Rubrik Mustahik Berdaya

 

Rasa syukur serta decak kagum penuh bangga tidak henti-hentinya disematkan kepada salah satu murid SMP Ibnu Batutah, Adinda Hernasari. Perempuan 14 tahun ini berhasil menyabet juara satu lomba pidato anti korupsi tingkat Madiun. Prestasi itu pula yang membawanya beradu kemampuan berpidato dengan siswa lain di tingkat provinsi tanggal 9 Desember 2018 lalu di Surabaya. Walau akhirnya pulang tanpa mengantongi gelar juara, tapi Adinda tetap istimewa. Sebab, ada satu hal yang membedakannya dengan peserta lain, bahwa dia adalah seorang penghafal alquran.

Adinda bukan lah anak dari keluarga berada. Selama ini dia diasuh oleh neneknya, karena kedua orang tuanya sudah tiada sejak dia masih kecil. Tapi, menjadi seorang yatim piatu tidak membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini dirundung kesedihan. Justru, karena ingin menghadiahi hal terindah dari seisi langit dan bumi untuk ayah ibunya, maka di usia belia Adinda bertekad kuat menjadi seorang hafizah.

“Saya ingin orang tua saya nanti mendapatkan mahkota dan jubah kebesaran di akhirat. Insya Allah ini cara saya berbakti kepada bapak ibu saya,” ungkapnya penuh keyakinan. Tujuan itu pula yang membuat Adinda selalu mendapatkan kembali semangatnya setiap kali rasa malas dan lelah melanda. Dia sadar, sebagai seorang pelajar yang juga sedang menghafal alquran, maka dia pun dituntut jauh lebih rajin dan disiplin dalam membagi waktu dibanding teman-teman lain seusianya.

Ketertarikannya menghafal alquran berawal dari mendengar penjelasan dari guru di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI). Saat itu sang guru menerangkan bahwa Allah akan memberi syafaat kepada anggota keluarga hamba-Nya yang menghafal alquran, memuliakan kalam-Nya, dan mempraktikannya dalam kehidupan. Adinda pun yakin bahwa ilmu alquran yang dipelajarinya saat ini akan membantu bagaimana dia harus menjalani hidup di dunia dan keberkahan alquran pula yang akan menolongnya kelak di akhirat.

Setiap hari Adinda mengatur waktu sedemikian rupa untuk belajar pelajaran sekolah, menambah hafalan alquran, juga membantu pekerjaan rumah. Ritme tersebut tidak banyak berubah saat penerima beasiswa LMI ini didapuk sebagai wakil dari SMP Ibnu Batutah untuk mewakili sekolah di ajang lomba pidato anti korupsi. “Sejak awal saya menangkap potensi Adinda dalam seni menyampaikan gagasan”, ungkap Pancasilawan Prio Hutomo, S.E selaku guru pembina.

Selain memiliki kemampuan menghafal yang baik, guru pembina tersebut melihat kelebihan lain diri Adinda. “Dia punya kemampuannya dalam beretorika, suaranya yang khas, dan tidak kalah penting lagi adalah semangat juangnya yang tinggi,” tutur Pancasilawan. Tiga hal tersebut menjadi modal penting bagi Adinda untuk mengikuti lomba pidato yang saat itu akan dilombakan di tingkat Madiun.

Siswa kelahiran 2004 ini sadar tugasnya bertambah, maka sedini mungkin dia mempersiapkan semuanya. Sebab, meskipun harus mengikuiti latihan untuk persiapan lomba, dia juga tetap berkewajiban menambah dan menyetor hafalan yang sudah ditargetkan setiap hari.

Tema pidato yang dibawakan adalah ‘Generasi Muda Berperan dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia’. Sejak pertama berkomitmen untuk mengikuti ajang ini, artinya setiap hari dia harus rela memangkas waktu istirahatnya untuk berlatih, mengatur ulang jadwal rutinnya, dan bekerja lebih keras lagi untuk mendapat hasil terbaik. Di awal tentu terasa berat, namun setelah dua atau tiga kali Adinda sudah mulai terbiasa dengan ritme barunya.

Ada beberapa aspek yang dipelajarinya selama latihan pidato, yaitu retorika, intonasi, dan artikulasi. Selain itu, siswa yang bercita-cita sebagai da’iah ini juga harus mengatur tempo dengan tepat agar pesan yang disampaikannya dapat didengar dengan baik oleh audience. Latihan demi latihan membuatnya tampak semakin baik dalam membawakan isi pidato, sehingga tanpa sadar hal ini meningkatkan kepercayaan  dirinya.

Usahanya pun berbuah manis. Siang itu juara lomba pidato anti korupsi 2018 tingkat Madiun berhasil disabetnya. Sorak sorai dari seluruh peserta tertuju kepada siswa kelas 8 tersebut. Sosok Adinda Hernasari tampil sebagai bukti bahwa penghafal alquran dapat berprestasi di bidang lain yang bahkan mungkin tidak berkaitan langsung dengan alquran.

Adinda berharap bahwa apa yang dicapainya saat ini dapat menjadi sarana dakwah, baik bagi anak muda maupun orang dewasa . “Korupsi adalah perbuatan yang dibenci Allah, semoga dengan amanah sebagai juara pidato ini dapat menjadi pengingat saya dan teman-teman agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah,” pungkasnya.