itu sudah cukup jadi modal untuk memulai usaha, tidak harus menunggu sampai menjadi expert, karena bisa dipelajari sambil jalan atau tinggal serahkan pada orang di lapangan,tuturnya. Pengalaman ini lah yang kemudian membuatnya yakin untuk memulai usaha di bidang kedai kopi pada tahun 2006 dengan modal sendiri sejumlah lima juta rupiah.

Meminimalisasi kerugian

Jika selama ini orang awam berpikir bahwa hal pertama yang diperlukan dalam memulai bisnis adalah modal uang, maka persangkaan tersebut ditampik oleh Odi. Pengusaha yang sudah menjajal berbagai bidang usaha sebelum akhirnya berlabuh pada Coffee Toffee ini menyebutkan bahwa jejaring adalah modal utama.

“Manfaatkan waralaba, join bisnis, dan brand yang sedang membutuhkan ekspansi bisnisnya. Karena, di sana tidak membutuhkan banyak uang, tapi skill dan kepercayaan dalam berpartner.” papar Odi.

Ustaz Farid menyebutkan bahwa Islam pun mengatur adab kerja sama dalam bisnis seperti disebutkan oleh pengusaha yang logo kedainya pernah mendapat ultimatum starbucks dari Amerika Serikat tersebut. Ada 2 jenis akad:

  1. Akad musyarakah. Merupakan bentuk kerjasama antara kedua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak akan memberikan kontribusi dana atau biasa disebut expertise, dengan memiliki kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung oleh bersama.
  2. Akad mudharabah. Berupa kerja sama yang dilakukan oleh pemilik dana dengan pengelola dana. Kedua belah pihak ini membuat sebuah usaha yang keuntungannya akan dibagi dengan sistem bagi hasil yang telah banyak dikenal. Pembagian keuntungan ini dilakukan atas dasar kesepakatan antara pihak pemilik dana dengan pengelola satu usaha.

Ustaz Farid pun menambahkan bahwa sebaiknya hindari berutang untuk memulai usaha, apalagi menguras habis harta yang dipunya demi membangun bisnis baru. Masih ada bisnis yang dapat dimulai dari yang kecil tanpa modal, seperti menjadi reseller satu produk atau sektor jasa lain yang membutuhkan keahlian di bidang tertentu.

Bedakan Mimpi dan Fantasi

Banyak orang merasa dirinya tertarik dan merasa cocok menjalankan satu bidang usaha. Rupanya, di tengah perjalanan keyakinannya runtuh. Apa yang diyakini tidak lagi sama. “Duh, ini cobaan atau tanda saya tidak berjodoh dengan usaha ini?” Berbagai pertimbangan diputuskan demi segera menyudahi bisnisnya atau mencoba sekali lagi dengan segala risiko yang ada.

Odi memiliki tips untuk mengetahui kapan harus berhenti atau kapan melanjutkan perjuangan lebih semangat lagi. “Beri beberapa kriteria kapan menyebutnya sebagai mimpi dan kapan disebut fantasi,” ungkapnya. Pria 38 ini lebih lanjut menyarakan untuk segera menyingkirkan hal-hal yang tidak dapat dihitung dan tidak dapat ditetapkan deadline dengan jelas. Maka, dari kalkulasi itu akan tampak kapan harus mencoba lebih keras lagi atau beralih ke usaha yang lain lagi.

Cerdik membaca peluang

Tren pasar selalu berubah. Sebut saja es kepal milo yang muncul secara bombastis menjelang bulan Ramadhan 2018 lalu. Banyak stand bermunculan menjajakan produk yang sama dengan harga bervariasi, mulai Rp10.000 sampai Rp50.000/cup pun ada. Dua hingga tiga bulan masih bertahan, namun kurang dari setengah tahun es kepal milo tidak lagi ditemukan. Nah, jika begini, bagaimana menentukan bisnis apa yang cocok untuk dijalani?

Ustaz Farid kembali mengingatkan bahwa Rasulullah menyebutkan bahwa sembilan dari sepuluh rezeki adalah dari perdagangan. Berdagang dapat berupa jual beli barang atupun jasa. “Simak dengan cermat, masalah apa yang ada di sekitar Anda lalu ‘jual’ solusi Anda,” paparnya. Ustaz yang juga berbisnis kerudung syar’i ini mencontohkan kecerdikan ojek online yang menjawab masalah macet dan kebutuhan manusia modern untuk berpindah tempat dalam waktu yang cepat. Terlebih lagi, mereka tahu bahwa masalah tersebut tidak akan selesai dalam kurun waktu yang relatif singkat. Sehingga, sangat kecil kemungkinan tawaran ojek ditolak masyarakat.

Mengikuti tren memang salah satu dari cara meraup untung dengan cepat, sebab pasarnya sudah diciptakan. Akan tetapi, perlu persiapan juga dia sewaktu-waktu berubah lagi. Biasanya, selain makanan dan minuman, fesyen pun termasuk sektor yang trennya kerap berubah-ubah. Jika begitu banyak peluang yang diciptakan oleh kondisi saat ini, mengapa harus menunda menahan pintu rezeki yang Allah beri?

Jangan lelah berinovasi

Seperti halnya roda yang bergerak, setiap yang pernah di atas akan mengalami masa berada di bawah. Begitu pun sebaliknya, saat berada di bawah maka tidak selamanya akan berada di kondisi yang sama jika ia tetap bergerak. Gerakannya pun pastikan tidak hanya ke bawah dan ke atas di tempat yang sama, tapi terus melaju jauh ke depan. Bisnis apapun, baik yang bergerak di bidang jasa maupun jual beli produk, pasti mengalami pasang surut. Pasar yang begitu dinamis memaksa para pelaku bisnis untuk semakin kreatif dan terus berinovasi agar tidak tergilas habis.

Perlu diingat bahwa hampir semua pebisnis tidak lepas dari kisah kegagalan. Odi sekali pun pernah merugi ratusan juta, Ustaz Farid pun pernah mengalami penurunan penjualan yang drastis. Namun, justru di situ lah letak perjuangan untuk terus maju, memotar otak dan mengasah feeling menentukan inovasi baru apa yang segera dibuat. Memutuskan terjun sebagai pebisnis berarti siap berjuang, belajar, dan bermain-main di ruang kelas yang luas.