Gegap gempita semangat berzakat kini makin menyebar luas. Jika dulu kita hanya mengenal dua jenis zakat, yaitu zakat fitrah yang dilaksanakan sebelum shalat Idul Fitri serta zakat maal yang merupakan zakat dari harta simpanan. Namun ternyata masih ada jenis zakat yang diwajibkan kepada insan beriman. Diantaranya adalah zakat perusahaan atau niaga, zakat pertanian dan juga zakat profesi atau penghasilan.

Namun ternyata, semangat berzakat dalam hal ini zakat profesi telah dilakukan oleh Muhammad Surthon, sejak awal dia bekerja, sebagai bagian dari ibadahnya kepada Allah.

Pria yang akrab di panggil Surthon ini mengatakan bahwa semangat berzakat itu dia dapatkan ketika masih menjadi mahasiswa, dirinya melaksanakan Kerja Praktek di daerah Indramayu. Di tempat prakteknya yang berupa tambang minyak ini dirinya menemukan suatu ironi.

“Daerah yang kaya. Namun justru warga sekitar tidak mendapatkan kemakmuran dari hasil eksplorasi minyak tersebut. Saya melihat banyak warga yang miskin atau bahkan tak memiliki pekerjaan yang mencukupi bagi kehidupan keluarganya. Disitulah saya bertekad, jika saya sudah lulus dan bekerja, maka saya harus berzakat agar masyarakat bisa merasakan manfaat dari harta yang saya dapatkan”, ujar Surthon memulai kisahnya.

Ini sejalan dengan pemahaman yang dia terima selama di perkuliahan. Sembari meraih gelar sarjana, Surthon juga ikut pengajian kampus. Disinilah, dirinya mengetahui sesungguhnya zakat itu adalah suatu kewajiban dan menjadi cara kita sebagai orang beriman untuk bersyukur atas apa yang telah diterima.

“Karena itulah, sejak gaji pertama saya terima, saya langsung sisihkan dan saya persiapkan untuk zakat saya di akhir tahun”, ujar alumni Teknik Fisika ITS ini.

Muzakki Surthon 2Pria asli Surabaya ini mengaku bahwa pertama kali mengeluarkan zakat penghasilan di masjid dekat rumahnya. “Karena takmir masjid tersebut salah satu dosen di kampus. Dan saat itu saya hanya beranggapan yang penting kewajiban zakat sudah selesai dan tak mempermasalahkan kemana zakat tersebut di salurkan”.

Hingga akhirnya Surthon berkenalan dengan LMI yang merupakan lembaga zakat. Mengelola zakat dan memberdayakannya ke lapisan masyarakat yang lebih luas. Dan ini ternyata sesuai dengan keinginannya, agar zakat lebih bermanfaat bagi orang banyak.

“Sejak saat itu saya kemudian mempercayakan kepada LMI untuk menyalurkan zakat saya kepada yang berhak dan harapannya tentu bermanfaat secara lebih luas,” ujar ayah 2 anak ini.

Ada dua cara mengeluarkan zakat penghasilan atau zakat profesi. Menurut Yusuf Qaradhawi dalam kitab Fiqih Zakat nya,  cara pertama menghitung zakat penghasilan dengan menghitung penghasilan kotor selama satu bulan kemudian langsung di keluarkan 2,5% dari penghasilan sebagai zakat. Atau cara kedua dengan membayar zakat di akhir tahun, dengan menghitung jumlah penghasilan di kurangi kebutuhan rumah tangga. Tentunya dengan catatan bahwa penghasilan tersebut telah memenuhi nishab berupa 653 kg beras atau 85 gram emas.

Dalam hal ini, Surthon memilih mengeluarkan zakat di akhir tahun dengan menghitung penghasilan setiap bulannya dikurangi pengeluaran hidup keluarga.

“Hal ini saya lakukan karena meski bekerja sebagai karyawan, namun penghasilan saya bisa fluktuatif mengikuti aktifitas pekerjaan yang dilakukan”, tutur pria 40 tahun ini.

Menjadi pelaku zakat, Surthon juga memiliki harapan agar lembaga zakat dapat lebih bermanfaat, terutama kepada anak-anak yang berasal dari golongan kurang mampu. Menurut Surthon, ketika pendidikan ini menjadi baik maka ekonomi pun juga akan terangkat.

“Ketika anak-anak ini maju pendidikannya, maka mereka yang awalnya merupakan penerima manfaat setelah sukses maka mereka bisa berbagi kepada mereka yang kurang mampu. Sebab mereka juga berasal dari penerima manfaat sebelumnya. Artinya ada kesinambungan dan edukasi antar generasi, untuk peduli pada sekitarnya”, ujar suami dari Hani’ah ini.

Dan yang lebih penting adalah mengajak masyarakat yang belum sadar zakat untuk ikut berzakat, khususnya zakat profesi. “Ada banyak orang yang suka belanja atau jalan-jalan ke luar negeri. Artinya mereka jelas educated, terpelajar. Tapi sayangnya, banyak diantara mereka yang ketika ditanya zakat justru menghindar. Ini menjadi tantangan bagi lembaga amil zakat,” tutur Surthon.

Sebab mengeluarkan zakat ternyata memang cukup berat. Itu pula yang sempat dirasakan Surthon.  “Tapi karena memang sudah niat diawal ingin berbagi, saya tekadkan untuk tetap berzakat”.

“Dan mungkin karena berkah zakat, ketika saya ditugaskan mengerjakan pekerjaan kantor sering mendapatkan berbagai kemudahan. Dari situ saya yakin, inilah berkah zakat,” pungkas Surthon. [af]

 

*Muhammad Surthon

Pressure Part Manager PT. Alstom Power Energy System Indonesia